<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588</id><updated>2012-01-30T23:57:03.984+07:00</updated><category term='otobiografi'/><category term='Capres'/><category term='pemilu'/><category term='lebih'/><category term='Laporan Perjalanan'/><category term='Profil'/><category term='tahun'/><category term='harus'/><category term='dari'/><category term='In  Memoriam'/><category term='Kisah Hidup'/><category term='Orbituari'/><category term='Pilpres'/><category term='pasangan'/><category term='kalah'/><category term='Artikel'/><category term='bangsa'/><category term='website'/><category term='Perempuan'/><category term='sosialita dan komunikasi'/><category term='yang'/><category term='Jalan-jalan'/><category term='Profil dan Biografi'/><category term='anda'/><category term='kisah hidup bola pele indonesia sumut medan pardedetex kamaruddin'/><category term='response'/><category term='belajar'/><category term='menulis'/><category term='mendaftar'/><category term='hak'/><category term='ini'/><category term='depan'/><category term='Obama'/><category term='mereka'/><category term='uang'/><category term='In Memoriam'/><category term='Pengalaman Pribadi'/><category term='akan'/><title type='text'>BIOGRAFI : Menulis Fakta Memberi Makna</title><subtitle type='html'>This Blog contains stories of my experiences in writing profiles, biographies, traveling around Sumatra, and my private life reflections. "Do to others whatever you would like them to do to you. This is the essence of all that is taught in the law and the prophets". Mat, 7:12. Updated September 2010. No one is permitted to publish the content of this blog to others for commercial purpose.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>172</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-8166952173762570026</id><published>2012-01-30T23:54:00.002+07:00</published><updated>2012-01-30T23:57:04.000+07:00</updated><title type='text'>Pengisah Cerita (Story Teller): ”Selalu Ada Ruang Untuk Sebuah Cerita”(Jurnal Medan, 30 Januari 2012)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Oleh: Jannerson Girsang &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;J.K. Rowling, penulis novel terkenal Harry Potter mengatakan: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“There's always room for a story that can transport people to another place.&lt;/i&gt; Selalu ada ruang untuk sebuah kisah yang mampu membawa orang (pembaca) ke tempat lain”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Manusia membutuhkan cerita menginspirasi yang berisi pengalaman manusia dari lokasi lain. Masyarakat Indonesia membaca Harry Potter, cerita yang ditulis JK Rowling dan jutaan juta manusia di dunia ini terbius oleh pemikiran yang kreatif, mencerahkan, mulai dari anak-anak remaja hingga professor. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berceritalah tentang hal-hal yang membuat orang lain merasa nyaman dan tenteram, tidak membuat mereka ketakutan atau khawatir. &lt;span lang="FI"&gt;Beberapa referensi mengatakan cerita-cerita inspirasional adalah kisah-kisah tentang harapan, janji dan dorongan. Mereka membangkitkan emosi dalam diri pembaca, membangun hubungan antara pembaca dan penulis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Dari mana sumber ceritanya dan mengapa kisah baru selalu muncul?.&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt; &lt;/b&gt;Ternyata, bumi &amp;nbsp;dan segala isinya (baik yang hidup dan yang mati) hasil ciptaan Tuhan, bersifat dinamis. Manusia dan mahluk hidup yang beraktivitas, benda bergerak dari satu tempat ke tempat lain, perputaran bumi dengan segala dampaknya, menghasilkan kisah-kisah baru, mulai dari yang biasa-biasa saja, sampai kisah yang mengerikan. Kisah yang satu sama lain mengilhami tindakan manusia menghadapi kesulitan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Peran Manusia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Hanya manusia yang mampu menangkap gerak yang dinamis itu, dan mengungkapkannya dalam bentuk cerita yang memberi rasa baru,inspirasi baru. Dengan cerita yang menginspirasi, orang-orang tergerak, terinspirasi untuk memperoleh keberanian, keteguhan hati, bertindak bijaksana, setelah membaca sebuah kisah atau cerita. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Peran para penulis cerita begitu besar mengubah duna ini. Penulis cerita Andrea Hirata-- laki-laki yang masa kecilnya dihabiskan di Pulau Beliton, Bangka menghipnotis jutaan pembaca Novel pertamanya Laskar Pelangi, mencuri pikiran para pembacanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Tetralogi Lasykar Pelangi, sebuah Kisah hidup Andrea Hirata yang ditulis apik dalam begitu menginpirasi, menguasai pikiran banyak orang--tidak saja di Indonesia, tetapi merambah hingga manca negara. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Dari pulau Beliton, Indonesia dan berbagai tempat di dunia manusia menghasilkan kisah yang mampu mengangkut jutaan orang ke sebuah dunia lain. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mereka hanyut dalam dunia yang belum pernah dialaminya, menimbulkan rasa dan inspirasi baru&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Baik Lasykar Pelangi maupun Harry Potter tidak hanya mendapat sambutan di negeri pengarangnya. tetapi juga manusia di luar negaranya. Andrea Hirata, sejak menerbitkan novel pertamanya Laskar Pelangi (2006), Andrea Hirata melejit bagai meteor. Karya-karyanya Tetralogi Laskar Pelangi dan Dwilogi Padang Bulan laku keras. Tiga bukunya Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, masing-masing dengan judul Rainbow Troops, Dreamer dan Edensor. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kita terpengaruh dengan cerita Supernova yang ditulis Dewi Lestari, Raditya Dika penulis Kambing Jantan, Ayat-ayat Cina buah karya Habiburrahman El Siraji, Djenar Maesa Ayu penulis Sang Monyet. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jutaan penduduk bangsa ini, tua muda, besar kecil, berpendidikan tinggi atau rendah begitu terinpirasi dengan kisah Harry Potter. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Barrack Obama dalam biografinya yang memukau: Dari Jakarta ke Gedung Putih, menjelaskan perjalanan hidupnya dengan kisah-kisah yang menginspirasi. Buku yang dibaca jutaan orang itu akhirnya memotivasi kelompok-kelompok minoritas. Tidak mungkin seorang minortas kulit hitam menjadi Presiden Amerika Serikat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bahan-bahan diolah dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga berhasil memukau pembaca seolah dirinya ikut dalam perjalaman hidup Obama. Dia berkisah tentang hal yang menginspirasi, bukan menyalahkan, menghasut atau merendahkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Para penulis besar di atas menghasilkan cerita yang mampu mengangkut pembacanya ke keadaan, lokasi, waktu yang digambarkan penulisnya. Terbawa ke suatu masa dan suatu tempat!. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kemampuan menulis cerita memang sangat dibutuhkan oleh setiap orang, Benarlah apa yang pernah dikatakan Harvard Business Review: ”&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;To involve people in a deepest level, you need stories.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;Melibatkan orang dari tingkat terendah, Anda membutuhkan kisah atau cerita”&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;b&gt;Mari menjadi Pencerita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mari mendidik diri sendiri menjadi pencerita (story teller) yang baik, sebab ”Anda memiliki kekuatan untuk membuat orang merasa baik tentang diri mereka sendiri dengan kata-kata yang Anda tulis. Anda dapat membuat orang tertawa dengan kecerdasan Anda santai dan memindahkan mereka untuk mengubah kehidupan mereka dengan cerita-cerita inspirasional Anda,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut tipis yang kami kutip dari http://www.ehow.com/how_2086018_write-inspire.html#ixzz1kH1GEUjy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berikan contoh-contoh pribadi. Gunakan cerita anekdot yang benar dan berhubungan dengan pembaca Anda. Orang menghubungkan ke cerita tentang orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Buatlah cerita masa lalu (nostalgia). Orang-orang suka mendengar saat yang baik dan hari-hari tua yang baik. Berbicara tentang masa lalu dengan cara yang positif membuat orang tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Buat gambar suasana, tempat, waktu, dengan kata-kata Anda. Cerita Anda harus jelas dan menggunakan semua indra Anda. Rasakan tulisan Anda dan beritahu pembaca apa yang Anda lihat, dengar dan rasakan. Pembaca akan larut dalam cerita Anda dan menjadi terinspirasi oleh kata-kata Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berbicaralah dari hati Anda. Jadilah bergairah tentang topik Anda. Orang-orang merasa terinspirasi oleh seseorang yang benar-benar mencintai apa yang mereka tulis. Merasa bergairah dan pembaca Anda juga akan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berbicara dengan pembaca layaknya seorang sahabat. Berhubunganlah dengan orang lain sehingga mereka merasa terhubung dengan ide-ide Anda. Gunakan anekdot pribadi untuk memvalidasi cerita. Buatlah cerita seperti becakap-cakap dan menghibur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tawarkan saran atau solusi untuk sebuah masalah. Masalah dengan mudah dapat berkaitan dengan kehidupan manusia. Membaca cerita yang ditulis oleh seorang penulis yang mengerti masalah dan menawarkan solusi bisa menginspirasi seseorang untuk mengambil tindakan positif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mulailah dengan judul besar dan baris pertama yang menarik perhatian. Buatlah cerita yang jelas dan terorganisir dalam tulisan Anda. Menangkap perhatian pembaca dan kehidupan nyata mereka ke dalam cerita Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari belajar menjadi pencerita yang baik. Semoga berhasil!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-8166952173762570026?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/8166952173762570026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=8166952173762570026&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/8166952173762570026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/8166952173762570026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2012/01/selalu-ada-ruang-untuk-sebuah-cerita.html' title='Pengisah Cerita (Story Teller): ”Selalu Ada Ruang Untuk Sebuah Cerita”(Jurnal Medan, 30 Januari 2012)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-7009545442852655874</id><published>2012-01-30T23:52:00.000+07:00</published><updated>2012-01-30T23:52:07.617+07:00</updated><title type='text'>Sarapan dengan Pora-pora di Silalahi (Batak Pos, 28 Januari 2012)</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;st1\:*{behavior:url(#ieooui) }&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size: 20.0pt; mso-ansi-language: IT;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8886436507105873588#_ftn1" name="_ftnref1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 20.0pt; mso-ansi-language: IT; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Pagi itu 22 Januari 2012, duduk di tepi pantai Silalahi, saya mengamati ikan-ikan di danau. ”Itu ikan Pora-pora,” ujar seorang teman. Bergerak lincah ke sana kemari,mencari sesuatu, tiba-tiba seorang teman yang lain melemparkan sisa umpan pancingnya. Ikan-ikan itu berlomba mengejarnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Pemandangan lain dari birunya danau, hijaunya sawah di perbukitan di belakang rumah-rumah penduduk, serta pemandangan baru bangunan PLTA PLN Renun berkapsitas 2 x 41 MW di sebelah Selatan Silalahi. . &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Dari referensi-referensi yang saya baca, ikan pora-pora hidup di air tawar dengan sisik berwarna putih dan ekor berwarna kuning. Panjangnya hanya antara 10-12 centimeter, lebih kecil dari ikan mujair, apalagi ikan mas atau lele—jenis ikan yang sebelumnya sangat populer di sana. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Perkembang biakan ikan pora-pora yang cepat telah mengisi seluruh pantai Danau Toba, dan memberi penduduk mata pencaharian baru, bisnis baru bagi pengumpul atau pengusaha di kota. Ikan ini juga menyumbang lemak dan kalsium yang tidak dimiliki jenis-jenis ikan lainnya. Peneliti menyebut, ikan ini memiliki kandungan lemak dan kalsium yang lebih tinggi dari ikan tawar atau laut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemprovsu 19 Januari lalu mengungkapkan bahwa ikan pora-pora akan dijadikan salah satu produk unggulan daerah ini. Tentunya, mewujudkan tekad itu dukungan semua masyarakat sangat dibutuhkan. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Sarapan dengan Ikan Pora-pora&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Bersama rombongan Sektor III Gereja GKPS Simalingkar yang berwisata ke Silalah&lt;/span&gt;i menikmati sarapan pagi dengan lauk ikan Pora-pora. Bagi sebagian besar rombongan yang tinggal di Medan itu ikan ini masih relatif baru. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ikan apa namanya ini pak,” ujar seorang anak yang mungkin baru pertama kali melihatnya. Setelah mencicipinya, ada bedanya dengan ikan mas, mujair maupun ikan lele—produksi Danau Toba yang kami sudah kenal. Bahkan beberapa orang tua juga masih kurang familiar dengan ikan ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pagi itu kami menikmati pora-pora basah yang dimasak dengan gulai asam. Rasanya memang cukup mengundang selera, apalagi ditambah aroma petai dan jengkol yang dibawa rombongan dari Medan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rasa baru ikan Pora-pora menambah suasana ceria rombongan di pagi hari yang cerah di tepi Danau yang jernih, sambil memandang lepas ke Tao Silalahi yang kesohor itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Ikan pora-pora punya kelebihan dari ikan yang lain. Ternyata, dari penelitian Ulfa Nazmi Batubara FKM USU Medan (2009), ikan pora-pora mengandung lemak dan kalsium yang lebih tinggi dari ikan tawar atau ikan laut manapun, meski kandungan proteinnya lebih rendah. &lt;/span&gt;Luar biasa bukan!. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Harganyapun relatif murah. Minggu itu di Silalahi hanya sekitar Rp 3000-4000 per kilogram atau kalau dikeringkan bisa dijual dengan harga Rp6.500 per kg. Bandingkan dengan ikan masa atau mujair yang Anda beli di pajak-pajak di Medan yang mencapai Rp 20 ribu lebih per kilonya.. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Mata Pencaharian Baru&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ikan pora-pora berkembang biak dengan cepat. Kini kita bisa menyaksikan ratusan kilometer bibir pantai Danau Toba, ikan pora-pora mendominasi ikan di danau itu.. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Harian Batak Pos pernah memberitakan bahwa ikan porapora dikenal setelah Megawati Soekarnoputri yang saat itu menjabat Presiden RI melakukan penaburan benih ikan di Danau Toba terkait dengan suatu kunjungan perhelatan di Parapat pada 6 Juni 2004 lalu. (&lt;a href="http://www.batakpos-online.com/"&gt;www.batakpos-online.com&lt;/a&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Para nelayan di Silalahi mengaku bahwa,orang pertama yang menabur benih ikan pora-pora di Danau Toba adalah Megawati Soekarnoputri, mantan Presiden Indonesia. “Katanya ikan ini ditebar oleh ibu Megawati,”ujar salah seorang nelayan di pantai Silalahi Minggu pagi, 22 Januari 2012. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ikan ini berkembang biak sangat cepat, dan kini menjadi habitat terbesar di Danau Toba. Dalam waktu beberapa tahun terakhir penduduk banyak menggantungkan hidupnya menangkap ikan pora-pora. Menangkap ikan pora-pora menjadi sebuah alternatif pencaharian penduduk di sekitar Danau Toba.. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Para nelayan menangkap ikan yang sejenis ikan bilih di Danau Singkarak, Sumatera Barat, dengan menggunakan jala. Seorang nelayan di Silalahi mengatakan dia bisa memperoleh 30-40 kilogram per hari. Uang hasil penjualannya bisa memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Para pengusaha telah memanfaatkan peluang ini dan menjadikannya sebagai sebuah usaha baru. Hasil tangkapan nelayan, tidak hanya di pasarkan di daerah tangkapan, tetapi juga keluar daerah. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Selain menjual ikan pora-pora yang masih segar, para nelayan di berbagai tempat juga menjadikan ikan pora-pora sebagai ikan asin. Dengan membuang seluruh isi perut, kemudian merendam dengan air garam, kemudian dijemur di bawah terik matahari. Memang harganya lebih mahal. Tapi, “Mengerjakannya juga cukup lama”ujar Silalahi nelayan di Tao Silalahi Nabolak itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Saat ini ikan pora-pora selain dipasarkan di Sumatera Utara juga sudah dikirim ke sejumlah daerah di luar Sumatera Utara. Seperti Padang, Batam, dan Pekan Baru, melalui jalur darat dan laut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Pengembangan Ikan Pora-pora&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Angin segar berhembus dari Deperindag Sumut. Dalam releasenya beberapa hari yang lalu. mediaonline milik Pemprovsu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sumutprov.go.id/lengkap.php?id=3671"&gt;http://www.sumutprov.go.id/lengkap.php?id=3671&lt;/a&gt;, &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;mengungkapkan bahwa saat ini produksi ikan pora-pora dari Sumatera Utara mencapai 40 ton per hari. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan pesat ikan tersebut, serta kemungkinan ketersediaannya dalam jumlah besar, membuat Pemerintah Provinsi Sumatera Utara ingin menjadikan Ikan Pora-Pora, ikan khas di Danau Toba, Parapat sebagai salah salah produk unggulan di provinsi itu di tujuh Kabupaten yang berada di sekitar danau. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menurut Kepala Bidang Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan Disperindag Sumut, Ida Yani Pane, seperti dikutip mediaonline milik Pemprovsu itu, untuk tahap awal, ikan itu direncanakan sudah digoreng terlebih dahulu dan dimasukkan dalam kemasan yang menarik dengan berbagai ukuran kecil hingga besar. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ke depan, lanjut Ida Yani, kalau masyarakatnya sudah bisa diandalkan untuk menyediakan ikan itu secara berkesinambungan dan serius menangani bisnis tersebut, pemerintah akan meningkatkan menjadi usaha industri yang lebih besar seperti halnya ikan sardencis dalam kaleng. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kini sebuah perusahaan di Medan telah memproduksi Cripsy Pora-pora. Barangkali bisa jadi sebuah icon baru dari Sumut. Menambah ikan teri atau ikan asin lainnya yang selama ini sangat digemari di Jawa dan daerah lainnya di seantero tanah air. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sarapan di Silalahi memberikan pemahaman baru kepada kami tentang ikan Pora-pora. Mungkin sarapan pagi di rumah Anda dengan ikan yang sama berarti memberi ruang yang lebih luas bagi nelayan, pengusaha kita. Memasyarakatkan ikan pora-pora,berarti mendukung penghasilan nelayan di sekitar Danau Toba. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Semoga usaha ini berhasil dan bisa sebagai alternatif memberi penghasilan baru yang ramah lingkungan. Mari kita dukung!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-7009545442852655874?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/7009545442852655874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=7009545442852655874&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/7009545442852655874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/7009545442852655874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2012/01/sarapan-dengan-pora-pora-di-silalahi.html' title='Sarapan dengan Pora-pora di Silalahi (Batak Pos, 28 Januari 2012)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-3810148102951968202</id><published>2012-01-30T23:50:00.000+07:00</published><updated>2012-01-30T23:50:19.883+07:00</updated><title type='text'>Mempersiapkan Masyarakat Berbudaya Membaca (Jurnal Medan, 24 Januari 2012)</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;st1\:*{behavior:url(#ieooui) }&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 20.0pt; mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8886436507105873588#_ftn1" name="_ftnref1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 20.0pt; mso-ansi-language: SV; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 20.0pt; mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Beberapa tahun belakangan ini, sedikitnya dua kali setahun kami mengikuti kegiatan-kegiatan yang berlangsung di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Baperasda) Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara. Seratusan peserta berkumpul, mereka terdiri dari unsur sekolah, masyarakat umum, para pemerhati perpustakaan, penulis, pengeloal perpustakaan yang berada dibawah binaan Baperasda, pengasuh Taman Bacaan.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Berbagai hal dibicarakan dalam mendukung program meningkatkan minat baca masyarakat yang memang masih rendah. Banyak pelajaran dan masukan untuk percepatan peningkatan minat baca masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Artikel ini mencoba mengangkat berbagai hal menarik dari pertemuan sebelum ini, sekaligus memberi apresiasi usaha-usaha sejenis yang dampaknya bagi masa depan para pelajar, masyarakat dalam meningkatkan apresiasi mereka pada peradaban. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Mempersiapkan Masyarakat Berbudaya Membaca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Meningkatkan minat baca, adalah sebuah usaha yang masih awal dari sebuah proses menuju menuju budaya baca masyarakat, sehingga mereka memiliki cara mendapatkan informasi dari sesuatu yang tertulis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Kebiasaan membaca membuat masyarakat terbiasa mengonsumsi informasi tertulis yang autentik dari pada hanya sekedar memdengar ataupun melihat. Membaca merupakan kegiatan yang mendidik masyarakat menyimak, mengeja, memahami dan memiliki minat serta akhirnya mampu mengaplikasikan bacaan itu sendiri. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Bagi masyarakat di negara maju, membaca sebagai kegiatan personal telah menjadi kebutuhan. Sayangnya bagi masyarakat kita di Sumatera Utara kebiasaan membaca masih jauh dari harapan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Perbedaan itu tergambar dalam sebuah pertemuan, Drs Chandra Silalahi, Sekretaris Perpustakaan dan Arsip Daerah Pemprovsu ke Eropa yang dikisahkannya dalam sebuah pertemuan di Baperasda Pemrovsu. ”Ketika menumpang naik kereta api dari Paris ke Den Haag, bebas asap rokok, sebagian besar orang asyik membaca buku atau asyik melakukan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;searching&lt;/i&gt; di internet memanfaatkan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;hotspot&lt;/i&gt; gratis melalui laptop mereka masing-masing. Terjadi ”charger” informasi.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kami sendiri merasa seolah terasing, karena berbeda dengan mereka. Tidak bawa bacaan apalagi peralatan seperti mereka. Saya lalu teringat ketika saya naik kereta api dari Medan ke Rantau Prapat. Asap rokok di dalam kereta api, perbincangan ngalor ngidul, tanpa buku. Kecuali beberapa membaca koran-koran daerah. Pemandangan berbeda, masyarakat yang minat bacanya tinggi dan masyarakat kita dengan minat baca yang masih rendah”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Membaca memiliki keuntungan khusus dibanding dengan penggunaan media lain. Bahan cetakan akan terus menjadi saluruan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang paling penting untuk pendidikan dan kemajuan kebudayaan manusia.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Keuntungan tersebut antara lain : 1) membaca adalah sebuah aktivitas pribadi yang dapat meningkatkan pengembangan individu, 2) suatu bahan bacaan dapat dibaca dan dibaca kembali hingga bahan yag dikandungnya dapat diserapi dan 3) bahan bacaan dapat dibawa kemana saja, apakah pembaca sedang berada di eskalator atau suatu pulau pasir. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Para ahli berpendapat bahwa minat baca yang rendah adalah gambaran masyarakat yang terbelakang. Kebiasaan membaca kita yang kurang, seringkali membawa pembicaraan ngalor ngidul, tentunya menghasilkan ide-ide yang ngawur pula. Kesalahan-kesalahan yang sama, muncul berulang-ulang. Pulang dari sebuah diskusi tidak jarang kita pusing mendengar seseorang tanpa referensi tertulis mempertahankan kebenaran yang diyakininya—tanpa peduli pendapat orang lain. Bahkan tak membuka ruang bagi sebuah diskusi yang kreatif. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Perbedaan masyarakat yang berbudaya baca dan yang belum, adalah kerentanannya atas reaksi terhadap issu yang ”belum tentu benar”. Hanya dengan mendengar, seseorang mengambil keputusan menghakimi sesama. Menurut pendapat kami, issu ”begu ganjang” adalah salah satu bentuk masyarakat yang lebih mengandalkan informasinya berasal dari pendengaran dan penglihatan. Belum terbiasa mengasah dirinya dengan referensi-referensi bacaaan yang telah teruji.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Mengapresiasi Perpustakaan-perpustakaan Pribadi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Perpustakaan sebagai lembaga perantara (agency) yang sangat penting dalam prose komunikasi, dapat memainkan peranan penting dalam upaya pengembangan budaya baca masyarakat. Perpustakaan berdiri karena adanya kebutuhan atas sebuah lembaga yang berfungsi untuk mengumpulkan dan mengorganisasikan karya-karya tulis untuk disebarluaskan kepada pembaca. Peran ini melibatkan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;pustakawan dalam dunia komunikasi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Koleksi buku-buku seseorang semasa hidupnya adalah sebuah gambaran seseorang menghargai peradaban. Sayang prestasi seperti ini jarang muncul ke permukaan, lenyap dengan prestasinya dalam bentuk kekayaan ”materi” berupa uang dan harta benda. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Saya tertarik dalam sebuah pertemuan dimana Baperasda memberi perhatian khusus untuk mengembangkan perpustakaan-perpustakaan milik individu yang selama ini memiliki koleksi buku, tetapi belum ditata sebagai sebuah perpustakaan. ”Kami membantu membuat katalog dan menyusun buku-buku yang dimiliki mantan pejabat atau seseorang yang memiliki koleksi buku pribadi di rumah,” ujar Drs Chandra Silalahi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Sebuah langkah yang perlu mendapat apreasiasi. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Saatnya perhatian kita untuk mengapresiasi prestasi ini. Seseorang yang selama hidupnya memiliki koleksi buku-buku, tentunya dapat dikatakan telah membaca dan paling tidak memperoleh informasi dari koleksi buku-buku yang dimilikinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Dalam pertemuan tahun lalu pihak Baperasda Pemprovsu melaporkan kecenderungan positif dimana beberapa pejabat memiliki koleksi buku di perpustakaan pribadinya, bahkan ada yang memiliki lebih dari 3000 judul buku. Menurut Chandra Silalahi beberapa pejabat telah mendapat bantuan pengelolaan perpustakaan pribadi, seperti Drs RE Nainggolan (Sekwilda Sumatera Utara), Prof Dr AP Parlindungan, mantan Wakajati&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sumatera Utara, serta pejabat atau tokoh masyarakat lainnya. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Andaikata dilakukan perlombaan diantara para tokoh masyarakat maka hal ini akan menjadikan permasyarakatan perpustakaan yang luar biasa.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Satu hal lagi, Baperasda perlu mensponsori pengisahan pengalaman para pejabat dalam hal membaca yang akan memberi inspirasi minat baca bagi masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Dukungan Pemerintah dan Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Usaha sekecil apapun untuk membangkitkan minat baca adalah pekerjaan besar dalam mempersiapkan investasi pengetahuan di masa mendatang, menciptakan masyarakat berbudaya membaca.. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Para pejabat perlu diwajibkan membicarakan minat baca dan pengembangan sarana membaca. Mereka yang duduk di legislatif, khususnya Komisi E, pengasuh Taman Bacaan dan mereka lain-lain perlu diajak membicarakan minat baca. Semakin banyak pejabat dan instansi yang terlibat dalam mengkampanyekan pentingnya budaya membaca, diharapkan akan memberi dampak luar biasa bagi masyarakat kita. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Tentunya, apresiasi kepada para pejabat atau tokoh yang memberi perhatian pada usaha-usaha meningkatkan minat baca perlu diberikan. Andaikata berbagai pihak memberikan perhatian dalam pemasyarakatan minat baca dan sarana membaca (perpustakaan serta mendukung fasilitas yang diperlukan), maka tidak yang tidak terlalu lama kita akan menciptakan masyarakat yang berbudaya baca.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Mari terus menggalakkan budaya baca, dan selamat untuk Baperasda Pemprovsu yang terus mensponsori pertemuan-pertemuan penulis, bedah buku, perpustakaan dan minat baca. Semoga 2012 badan ini semakin meningkatkan kualitas pertemuan-pertemuan minat baca dengan melibatkan lebih banyak pihak untuk terlibat. Sehingga kita tidak lagi menonton penumpang di kereta api mengantuk, ngerumpi, ngobrol ngalur ngidul, tetapi mereka membaca, seperti penumpang kereta api di Eropa!.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-3810148102951968202?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/3810148102951968202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=3810148102951968202&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/3810148102951968202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/3810148102951968202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2012/01/mempersiapkan-masyarakat-berbudaya.html' title='Mempersiapkan Masyarakat Berbudaya Membaca (Jurnal Medan, 24 Januari 2012)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-385579785761526284</id><published>2012-01-30T23:47:00.000+07:00</published><updated>2012-01-30T23:47:21.024+07:00</updated><title type='text'>2012: Sajikan Cerita yang Menginspirasi (Analisa 20 Januari 2012)</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;st1\:*{behavior:url(#ieooui) }&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size: 14.0pt; mso-ansi-language: FI;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="NO-BOK" style="font-size: 14.0pt; mso-ansi-language: NO-BOK;"&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NO-BOK" style="mso-ansi-language: NO-BOK;"&gt;Membaca Buku &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Around the Coorporate Camfire&lt;/i&gt; tulisan Evelyn Clark memberi peringatan pada kita semua atas pentingnya perhatian untuk meningkatkan kemampuan bercerita hal-hal yang menginspirasi, berkomunikasi ”sepanjang cerita”. Tidak hanya kata-kata yang yang berhenti pada jawaban ya atau tidak. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Pentingnya bercerita hal-hal yang menginspirasi diantara sesama anggota keluarga, sesama anggota masyarakat.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Dari pengamatan saya menulis beberapa biografi dan otobiografi, umumnya anggota keluarga pertama kali belajar filosofi hidup yang diajarkan ibu atau ayah mereka. Setelah itu para anggota keluarga juga menyerap cerita yang berasal dari luar yang memiliki nilai-nilai universal, turut memaknai pengayaan cerita rumah tangga itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Makin sering berkomunikasi ”sepanjang cerita” dilakukan di dalam keluarga, anggota keluarga memiliki pemahaman konsep kemanusiaan yang makin meningkat, demikian juga kemampuan berkomunikasi ”sepanjang cerita”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Sampai di masa tuapun, rasa keterikatan dan kebersamaan mereka tetap terjaga karena memiliki kisah pengalaman bersama masa lalu (bekerja bersama dan bercerita bersama). Masing-masing memiliki kontribusi kepada kisah keluarga. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Menangkal Kisah Kekerasan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Menceritakan tentang kisah-kisah yang menginspirasi menjadi ingatan kolektif keluarga, masyarakat dan bangsa ini, diajar menangkal kekerasan, tipu muslihat, korupsi. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Cerita yang justru makin meningkat di media kita, serta memasuki kisah-kisah ke dalam keluarga-keluarga. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Di era modern ini banyak kepala keluarga yang hanya mampu berkomunikasi seputar&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;kewajiban dan haknya kepada anak-anak atau anggota keluarga. Selain itu, karena kesibukan, kurang memberi waktu bercerita tentang nilai, prinsip hidup diantara sesama anggota keluarga. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Di luar sana, para pemimpin cenderung tidak lagi pandai menceritakan kebijakannya untuk dimengerti oleh sesama pemimpin termasuk oleh rakyatnya. Bahkan tidak jarang komunikasi sesama pemimpin saling menjatuhkan. Lihat misalnya bagaimana Saurip Kadi dan Gubernur Lampung saling melecehkan (TribuneNew, 12 Januari 2012). Dan beberapa kejadian sebelumnya banyak komunikasi diantara para pemimpin kita yang tidak etis (bahkan ada yang hampir meninju satu dengan yang lainnya, menceritakan aib seseorang di layar televisi). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Meminjam istilah Sephen R. Covey (Penulis 8th Habit) :kita kurang mampu ”Mengilhami Orang Lain Menemukan Suara Mereka”, sebaliknya cenderung saling melemahkan satu sama lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Budaya Bercerita dalam Keluarga&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Keluarga dibentuk untuk mewujudkan kebahagiaan yang sempurna, serta memberi kontribusi kepada masyarakat sekitarnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Cerita proses perjalanan keluarga merupakan perekat di dalam keluarga dan harus terus-menerus ditanamkan. Setiap anggota keluarga ingin didengar ceritanya dan mereka sangat ingin mendengar cerita anggota keluarga yang lain. ”Setiap orang suka bercerita dan setiap orang suka membaca (mendengar) cerita,” kata Evelyn Clark. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Cerita dimaksud adalah apa yang dilihat, dipikirkan, dilakukan dan dimaknai masing-masing anggota keluarga, sesuatu yang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;inherent&lt;/i&gt; dengan materi atau benda-benda yang sudah diberikan orang tua kepada anak-anak.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setiap keluarga memiliki cerita yang khas--berbeda dengan keluarga lainnya. Di sana ada tokohnya, peristiwanya serta konflik-konflik yang terjadi dan cara mereka menghadapinya. Seharusnya, dalam proses perjalanan keluarga, seluruh anggota keluarga terlibat. Cerita yang tercipta di dalam keluarga, adalah ungkapan proses bersama keluarga itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketika berkomunikasi sepanjang cerita terlupakan, keluarga sebenarnya telah melupakan salah satu cara membentuk watak anak dan anggota keluarga lainnya terbuka, jujur dan menghormati nilai universal. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sayangnya, dengan berbagai alasan, komunikasi sepanjang cerita semakin miskin. Padahal, Evelyn Clark berpendapat bahwa cerita anda tidak kurang penting dari harta benda yang kita hasilkan, nilai pekerjaan kita terletak pada cerita tentang proses pekerjaan itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan teknologi, tuntutan pekerjaan telah merubah persepsi kita atas pentingnya waktu bercerita menginspirasi dalam keluarga. Komunikasi yang lama belum dikuasai, muncul pola komunikasi yang baru, hingga kebingungan melanda banyak keluarga. Kisah perkotaan dimana masyarakatnya cenderung diperkuda jabatan, materi dan ambisi menjadi pengamatan utama kami akhir-akhir ini.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sang ayah seorang konsultan, asyik di meja desain dengan lampu terang, dan disampingnya sebuah komputer mutakhir dan internetnya sedang online mengirimkan data ke tempat lain.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Si ibu seorang dosen yang sedang asyik menyusun desertasi doktornya di ruangan lain di lantai dasar rumah mereka. Anak-anak dengan ditemani pembantu belajar di lantai atas. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Begitulah, pada suatu saat kami berbincang. Ada kesan suami istri bersaing untuk menunjukkan siapa yang paling jago. ”Oh lihat siapa yang paling banyak temannya di Facebook”, kata si ibu, menunjukkan kehebatannya. Berjam-jam waktunya dicurahkan di FB bercerita dan menemukan teman-teman lamanya. Komunikasi baru ini, ternyata selain memberinya kepuasan sendiri, salah-salah memang menyita waktu yang luar biasa. Mereka tidak hanya berhubungan di jejaring FB, tetapi juga Myspace. Frienster, Bebo, Twitter dan lain sebagainya. Duduk menghadap komputer, diam membisu, sesekali tertawa sendiri, seperti orang gila, membayangkan temannya (mungkin juga melakukan hal yang sama) di seberang sana. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di luar rumah mereka disibukkan dengan pekerjaan, kegiatan organisasi dan segala macam kegiatan lainnya. Tak cukup lagi waktu waktu berkomunikasi ”sepanjang cerita” dengan anak-anak, bahkan dengan teman-teman.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;br /&gt;Hubungan dengan suami istri, juga tidak jauh berbeda. Malah, hubungan seks diantara dua pasangan tidak jarang mengabaikan komunikasi ”sepanjang cerita” yang menggairahkan. Banyaknya gambar-gambar porno di berbagai situs, disinyalir juga menyita perhatian suami dan istri dan lambat laun lebih menyukai gambar manusia bugil tanpa nyawa daripada isterinya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Tak heran, kalau belakangan banyak kasus mencari PIL (Pria atau Perempuan intim lain), Teman Tapi Mesra (TTM). Perceraian meingkat, karena lebih membuka hubungan ”sepanjang cerita” bukan dengan anggota keluarganya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Hubungan di rumah hanya sebatas ”perintah”, bukan hubungan yang saling berbagi dan saling mencerdaskan dan menginspirasi. ”Kami tidak pernah bercerita. Kalau ceritapun, ujung-ujungnya menyalahkan saya dan ketika cerita selesai saya keluar dengan geram hati,” cerita seorang anak di sebuah cafe di Medan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Akibatnya, semakin banyak aspirasi tersendat . Reaksi di dalam keluarga bila ungkapan hati yang tidak terpenuhi diwujudkan melalui bahasa tubuh seperti melemparkan gelas hingga pecah, atau muka cemberut. Dalam skala lebih besar di tengah-tengah masyarakat, demonstrasi berbuntut kekerasan, memaksakan kehendak, bahkan berkelahi di rapat parlemen.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Perayaaan 17 Agustus&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Alpanya perhatian kita atas komunikasi dengan cerita pengalaman bersama, mungkin menjadi penyebab komunikasi dengan masyarakat di luar mengalami penurunan. Perayaan-perayaan nasional, religi dan hari-hari istimewa lainnya kehilangan makna. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Memutar kembali memori puluhan tahun ke belakang, saat kami masih anak-anak, 17 Agustus sungguh sebuah pesta dan kemeriahan besar dengan penyampaian nilai-nilai kejuangan para pendahulu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Kisah Jenderal Sudirman, para tokoh yang berjasa berjasa bagi negara, serta tokoh-tokoh yang tak dikenal--tanpa memandang agama, suku dan ras menjadi cerita yang menarik dan menginspirasi.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Kini, 17 Agustus hanya dimaknai dengan simbol-simbol bendera merah putih, pigura, lampu-lampu berwarna warni, serta hiburan dangdut, pidato-pidato kosong, bahkan dikotori pula dengan gambar-gambar kampanye para Caleg—yang kadang tidak pada tempatnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Kita sudah hampir melupakan cerita tentang idola atau panutan. Bahkan penyanyi dangdut atau caleg sering ditonjolkan sebagai pahlawan di puncak acara!. Tokoh-tokoh dan pemimpin yang inspiratif tidak muncul. Yang muncul hanya mereka yang punya kuasa dan banyak duit. Pesta-pesta besar tidak lagi bermakna. Yang tampil adalah penyelenggaranya, bukan perayaannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Masyarakat kurang tertarik membicarakan perenungan perjalanan kita dalam adat, agama, keluh kesah kehidupan, bahkan politik dalam bentuk cerita. Semua berjalan apa adanya—asal lalu. Tanpa makna dan perenungan bersama. Tetapi jika membicarakan mobil terbaru, naju terbaru, sepeda motor terbaru, tempat belanja yang modenr, kita rajanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Tahun demi tahun tidak ada tokoh yang muncul sebagai panutan—bahkan tak jarang cenderung menghujat satu sama lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Dalam kegiatan kolektif di tengah-tengah masyarakat, saya merasakan suasana berbeda belakangan ini dibanding beberapa tahun sebelumnya. Khususnya saat saya menghadiri rapat-rapat. Bahasa semakin tidak sopan, amarah yang tidak pada tempatnya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Mungkinkah karena kita mengabaikan komunikasi ”sepanjang cerita”?. Mari kita sama-sama merenungkannya!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;”Teringat di saat kita tertawa bersama. Ceritakan semua tentang kita. Ada cerita tentang aku dan dia, dan kita bersama saat dulu kala. Ada cerita tentang masa yang indah saat kita berduka, saat kita tertawa” adalah penggalan lagu Grup Band Peterpan yang sangat populer di era 2000-an. Mari belajar bercerita yang menginspirasi, hindari bercerita saling merendahkan, melecehkan, membuat sakit hati di tengah keluarga dan masyarakat!. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote-list;"&gt;&lt;br clear="all" /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;    &lt;div id="ftn1" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8886436507105873588#_ftnref1" name="_ftn1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Harian Analisa, 20 Januari 2012 &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-385579785761526284?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/385579785761526284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=385579785761526284&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/385579785761526284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/385579785761526284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2012/01/2012-sajikan-cerita-yang-menginspirasi.html' title='2012: Sajikan Cerita yang Menginspirasi (Analisa 20 Januari 2012)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-5495826555501817442</id><published>2012-01-30T23:45:00.000+07:00</published><updated>2012-01-30T23:45:20.638+07:00</updated><title type='text'>Menghargai Guru Melalui Novel (Batak Pos, 20 Januari 2012)</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 20.0pt; mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8886436507105873588#_ftn1" name="_ftnref1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 20.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Melalui novel, ternyata penulis bisa menghargai guru, menghargai budaya, menghargai alam. Kali ini saya menulis untuk Anda bagaimana seorang penulis novel mendedikasikan karya novelnya bagi guru-gurunya, sebuah teladan yang pantas menjadi renungan kita bersama untuk memberi apresiasi pada guru, pahlawan tanpa tanda jasa.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Sebuah televisi swasta akhir tahun lalu beberapa kali menayangkan kembali film Lasykar Pelangi yang diangkat dari novel yang ditulis Andrea Hirata, yang berkisah tentang 10 orang anak Melayu Belitong yang belajar penuh semangat di tengah kemiskinan di sebuah sekolah yang apa adanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Tapi tahukah anda, kalau Andrea Hirata ternyata mendedikasikan secara khusus novel yang sudah terjual lebih dari 15 juta eksemplar ini didedikasikan untuk gurunya? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Inilah pengakuan penulisnya Andrea Hirata."Niat saya untuk menulis buku ini sudah ada sejak saya kelas 3 SD, ketika saya demikian terkesan pada jerih payah kedua guru SD saya Ibu Muslimah dan Bapak Harfan Effendi, serta 10 sahabat masa kecil saya, yang disebut Kelompok “Laskar Pelangi” (LP). Buku LP saya tulis sebagai ucapan terimakasih daan penghargaan kepada guru dan sahabat-sahabat saya itu,” kata Andrea Hirata kepada situs http://www.pembelajar.com, awal 2009 lalu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Sebuah penghargaan yang lebih dari sekedar "tanda jasa".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Dua Karakter Guru Idola&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Laskar Pelangi, novel &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;best seller&lt;/i&gt; di Indonesia yang diluncurkan ke pasar pada 2006 itu ditulis berdasarkan memoar Andrea Hirata, sang penulisnya sendiri. Salah satu penggalan kisah masa kecilnya adalah kekagumannya yang mendalam kepada dua orang gurunya. Kisah itu ditempatkannya dalam ruang penting dalam novel yang terdiri dari 34 bab dan 533 halaman itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Dua karakter guru idola penulis yang ditampilkan adalah Bu Halimah dan Pak Arfan. Bu Muslimah yang memiliki nama lengkap N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid. Dia adalah Ibunda Guru bagi Laskar Pelangi. Wanita lembut ini adalah pengajar pertama Laskar Pelangi dan merupakan guru yang paling berharga bagi mereka. Pak Harfan dengan nama lengkap K.A. Harfan Efendy Noor bin K.A. Fadillah Zein Noor. Kepala sekolah dari sekolah Muhammadiyah. Ia adalah orang yang sangat baik hati dan penyabar meski murid-murid awalnya takut melihatnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Di mata Andreas Hirata dua gurunya itu telah membentuk mereka hingga menjadi seperti sekarang ini. Karakter gurunya digambarkannya saat mereka menghadapi berbagai persoalan di sekolahnya, melalui sejumlah kisah yang dialaminya saat menjalani masa Sekolah Dasar di kampung. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Di bawah bimbingan kedua guru mereka, Laskar Pelangi mengarungi hari-hari menyenangkan, tertawa dan menangis bersama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Kisah-kisah menggelikan dengan Pak Harfan mulai dari penempatan tempat duduk, pertemuan-pertemuan mereka dengan Kepala Sekolah mereka itu, pemilihan ketua kelas, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Bu Halimah yang memberi nama geng mereka sebagai Laskar Pelangi, akan kesenangan mereka terhadap pelangi - pun sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai cara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan-kawannya karena kesenangannya pada okultisme yang membuahkan kemenangan manis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa Lintang yang menantang dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal, dan memenangkan lomba cerdas cermat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Sekolah Hampir Bubar&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Peristiwa mengharukan lainnya terjadi di desa Gantung, Belitung Timur. Ketika itu sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau tidak mencapai siswa baru sejumlah 10 anak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Padahal, ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara pembukaan. Tetapi, persis saat Pak Harfan, sang kepala sekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu. Sekolah tidak jadi bubar!.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Kisah sepuluh kawanan ini berakhir dengan kematian ayah Lintang yang memaksa si jenius cilik itu putus sekolah dengan sangat mengharukan, dan dilanjutkan dengan kejadian 12 tahun kemudian di mana Ikal yang berjuang di luar pulau Belitong kembali ke kampungnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Membaca Novel Lasykar Pelangi, kita bisa merasakan semangat masa kecil anggota sepuluh Laskar Pelangi, menginspirasi seseorang menghargai dan mengagumi guru. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Gede Prama, seorang penulis terkenal&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Indonesia mengatakan: ”Kekuatan Buku Laskar Pelangi itu adalah cinta seorang anak terhadap gurunya”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Sebuah novel tanda ucapan syukur kepada guru. Tentu tidak semua orang bisa menulis novel, tetapi Anda bisa mengargai jasa guru dengan cara Anda sendiri. Mari belajar menghargai guru-guru yang pernah mengajar kita.!.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-5495826555501817442?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/5495826555501817442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=5495826555501817442&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/5495826555501817442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/5495826555501817442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2012/01/menghargai-guru-melalui-novel-batak-pos.html' title='Menghargai Guru Melalui Novel (Batak Pos, 20 Januari 2012)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-604081072903528523</id><published>2012-01-30T23:43:00.000+07:00</published><updated>2012-01-30T23:43:02.755+07:00</updated><title type='text'>Facebook, Gambar Porno, dan Pelecehan! (Jurnal Medan, 20 Januari 2012)</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;st1\:*{behavior:url(#ieooui) }&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="ES" style="font-size: 20.0pt; mso-ansi-language: ES;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8886436507105873588#_ftn1" name="_ftnref1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="ES" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 20.0pt; mso-ansi-language: ES; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Facebook&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt; atau lebih popular dengan sebutan FB menawarkan banyak manfaat. Tapi jangan lupa, jejaring sosial ini tidak terlepas dari hal-hal yang bisa mengganggu bahkan membunuh karakter penggunanya. Tapi, Anda tidak perlu panik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Sebuah pesawat jatuh, tidak lantas Anda harus berhenti naik pesawat, atau lantas semua pesawat dikandangkan!. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Para pengguna perlu mempelajari cara meminimalkan efek negatif melalui seleksi teman dan memahami &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;tool&lt;/i&gt;snya secara tepat, serta memahami prinsip komunikasi secara benar pula.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Facebook pada prinsipnya adalah sebuah situs komunitas dimana kita bisa bertemu orang dan bersosialisasi di dunia maya. Ratusan juta pengguna FB di dunia menuai manfaat karena terbukti memberi pengguna banyak manfaat. Pasalnya, FB menawarkan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;fungsí seperti menjaga hubungan dengan teman dan keluarga &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;(keep up with friend family)&lt;/i&gt;, berbagi foto dan video (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;share photos and video),&lt;/i&gt; kita bisa mengontrol privasi secara online &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;(control privacy online)&lt;/i&gt; dan berhubungan kembali dengan teman sekelas &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;(reconnect with old classmates).&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Sebagai penulis dan sebagai orang tua, FB telah membantu saya mencari dan menyimpan data, mengekspresikan karya-karya kepada teman-teman, memonitor kegiatan anak-anak, bahkan mendapat order pekerjaan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Bukti, bahwa FB bermanfaat adalah bahwa kini lebih dari 500 juta orang pengguna FB. Mereka bebas memilih untuk menggunakan jejaring ini, dan memanfaatkan FB sesuai dengan kebutuhan atau kepentingannya sendiri-sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Para pejabat, bahkan beberapa Kepala Daerah di Sumatera Utara menggunakannya sebagai alat komunikasi lepada publik. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Teknologi memiliki sifat yang netral. Tetapi tergantung penggunanya. Ada masuk ke FB bertujuan baik, menjalin persahabatan antara individu, kelompok bahkan sesama bangsa dan antara negara. Bahkan untuk promosi produk, kegiatan kampanye FB terbukti menjadi salah satu alternatif yang banyak dipilih orang. Memang, sama seperti teknologi apapun, selalu ada resiko menggunakannya, ada saja orang yang bertujuan buruk. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Hanya dua sikap yang kami amati selama ini. Terhadap FB. Sebagian meninggalkan Facebook, karena takut dirinya menjadi korban (media masa menyiarkan banyak sekali kasus-kasus negatif yang terjadi difacebook, mulai dari penculikan, pelecehan, fitnah dan lain-lain), sebagian bertahan dengan melakukan berbagai langkah-langkah untuk menghindari hal-hal yang negatif. Penulis termasuk orang yang turut dalam kelompok terakhir. . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;FB Tak Luput dari Hal Tak Menyenangkan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Menggunakan FB, tentunya tidak menjanjikan seratus persen kesenangan dan manfaat. Jejaring sosial ini tidak luput dari hal-hal yang mengganggu pikiran bahkan membahayakan (pemerasan, pelecehan, fitnah dan lain-lain). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Bebasnya orang masuk menjadi pengguna Facebook menuntut kehati-hatian dan pemahaman pemanfaatan Facebook secara benar. Salah-salah anda bisa mendapat malu, bahkan terkena tuntutan hukum, baik karena kebodohan, keteledoran anda, atau bisa karena ketidaktahuan, maksud jahat dari orang lain yang iseng atau benci kepada anda. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;FB saya sering kemasukan situs-situs yang tak saya inginkan (situs porno dan beberapa situs berbahaya yang bisa mendatangkan virus), grup-grup yang menyita ruang notification, serta &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;statemen&lt;/i&gt; atau komentar di status yang berpotensi tidak menyenangkan bahkan menghina atau melecehkan. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;“Pak, di Facebook bapak ada ditag gambar porno,” demikian peringatan seorang teman saya suatu waktu. “Pak, kayaknya ada statemen yang melecehkan di&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Facebook bapak deh!”.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Menurut kami, ini sesuatu yang lumrah saja terjadi pada teknologi apa saja. SMS di Handphone, surat kabar dan media-media yang lain. Saya yakin orang-orang yang beniat tidak baik, tidak akan bertahan lama, karena dunia ini tidak suka kejahatan. SMS gelap dan lain-lain juga saya terima beberapa kali. Isi berupa fitnah juga pernah saya terima. Jadi, FB bukan satu-satunya media komunikasi dimana orang bisa membuat hal-hal yang tidak baik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Ketika saya mengamati lebih seksama, ternyata postingan tersebut di &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;tag&lt;/i&gt; melalui teman yang saya kenal baik. Saat saya menghubunginya, dia sendiri tidak mengetahui sumber gambar yang masuk ke Facebooknya, tapi dia klik &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;like&lt;/i&gt;.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Statusnya, masuk ke Home dimana bisa dibaca dari FB saya. Beredarlah gambar itu ke seluruh teman-temannya di Facebook. (Kalau ada seperti ini, ya dihapus aja, tidak usah dibuka. Selesai kan!). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Saya tidak berhenti di situ!. Di balik manfaat sebuah teknologi, selalu ada resiko. Tidak sedikit orang yang menggunakan FB sebagai alat untuk mengekspresikan keisengannya atau balas dendam! Hasil temuan brilian muda Zuckerberg pada 2004 ini memang berpotensi disalahgunakan oleh penggunanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Selain hal di atas, ada yang Anda perlu perhatikan!. Ketika saya mengklik &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;like&lt;/i&gt; sebuah situs porno di status teman, selain muncul di status saya, juga terekam dalam &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;recent activity&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Pada awal menggunakan FB, saya pernah membuka situs yang kurang berkenan dipublikasi kepada publik di saat Facebook sedang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;log in&lt;/i&gt; (beroperasi). Saya mengklik &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;like &lt;/i&gt;dan kegiatan itu muncul juga di &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;recent activity&lt;/i&gt;. Wah, susah nih. Tidak&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;perlu panik!. Lalu saya delete, semua selesai!.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Pengalaman di atas hanyalah beberapa realitas perubahan pemahaman berkomunikasi yang tidak kita alami sebelum Facebook muncul pada 2004. Jejaring sosial yang memungkinkan setiap orang dengan bebasnya mengekpresikan dirinya, mengirim data. Perubahan yang menuntut kewaspadaan dan keharusan mempelajarinya dengan baik, agar manfaatnya maksimal dan efek negatifnya minimal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Beberapa Tips &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Sampai saat ini, saya masih merasa nyaman menggunakan Facebook sebagai sebuah media menjalin persahabatan dengan ribuan teman di dunia maya. Berikut beberapa tips yang saya ingin bagikan kepada anda. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Pertama.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt; Saya melakukan seleksi kembali teman-teman yang sudah masuk di Facebook. Baik itu individu maupun grup. Tidak ada gunanya saya memiliki teman yang sama sekali tidak kenal, kecuali ada referensi dari teman yang kita kenal dekat. Buat apa?. Hanya ingin dilihat hebat?. Tak usah ya!. Demikian juga, ketika anda ingin meng-&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;add&lt;/i&gt; teman baru, atau menyetujui &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;reqeuest friend, &lt;/i&gt;teliti dan tanyakan teman-teman anda yang lain tentang orang yang bersangkutan. Kesalahan besar para pengguna FB adalah tidak menyeleksi teman-temannya sebelum menerimanya menjadi teman.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Kedua.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt; Teman yang saya kenal dan sudah menjadi anggota di akun saya, tetapi selalu membuat pernyataan-pernyataan yang menyinggung, tidak mengenalnya dengan baik, atau saya ragu, dan berpotensi mengganggu, maka yang bersangkutan atau grup tersebut akan saya keluarkan. Saya akan meng-klik &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;unfriend &lt;/i&gt;atau kalau mau lebih aman saya akan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;block&lt;/i&gt;. Saya tidak mau membiarkan orang-orang yang tidak menyenangi saya memiliki akses dan mengamati kegiatan saya!. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Ketiga.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt; Saya tidak akan mengklik situs porno apapun saat Facebook sedang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;log in&lt;/i&gt; (beroperasi), apalagi mengklik &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;like&lt;/i&gt;. Hindari meng&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;klik&lt;/i&gt; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;like&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;atau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;comment &lt;/i&gt;pada situs yang berbahaya bagi anda, anak-anak atau orang lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;, agar privasi saya tidak diketahui orang, saya tidak lupa menghapus kegiatan saya di &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;”recent activity” &lt;/i&gt;(Walau kadang saya lupa).&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt; &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;, sesuatu pembicaraan yang bersifat rahasia lakukan di inbox. Pembicaraan akan aman dan hanya saya dan teman yang saya kenal dan percayai bisa mengetahuinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Keenam,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt; saya mengisi status dengan berita-berita, pernyataan-pernyataan, foto, atau video yang mencerahkan, menghibur dan mengajak orang bertindak lebih baik.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(Ini yang perlu dilatih. Tidak sedikit pengguna pamer di FB yang mengundang rasa iri, atau membuat statmen yang mengundang rasa permusuhan atau kebencian). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Ke tujuh&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;, jangan memberi komentar pada pernyataan seseorang kalau kita belum mengerti persis maksud sebuah pernyataan atau ekspresi.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Ke delapan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;, sama seperti Anda, orang lain juga tidak ingin dirinya disakiti, difitnah. Jangan anda lakukan hal itu kepada siapapun. Tulislah &lt;span class="messagebody"&gt;perkataan yang baik untuk membangun, dimana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh anugerah, bukan sakit hati atau mengundang rasa benci.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Semoga ada manfaatnya!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-604081072903528523?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/604081072903528523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=604081072903528523&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/604081072903528523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/604081072903528523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2012/01/facebook-gambar-porno-dan-pelecehan.html' title='Facebook, Gambar Porno, dan Pelecehan! (Jurnal Medan, 20 Januari 2012)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-6800343850132023239</id><published>2012-01-17T12:39:00.000+07:00</published><updated>2012-01-17T12:39:16.363+07:00</updated><title type='text'>Makna Lagu Nahum Situmorang di Persimpangan Jalan:  ”Hugogo Pe Mansari, Laho Pasingkolahon Gelleng” (Batak Pos, 16-17 Januari 2012)</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 14.0pt; mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size: 14.0pt; mso-ansi-language: FI;"&gt;Oleh : Jannerson Girsang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Minat orang tua di desa untuk menyekolahkan anaknya ke tingkat yang lebih tinggi menurun. Kualitas pendidikan, biaya pendidikan yang tinggi dan manfaat&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang diperoleh kurang signifikan bagi sebagian orang tua. Benarkah?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Simaklah buku ”Pulung Gantung: Menyingkap Tragedi Bunuh Diri di Gunungkidul” (Salwa Press, Yogyakarta, Maret 2002) yang ditulis Darmaningtyias seorang ahli pendidikan. Buku itu mengungkapkan kecenderungan umum di tengah masyarakat Gunung Kidul, terutama di pedesaan yang tidak lagi mempercayai sistem pendidikan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Sampai awal dekade 1990-an, semangat masyarakat untuk menyekolahkan anak hingga SMTA cukup tinggi. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Banyak orang tua yang memegang prinsip, ”semua harta benda dijual tidak apa-apa, asal anak bisa bersekolah”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Tapi prinsip serupa sudah mulai pudar, bahkan banyak ditinggalkan Sebagian masyarakat tidak lagi percaya pada kesaktian pendidikan formal, sehingga banyak yang memilih tidak melanjutkan sekolah setamat dari SD. Menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat desa terhadap pendidikan itu terjadi sebagai akibat dari buruknya produk pendidikan nasional. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Buku itu dengan vulgar mengatakan: ”Kehidupan orang-orang yang bersekolah hingga pendidikan tinggi ternyata tidak lebih baik , setidaknya terjadi ketimpangan antara &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;output&lt;/i&gt; yang dikeluarkan dengan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;input&lt;/i&gt; yang diterima. Sebaliknya orang yang berpendidikan itu justru menjadi malas bertani, malas kerja kasar, sementara harta bendanya sudah banyak yang terjual untuk bersekolah”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Semangat Menyekolahkan Anak&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Membaca buku itu, saya kemudian mengenang&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;masa-masa saya ketika sekolah &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;SD-SMA di era 1973-1980. Kala itu, dari pengamatan saya orang kampung memandang tinggi nilai pendidikan. Kalau saya kembali ke desa, orang masih dengan semangat mengatakan: ”Kalau kawan ini pasti hebatlah nanti, soalnya dia sekolah,” kata salah seorang orang tua, ketika pulang libur sekolah di kota.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Pengalaman orang tua saya yang hanya seorang guru SD, pernah menanggung tiga orang anak di perguruan tinggi. Mereka yakin benar bahwa segalanya dikorbankan demi sekolah anak-anaknya. ”Kalau sudah tamat nanti, mereka akan bisa mandiri dan mendapat pekerjaan yang lebih baik dari kami,”ujar ayah saya suatu ketika kepada tempat peminjaman uangnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Penghasilan kecil tidak melemahkan semangat mereka&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;menyekolahkan anak. Orang tua saya acapkali meminjam uang di kala memenuhi permintaan tiba-tiba dan kadang tidak direncanakan, atau kalau hasil panen mereka meleset. Konon, bagi orang tua saya lebih mudah meminjam untuk biaya pendidikan anak lebih mudah dari pada dia meminjam untuk usaha. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Selain itu mudah ditemukan kerja sama keluarga yang tinggal di kampung dan keluarga yang tinggal di kota. Saya menyaksikan sendiri, beberapa anggota keluarga yang saya kenal dibantu secara bergotong royong di kalangan keluarga besar untuk membantu anak keluarga yang tidak mampu. Baik berupa sumbangan langsung, maupun tumpangan tanpa bayar makan tinggal di rumahnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Melongok ke masa lalu tokoh-tokoh yang dulunya dari desa kemudian memperoleh pendidikan yang lebih tinggi misalnya. Produk-produk pendidikan dari desa sangat signifikan melahirkan para pemimpin negeri ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Sebagai penulis biografi, saya mengamati para tokoh yang sukses (kebanyakan dari desa), hampir bisa dikatakan, pendidikan merupakan awal dari segala karier mereka di kemudian hari. Dari seorang anak petani, setelah menempuh pendidikan mereka memperoleh pekerjaan yang jauh lebih baik dari orang tuanya di kampung. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Kisah Pendeta Armencius Munthe, Prof Dr Sutan Hutagalung, Kol JP Silitonga dan bebeberapa biografi tokoh-tokoh yang saya tulis (kebetulan kebanyakan orang Batak), lahir di desa di era 20-an dan 30-an, mendapat pendidikan Belanda di sekitar desanya, dan sekolah lanjutan di kota, bahkan pada era 50-an ada yang sekolah di luar negeri-seperti Jerman, Amerika Serikat atau ke luar Sumatera seperti JP Silitonga. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Pendeta Armencius Munthe, mantan Ephorus GKPS, anak seorang janda petani miskin yang di usia 13 tahun sudah ditinggal suaminya, dengan kemampuan yang terbatas mampu menyelesaikan sekolah Teologia, dan kemudian karena prestasinya mendapat beasiswa kuliah Master Theologia di Universitas Hamburg Jerman di era 1960an. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Bahkan yang lebih kontroversial lagi, Sutan Hutagalung—mantan Sekjen GKPI. Setelah bekerja beberapa tahun sebagai pegawai penjara di Klaten, dirinya meninggalkan pekerjaannya dan melanjutkan perkuliahan di STT Jakarta. Lulus dari sana, dia kemudian melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas di Amerka Serikat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Contoh-contoh di atas adalah yang saya tau persis karena menulis biografinya, tetapi tentu kolom ini tidak cukup menyebut ribuan contoh lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Ironi di Era Globalisasi.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Di abad ke duapuluh satu, dimana pendidikan seseorang penduduk desa diharapkan lebih baik (tingkat pendidikannya dari sebelumnya), justru banyak yang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;drop out&lt;/i&gt;. Kini, tidak sulit lagi bagi saya menemukan anak-anak SMP yang sudah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;drop out&lt;/i&gt; dan mengikuti ayahnya ke ladang.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Berbeda saat saya sekolah SMP di era 1970-an. Hampir tidak ada anak sekolah yang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;drop out&lt;/i&gt;. Paling tidak mereka tamat SMP dan sebagian besar melanjut ke SPG atau SMA, dan kemudian ke Perguruan Tinggi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Selain itu tingginya biaya pendidikan cenderung melemahkan semangat para orang tua mengirim anak-anaknya ke sekolah atau perkuliahan. Ditambah lagi budaya sogok yang marak dimana-mana ketika mereka lulus dan mencari pekerjaan yang diidamkan, yakni PNS, atau pegawai swasta. Karena hampir sebagian besar penduduk masih memimpikan anaknya bekerja, belm banyak orang tua yang menginginkan anaknya sebagai pengusaha. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Bagi kelompok seperti ini, mengirimkan anak ke sekolah tidak lagi dianggap sebagai sebuah cara untuk meningkatkan status. Pengetahuan ayahnya sebagai petani sudah cukup untuk mencari makan dan menyesuaikan statusnya dengan anak-anak di desanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;”Masuk sekolah harus membayar uang pembangunan, uang sogok. Padahal nanti sarjanapun menganggurnya. Mencari pekerjaan harus menyogok, lebih baik langsung bekerja di ladang. Menanam kentang, dapat hasil”ujar seorang penduduk yang anaknya drop out SMP, ketika saya berkunjung ke suatu desa. . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Dampak Negatif&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Buku ”Pulung Gantung: Menyingkap Tragedi Bunuh Diri di Gunungkidul” mengungkapkan minat yang semakin menurun meningkatkan pendidikan menyebabkan tingginya perkawinan dini. Mereka yang drop out dari SD, SMP atau SMA akan kawin lebih cepat. Tentu ini tidak hanya menjadi tantangan bagi keluarga berencana, tetapi sekaligus menyebabkan tingginya perceraian. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Mereka yang drop out mudah terkena pengaruh lingkungan yang masuk ke desa berupa perkembangan teknologi informasi (TV, DVD, Internet) telah menyeret mereka ke pergaulan bebas dan hubungan di luar nikah, remaja terlibat narkoba, mengunjungi situs-situs porno di internet, bahkan bermain judi melalui teknologi canggih itu. Dampak yang lebih parah lagi mereka menjadi manusia pemimpi, menjadi pemakai narkoba, pengunjung diskotik, bahkan sebagian menjadi &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;PSK.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Coba sekali-sekali berjalan di malam hari, atau singgah berbagai diskotik atau tempat-tempat terlarang bagi para remaja di kota-kota besar di provinsi ini. Medan, Pematangsiantar, Sibolga, dll. Gadis-gadis berusia belasan tahun menjadi pemuas nafsu para om-om yang kelebihan duit.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Anakhon Hi do Hamoraon Di Ahu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Sebelum zaman semaju sekarang ini, semangat menyekolahkan anak di kalangan masyarakat di Sumatera Utara terangkum dalam lagu : &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Anakkon Hi do Hamoraon di Ahu&lt;/i&gt;, karya komponis besar Nahum Situmorang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Sebagian penggalan syairnya berbunyi sebagai berikut&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;: ”Hugogo pe mansari, arian nang bodari, lao pasingkolahon gelleng hi. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Ndang so tarihuthon, au pe angka dongan, ndada pola marsak au di si. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Alai anakhon hi da, ndang jadi hatinggalan sian dongan magodang na i”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Terjemahan bebasnya kira-kira demikian: ”Saya bekerja keras mencari uang, siang dan malam, untuk membiayai sekolah anakku. Meski tidak bisa mengikuti orang lain, saya tidak sedih. Asalkan anakku tidak ketinggalan dari teman-temannya”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Syair lagu berirama pop dan sekali-sekali dibuat &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;cha-cha&lt;/i&gt; ini, menggambarkan pandangan penulisnya tentang semangat masyarakat desa ketika itu dimana pendidikan adalah cara meningkatkan harkat dan martabat mereka. Pendidikan adalah pra-syarat agar mampu mengikuti perkembangan zaman, tidak ketinggalan dengan anak-anak yang lain, dan tidak terlindas oleh kemajuan. Karena itu, seluruh jiwa, raga dan harta dikorbankan demi biaya pendidikan anak-anak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Hanya satu harapan: pengorbanan itu akan lunas, bila anak-anaknya bisa berhasil menyelesaikan pendidikannya, dan keyakinan dengan modal pendidikan anak itu bisa mencapai kehidupan yang lebih baik. Mereka mengejar a&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;chieved status&lt;/i&gt;nya—status sosial yang diperoleh melalui kerja keras, usaha dan keyakinan dengan menyelesaikan pendidikan yang baik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Masih dalam pengamatan yang memerlukan pembuktian, dari perubahan yang ada, minat menyekolahkan anak termasuk di daerah kita sudah menurun, demikian juga semangat anak didik menggunakan sekolah sebagai batu loncatan tidaklagi seperti semangatnya Prof Dr Sutan Hutagalung, Dr Armencius Munthe maupun JP Silitonga. Bagaimana mengembalikan semangat orang tua menyekolahkan anak-anaknya seperti sediakala menjadi tantangan bagi kita semua. Mahalnya biaya pendidikan, rendahnya kualitas produk pendidikan kita menjadi tantangan besar di era globaliasi ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-6800343850132023239?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/6800343850132023239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=6800343850132023239&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/6800343850132023239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/6800343850132023239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2012/01/makna-lagu-nahum-situmorang-di.html' title='Makna Lagu Nahum Situmorang di Persimpangan Jalan:  ”Hugogo Pe Mansari, Laho Pasingkolahon Gelleng” (Batak Pos, 16-17 Januari 2012)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-6125433310242055446</id><published>2012-01-17T12:37:00.000+07:00</published><updated>2012-01-17T12:37:16.119+07:00</updated><title type='text'>Menulis Di Era Global  “Mutlak Melek Komputer dan Internet” (Batak Pos, 14 Januari 2012)</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size: 18.0pt; mso-ansi-language: IT;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Oleh : Jannerson Girsang&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8886436507105873588#_ftn1" name="_ftnref1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: SV; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Masuk di dunia penulisan di era global dengan buta komputer dan internet?. Anda akan seperti rusa masuk kampung!. Sebaliknya, menguasai komputer dan internet membuka peluang mengembangkan diri berlipat ganda. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Almarhum Pdt Dr Armencius Munthe—mantan Ephorus dan Sekjen Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;adalah contoh seorang penulis yang dengan cepat menyesuaikan dirinya dengan dunia barunya, yakni berkhotbah dan menulis di era global. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Setelah pensiun dari jabatan terakhirnya sebagai Sekjen GKP pada 1995, beliau belajar komputer dan kemudian internet. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Satu angkatannya sesama pensiunan petinggi gereja beliau termasuk yang paling aktif menulis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Setelah pensiun, selama 15 tahun hingga meninggal pada 2009, beliau aktif mengajar sebagai dosen, dan menulis. Dengan memahami komputer dan internet, beliau mampu menulis beberapa buku dan menerbitkan tulisannya tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. ”Melalui internet, saya bisa mengirim draft buku, melakukan koreksi seolah di depan saya dengan rekan-rekan saya dimanapun berada. Waktu sangat terhemat,”ujarnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Semasa dinasnya bertahun-tahun beliau hanya mengandalkan sekretarisnya dan sama sekali belum mengenal komputer. Membuat konsep dengan tulis tangan, lantas sekretarisnya membantunya mengetik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Tak heran kalau kemudian beliau mampu menulis beberapa buku di masa pensiun dan menerbitkannya di Jakarta, Amerika Serikat, meski beliau tinggal di rumahnya di bilangan Tanjungsari, Medan. Prestasi menulis beliau, jauh lebih di atas rata-rata teman seangkatannya.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Saya mendapat pengalaman menarik ketika menulis buku biografinya ”Anugerah Tuhan yang Tak Terhingga” (2004). Menulis buku seorang yang berusia 70 tahun yang memahami komputer dan internet, jauh lebih cepat dari para tokoh seusianya yang sama sekali tidak memahami komputer dan internet. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Pasalnya, saya bisa melakukan komunikasi dengan beliau melalui internet. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Beberapa wawancara tambahan dilakukan dengan wawancara tertulis, demikian juga koreksi bisa dilakukan dengan email. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Berbeda ketika saya menulis otobiografi atau biografi seorang tokoh yang sama sekali tidak mengetahui internet. Meski dia seorang penulis, kalau tidak memahami komputer dan internet, maka wawancara seluruhnya dilakukan dengan tatap muka. Demikian juga koreksi dan diskusi. Saya menggunakan waktu yang jauh lebih lama menyelesaikan buku sejenis. Biaya yang dibutuhkan untuk menulispun tentunya lebih mahal.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Bayangkan kalau draft buku setebal 400 halaman mau dikirim ke Jakarta, masih terdengar ungkapan seperti ini. ”Tolong print dulu draft buku kita, dan kirimkan semua hasilnya ke Jakarta”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Dibutuhkan waktu memprintnya, membungkusnya, mengantarkannya ke TIKI atau kantor pos. Waktu mengirim melalui pos tersita satu atau dua hari. Demikan pula pengembalian hasil koreksinya. Padahal, pengiriman draft buku seperti itu di masa sekarang ini hanya butuh waktu hitungan detik dan biaya pulsa atau langganan internet yang cukup murah. Ini hanya sebuah contoh kecil!. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Revolusi Penulisan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Perkembangan teknologi komputer dan disusul dengan aplikasi internet dalam komunikasi modern melahirkan pola baru komunikasi dan mempengaruhi dunia penulisan serta berbagai bidang kehidupan di tengah-tengah masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Seorang futurolog terkenal Paul Zane Pilzer, meramalkan bahwa bahwa tidak lama lagi setiap orang akan memiliki kemampuan menikmati kemakmuran tanpa batas melalui teknologi komputer ajaib. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Revolusi penulisan atas kehadiran internet telah, sedang dan terus berlangsung di tengah-tengah kita ibarat penyakit flu. "Internet seperti penyakit flu, menyebar seperti orang gila", kata Jack Welch. Dia masuk ke segala lapisan, penulis pemula, penulis besar, tua, muda, kaya, miskin, bahkan penulis remaja dan anak-anak. Pengguna internet meroket bak jamur di musim hujan. Dari kurang 500 juta sepuluh tahun sebelumnya menjadi 1.5 miliar orang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Sampai 2009, akses internet di Indonesia masih dibawah 25 persen dengan pertumbuhan rata-rata antara 15-17 persen per tahun. Meski pertumbuhannya demikian pesat, kita masih tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Brunai, bahkan dengan berbagai negara ASEAN lainnya seperti Thailand dan Filippina.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Perkembangan jumlah penggunaan internet yang terus meningkat akan memberikan manfaat yang luar biasa.”Penjualan internet saat ini sebesar $200 miliar per tahun tidak ada artinya dibanding dengan keberuntungan yang akan tercipta,”ujar sebuah website yang kami kunjungi baru-baru ini.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Perkembangan penulisan dengan kehadiran internet telah merubah makna sebuah perpustakaan, pengiriman bahan tulisan, distribusi bahan tulisan, demikian juga hasil tulisan berupa publikasi media atau buku-buku.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Google Book menjadi sebuah perpustakaan raksasa yang terus berkembang dan tak tersaingi jenis dan jumlah buku di perpustakaan manapun di Indonesia ini. Koleksinya sudah mencapai lebih dari 15 juta buku. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Mediaonline&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Selain itu, kehadiran Internet dan pengembangan teknologi mediaonline sangat membantu penulis mencari bahan tulisan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Sebagai contoh, website &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.onlinenewspapers.com/"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;http://www.onlinenewspapers.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;. Website seperti ini adalah salah satu produk directory media cetak online pada era internet. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Kini lebih dari 10 ribu media cetak utama dunia yang terbit di 400 kota sudah masuk dalam website ini. Dengan menamakan dirinya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;The No 1 Newspaper Directory&lt;/i&gt;, website ini telah membantu para pencari berita di seluruh dunia terus mengembangkan dan menambah jumlah mediaonline di seluruh dunia, sehingga menjadi sebuah sumber data yang sangat bermanfaat bagi miliaran orang. . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Dengan memanfaatkan teknologi internet, website tersebut selain menyediakan data juga sekaligus memanfaatkan para pengunjung secara interaktif menyempurnakan data yang sudah disediakan. Memasukkan informasi yang terdapat di daerahnya sehingga mereka yang berada di belahan bumu lain, sekaligus mampu mengakses informasi ke dunia yang lebih luas lagi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Hasilnya, kini khususnya media cetak, seluruh masyarakat dunia yang memiliki akses ke internet sudah memiliki peluang memperoleh informasi.yang sama. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Penduduk di Tuktuk Siadong, melalui website ini mampu mengakses berita harian lokal di&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Negara Bagian Alabama di Amerika Serikat, atau sebuah harian lokal di Davao, Mindanao Filippina. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Para penulis yang belum memanfaatkan kehadiran Internet dalam meningkatkan kuantiítas dan kualitas tulisannya, saatnya bangkit dan menguasai komputer dan Internet dengan segala seluk beluknya yang bermanfaat bagi kegiatan menulis. Menulis untuk mengembangkan peradaban, bukan mencerca, memaki atau menfitnah orang lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style="mso-ansi-language: ES;"&gt;Melek komputer dan Internet mutlak!. Milikilah sebuah komputer yang tersambung dengan Internet. Masuklah ke dunia global, samudera informasi yang luasnya tak terbatas. Sebagai penulis hal itu mutlak kalau anda ingin terus eksis di dunia tulis menulis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Saatnya Anda membuka mata, jangan buta lagi!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote-list;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-6125433310242055446?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/6125433310242055446/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=6125433310242055446&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/6125433310242055446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/6125433310242055446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2012/01/menulis-di-era-global-mutlak-melek.html' title='Menulis Di Era Global  “Mutlak Melek Komputer dan Internet” (Batak Pos, 14 Januari 2012)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-2081700043769641487</id><published>2012-01-13T12:29:00.001+07:00</published><updated>2012-01-13T12:29:19.798+07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Petani Kentang (Batak Pos, 13 Januari 2012)</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;st1\:*{behavior:url(#ieooui) }&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size: 20.0pt; mso-ansi-language: FI;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Oleh : Jannerson Girsang&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8886436507105873588#_ftn1" name="_ftnref1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Memutar memoriku di era 1970an, sangat tidak nyaman memandang sebuah areal pertanian kalau tanaman kentang di dalamnya tumbuh tidak merata. Di tengah-tengahnya terdapat tanaman yang krempeng, kuning, sementara yang lainnya tumbuh subur dan menyejukkan mata. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Sama dengan pembangunan ekonomi di suatu negeri. Sangat tidak nyaman, kalau di suatu daerah maju pesat, sementara di tempat lain—orang dengan mudah melintasi jalan raya yang mulus, sarana pendidikan modern, bisnis maju, sementara di daerah lain orang masih memikul hasil bumi karena tidak tersedia sarana jalan, gedunmg sekolah seperti kandang sapi, tengkulak menguasai pasar. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Bedanya, kalau kondisi ketidakmerataan ini terjadi pada manusia, bukan hanya tidak enak dipandang, tetapi mereka bisa bereaksi, menimbulkan suasana yang tidak nyaman bagi semua. Mereka akan merespon ketidakadilan dengan berbagai cara. Pasalnya, mereka memiliki pikiran, mampu menilai yang terbaik bagi dirinya, mampu membandingkan dirinya dengan orang lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Rakyat butuh pengaturan melalui sebuah sistem pemerintahan yang berniat baik bagi mereka, sehingga mampu maju secara bersama-sama, berkeadilan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Belajar dari Petani Kentang &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Memori anak-anak di kampung di daerah Simalungun di era akhir 60-an sampai pertengahan 70-an kadang muncul di benak kami kala melihat ketimpangan pembangunan di berbagai daerah di provinsi ini, saat melakukan berbagai perjalanan—Nias, Batubara, Labuhan Batu, Dairi, Humbang Hasundutan, Tapanuli dan lain-lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Petani kentang di kampng kami mengusahakan tanaman kentang agar semua tanaman mendapatkan perlakuan yang sama: mulai dari pemupukan, pembrantasan hama, penyiangan, penyiraman dan lain-lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Pada kenyataannya, meski perlakuan sama, saya memperhatikan pertumbuhan tanaman kentang tidak selalu sama. &lt;/span&gt;Beberapa minggu setelah ditanam, dari hamparan seluas satu hektar tanaman kentang sebanyak 10 ribu batang, sebagian pertumbuhannya lambat. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setiap pagi petani memperhatikan pertumbuhan tanaman. Mereka seolah berbicara kepada tanaman-tanaman itu. “Apa yang kurang, mengapa pertumbuhanmu tidak seperti tanaman-tanaman lainnya?”. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Bahkan ada kalanya mereka melakukan perlakuan khusus atas kentang yang tidak tumbuh sama dengan tanaman lainnya.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Ada yang karena dimakan ulat, kekurangan unsur hara seperti warna daunnya kuning karena memang kondisi tanahnya yang tidak subur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Para petani di sana dengan pengalaman puluhan tahun menanam kentang memahami cara bertanam untuk membuat pertumbuhan bisa merata. Lalu, mereka memberi pupuk dengan takaran yang lebih bagi kentang yang kurang subur, memberikan perlakuan yang khusus bagi tanaman yang terserang hama dan membuat pertumbuhannya lebih lambat dari yang lain. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Walau tanaman itu tidak berbicara satu sama lain, seperti manusia, tetapi para petani bangga kalau dia berhasil membuat setiap tanamannya tumbuh merata. &lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Tidak ada yang kerempeng. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Ada niat di hatinya, memperlakukan 10 ribu tanaman kentangnya sesuai dengan kebutuhannya agar mereka bisa tumbuh bersama. Walau pada kenyataannya selalu saja ada hambatan, sehingga tidak pernah 100% bisa merata.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Memimpin Rakyat: Pengalaman Petani Kentang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seorang pemimpin seyogianya memiliki niat seperti para petani memperlakukan tanamannya. Ada keinginan memperlakukan rakyatnya agar maju bersama, memahami dengan benar mengapa rakyat di sebuah daerah tidak bisa maju sama dengan rakyat lainnya, atau daerah yang satu tidak maju bersama dengan daerah lainnnya. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Dalam kenyataan, setiap daerah tidak sama potensinya. Beberapa daerah bertumbuh dengan pesat karena potensi alam dan sumber daya manusianya tersedia. Anehnya, kadang daerah dengan potensi besar mendapat perlakuan khusus pula. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Berangsung secara alami”Dimana ada gula, di situ ada semut”. Pembangunan akhirnya bertumpu di sana. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Issu kesenjangan Pantai Barat dan Pantai Timur di provinsi ini adalah bukti bahwa masih banyak daerah yang perlu penanganan khusus untuk bertumbuh bersama. Sebagai contoh, di pedalaman di Pulau Nias masih banyak daerah yang tidak bisa dijangkau dengan kenderaan bermotor, 40% belum mendapat aliran listrik dari PLN, serta berbagai keterbatasan yang dihadapinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Tentu, daerah seperti ini tidak akan mampu bertumbuh bersama dengan daerah yang sudah memiliki infrastruktur yang maju. Daerah dengan potensi yang kurang, sama dengan tanaman tadi, &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;mereka akan tumbuh kerempeng kalau dibiarkan bertumbuh dengan kemampuannya sendiri. Mereka perlu mendapat perlakuan khusus. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Seorang pemimpin harus mampu dalam levelnya masing-masing—mulai dari gubernur, bupati, walikota, camat dan kepala desa/lurah memahami kondisi dan memperlakukan kebijakan-kebijakan khusus untuk masing-masing daerahnya. Pemimpin harus memahami, menyadari sepenuhnya daerah-daerah yang tidak mampu, dan yang perlu mendapat perlakuan khusus. Tanaman yang jauh dari gubukpun harus mendapat perlakuan yang sama dengan yang dipinggir ladang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Para pemimpin hendaknya menghindarkan diri megambil kebijakan hanya pertimbangan kedekatan masyarakat atau daerahnya, apalagi pada kepentingan pribadi dan golongan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Sama seperti petani memperlakukan tanaman kentangnya, demikian juga pemimpin memperlakukan rakyatnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;12 juta lebih penduduk di Sumatera Utara terdiri dari beragam suku, agama, dengan potensi yang berbeda-beda hendaknya dipahami dengan filosofi petani kentang ini. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Mereka kini mengalami kemajuan yang berbeda-beda, bisa karena memiliki potensi alam yang melimpah sudah diolah, kemampuan sumberdaya manusianya yang sudah baik, atau hal-hal unggul lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Berbagai daerah masih tertinggal, bisa karena sumberdaya alam yang belum diolah, sumber daya manusianya yang rendah. Berbagai daerah memiliki potensi tambang emas, timah hitam, lahan kosong yang masih terhampar luas. Rakyat menunggu perlakuan-perlakuan khusus yang kreatif, sehingga mereka mampu bangkit, maju bersama dengan daerah lain. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Gunawan Sumodinngrat dan Riat Nugroho T (2005), dalam bukunya ” Membangun Indonesia Emas” mengingatkan kita semua, ”Keadilan sosial adalah amanat bangsa. Keadilan sosial bukan sesuatu yang dapat ditawar-tawar. Keadilan sosial adalah sebuah ’rasa’ yang diciptakan dari keadaan kondusif bagi pengembangan hidup bersama yang diwarnai dengan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;saling percaya dan saling gotong royong.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IT" style="mso-ansi-language: IT;"&gt;Semoga di 2012 dan masa mendatang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;niat&lt;/i&gt;, sekali lagi &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;niat &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;para pemimpin bersama masyarakat daerah ini terinspirasi dengan filosofi ini. Mewujudkan “Rakyat tidak miskin, tidak sakit dan tidak lapar”, dengan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;niat&lt;/i&gt; yang dilandasi semangat maju bersama. .&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote-list;"&gt;&lt;br clear="all" /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;    &lt;div id="ftn1" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8886436507105873588#_ftnref1" name="_ftn1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Penulis Biografi, Tinggal di Medan&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-2081700043769641487?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/2081700043769641487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=2081700043769641487&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/2081700043769641487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/2081700043769641487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2012/01/belajar-dari-petani-kentang-batak-pos.html' title='Belajar dari Petani Kentang (Batak Pos, 13 Januari 2012)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-3809745420218396530</id><published>2012-01-09T01:17:00.006+07:00</published><updated>2012-01-09T01:31:01.998+07:00</updated><title type='text'>In Memoriam Ed Zoelverdi 1943-2012:  "Mat Kodak" Sudah Pergi (Analisa Cetak, 9 Januari 2012)</title><content type='html'>&lt;div style="padding: 0 0 4 0;"&gt;Oleh : Jannerson Girsang.&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 0pt 0pt 4px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 0pt 0pt 4px;"&gt;&lt;br /&gt;Indonesia kehilangan seorang juru foto yang tidak kenal lelah belajar  dan mengajarkan pengalamannya kepada masyarakat jurnalis di tanah air.  Tokoh yang mempopulerkan istilah "Mat Kodak" untuk jurnalis foto itu  meninggalkan kita untuk selama-lamanya, di Jakarta, dini hari 4 Januari  2012.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang yang pernah  bekerja dengan beliau semasa di Majalah Tempo, Bersihar Lubis, kini  Pemred Medan Bisnis, mengungkapkan kesannya melalui telepon genggam.  "Kita kehilangan seorang fotografer besar, seorang guru yang  humoris,"ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Lulusan SLTA, Menabur Ilmu Jurnalistik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Ed Zoelverdi bukan nama asing lagi di dunia jurnalisme foto  Indonesia. "Dia mulai memotret sejak tahun 1960-an. Ia konon bisa  menghabiskan 2-3 roll film isi 36 per hari. Kemanapun ia pergi, tustel  selalu menemani. Buang airpun, ia menteng tustel," ungkap buku Pensiun  Preneur: Pensiun Sukses melukiskan Ed Zoelverdi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria kelahiran Kutaraja (Banda Aceh), 12 Maret 1943 adalah anak pasangan  berbahagia yang berasal dari Kotagadang, Bukit Tinggi. Dia hanya  menyelesaikan pendidikan formalnya sampai tingkat SLTA. Selebihnya ia  belajar secara otodidak-termasuk dalam pemotretan dan jurnalistik. Pria  yang menunaikan ibadah haji di Makkah 1988 itu, pernah mengikuti kursus  melukis di Balai Budaya Jakarta bimbingan pelukis Nazar dan Oesman  Efendi (alm). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karier jurnalistiknya diawali dari reporter lepas di Radio Republik  Indonesia untuk acara Kebudayaan asuhan Wiratmo Soekto pada 1964,  setelah sebelumnya sempat menjadi pegawai sekretariat perusahaan  pelayaran Samudera Djakarta Lloyd, Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum bergabung dengan majalah Tempo pada 1971, Ed Zoelverdi melakoni  berbagai pekerjaan, diantaranya pembantu lepas (free lance) untuk gambar  pena di koran harian Duta Revolusi, dan mingguan Abad Muslimin,  Jakarta, karikaturis majalah KAMI, asisten Director of Photography  pembuatan film Dunia Belum Kiamat disutradarai Nya Abbas Akup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang menikah dengan Farida pada 1973 ini, bergabung dengan Majalah  Berita Mingguan Tempo 1971 sebagai Staf Editor, hingga majalah ini  dibredel pada 1994, lantas bergabung dengan Majalah Berita Mingguan  Gatra pada 1995 sebagai Staf Redaktur dan Redaktur Pelaksana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tugasnya sebagai jurnalis, Ed Zoelverdi melakukan perjalanan  jurnalistik seantero wilayah Indonesia, perjalanan ke Asia meliputi  Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Kamboja, Hong  Kong, dan Macau, lawatan Eropa: Holland, Belgia, Austria, Jerman,  Inggris,Prancis, Swiss, dan Swedia, juga ke Russia. Kawasan Afrika, ke  Mesir dan Mauritius, di tenggara benua itu. 1993 Ed Zoleverdi melawat ke  Amerika Serikat, dan keliling negara ASEAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1971, Ed Zoelverdi terlibat dalam juri di berbagai aneka lomba  foto baik sebagai anggota maupun ketua. Misalnya anggota juri kontes  foto se Asia yang diselenggarakan Asia Cultural Center for UNESCO (ACCU)  di Tokyo Jepang (1989), Lomba Internasional Foto dan Gambar Remaja Abad  Elektronika VI, diselenggarakan Perhimpunan Telekomunikasi  Internasional di Jenewa Swiss (1991), serta berbagai lomba di tingkat  Asia dan nasional. Pada 1985, Ed pernah menjadi anggota juri lomba foto  majalah Asiaweek di Hong Kong. Ed juga banyak terlibat dalam merancang  lomba foto di tanah air, diantaranya Lomba Foto "50 Tahun RI", kerja  sama Majalah Garta dengan Hailai, Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jurnalis: "Belajar Terus dari Ayunan Sampai Liang Lahat"&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki usia senjanya, Ed Zoelverdi terus belajar dan mengajarkan  hal-hal yang dipelajarinya. "Belajar terus dari ayunan sampai liang  lahat" demikian buku Pensiun Preneur: Pensiun Sukses (Surasono I.  Soebar, 2008) menggambarkan motivasi belajar Ed Zoelverdi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhenti sebagai fotografer "resmi", kegiatannya semakin banyak. Dia  tercatat sebagai Instruktur bidang Fotografi Jurnalistik pada Sekolah  Jurnalistik Indonesia PWI Pusat, Dosen Tamu di Universitas Negeri  Jakarta, untuk Jurnalisme Fotografi; Senior Editor berkala bulanan  Lionmag— the inflight magazine of Lion Air, Dosen Luar Biasa FISIP  Universitas Indo-nesia, Depok, untuk Jurnalisme Foto &amp;amp; Tulis, Dosen  Tamu di Universitas Hamka,Jakarta, untuk Fotografi Jurnalistik,  Instruktur di Lembaga Pers Dr. Soetomo Jakarta (LPDS), bidang  Jurnalistik Foto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengabdikan peristiwa-peristiwa penting di lapangan ke dalam  foto, Ed Zoelverdi juga aktif menuangkan pengalamannya ke dalam buku.  Bebeberapa karyanya adalah Mat Kodak Melihat Untuk Sejuta Mata, terbit  tahun 1985. Buku tentang seluk-beluk kerja foto di dapur orang pers ini  kini terbagi menjadi tiga seri. Seri pertama adalah Kita Menulis Dengan  Cahaya, ikhtisar fotografi umum.Seri kedua, Mat Kodak Melihat Untuk  Berjuta Mata, ikhtisar fotografi jurnalistik. Seri ketiga, Dari Foto  Kita Menulis , latihan menulis menggunakan modul karya fotografi. Satu  lagi buku yang sudah berupa dummy adalah kisah lawatan jurnalistik yaitu  Mat Kodak Berselancar di Gelombang Cahaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas pengabdiannya semasa hidupnya, Ed Zoelverdi mendapat penghargaan  dan namanya diabadikan dalam berbagai ensiklopedia dan buku tokoh  lainnya. Dia menerima Kartu Pers Nomor Satu dari Masyarakat Pers  Indonesia pada Hari Pers Nasional,9 Februari 2010, Penghargaan Gatra  sebagai "Proklamator" majalah berita itu (1994), masuk Ensiklopedi Pers  Indonesia, terbitan PWI Pusat (2008), masuk buku Who’s Who in  Australasia &amp;amp; Far East, IBC Cambridge, Inggris (1991), masuk buku  235 Tokoh Bicara Tentang Buku, terbitan Yayasan Data Group, Bandung  (1988), menerima "Adam Malik Award" (Anugerah AdamMalik) untuk  pengabdian di bidang fotografi (1987), masuk buku Apa Siapa Sejumlah  Orang Indonesia,Pustaka Grafiti, Jakarta, Masuk Ensiklopedia Indonesia,  PT Ichtiar Baru - vanHoeve, Jakarta (1986), masuk buku, A Who’s Who for  Asian Cultural Center for Unesco (ACCU), Tokyo (1981).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ed Zoelverdi adalah seorang teladan dalam mengikuti perkembangan dalam  profesinya. Munculnya sistem digital dalam teknologi fotografi, beliau  pelajari dengan serius. Bahkan, pengalamannya bergaul dengan fotografi  digital ini pun sedang dituangkan dalam buku kecil berjudul Sensasi  Fotografi Digitamania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mat Kodak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang fotografer, Ed Zoelverdi menulis artikel di berbagai media cetak di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Departemen Jurnalistik Foto PWI Pusat (2003-2008) ini  mempopulerkan istilah "Mat Kodak" untuk menyebut juru foto, dalam  tulisan di Harian Sinar Harapan 13 Oktober 1973. Berkat tulisannya,  Indonesia pun memiliki sejarah tersendiri atas produk kamera merk Kodak  yang merajai pasar kamera di era 70-an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ed Zoelverdi begitu getol menyebut "Mat Kodak" di dalam artikelnya  menyebut juru foto. Lihat misalnya artikel yang ditulisnya pada 1978.  "Jangan merasa jemu, dalam kaitan sajian foto maka Mat Kodak dituntut  untuk senantiasa bermata awas. Misalnya, ketika menyaksikan sebuah batu  atau bukit yang dibabat habis, segeralah potret". (Foto Liputan Ekologi  Sebuah Spesialis Jurnalistik, Lokakarya Liputan Lingkungan Hidup untuk  Media Cetak, Muko-muko Jambi,1978). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dalam bukunya "Mat Kodak Melihat untuk Berjuta Mata".  "Kegiatan itu bernama:Fotografi Jurnalistik. Mau disebut masuk Cabang  Profesional, ya pasti! Sebab produk sang Mat Kodak di bidang ini me-mang  disajikan sebagai konsumsi nonfisik buatmasyarakat luas. Dari sini  lahirnya ungkapan be-ken: "Mat Kodak melihat untuk berjuta mata" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ed Zoelverdi: Guru Fotografi yang Kocak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ed Zoelverdi tidak hanya dikenal di kalangan wartawan Jakarta, tetapi  juga oleh beberapa wartawan senior dan masyarakat jurnalistik di  Sumatera Utara. Murid-muridnya tersebar di berbagai daerah di Indonesia.  Beberapa wartawan senior di Sumatera Utara mengutarakan kesan mereka  tentang Ed Zoelverdi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, bang Ed saya kenal sejak saya  bekerja di majalah Tempo. Saya masih ingat kritikannya terhadp foto-foto  yang pernah saya kirim. Selamat jalan Bang Ed," demikian komentar Nian  Poloan, wartawan Republika biro Medan, dan pernah menjadi wartawan Tempo  di Medan di FB pribadi saya, sesat membaca postingan berita tentang  berpulangnya Ed Zoelverdi. . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersihar Lubis, Pemred Medan Bisnis mengatakan Ed Zoelverdi adalah  seorang guru fotografer. "Dia pernah mengajar kami cara-cara mencetak  film, teknik memotret masa Pak Zakaria Pase menjadi Kepala Biro Tempo di  Medan, di era 80-an."ujar Bersihar. Di mata bersihar, selain seorang  guru yang baik, Ed Zoelverdi juga seorang humoris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi muda Sumut yang pernah mengikuti training fotografi di LPDS  Jakarta mengungkapkan kesannya. "Bang Ed ini juga dikenal kocak. Kalau  ngajar di LPDS suasananya cair, jauh dari ketegangan. Selalu ada  celetukan-celetukan penuh tawa,"ujar Lindung Budaya, peserta training  Jurnalistik di LPDS 2002. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Clara Girsang, lulusan FISIP UI Jurusan Komunikasi 2008 yang kami  hubungi melalui telepon genggam mengungkapkan: "Dia nyentrik, nggak  monoton. Kalau ngajar nggak harus di kelas. Jalan-jalan hunting foto.  Habis kuliah masih mau nongkrong di Takor (kantin FISIP UI). Buat makan  bareng sama mahasiswanya, sambil diskusi apa aja, politik, teknik foto  atau apapun," ujarnya melalui sms. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ed Zoelverdi sudah beristirahat di TPU Kemiri Rawamangun, Jakarta. Kita  kehilangan seorang fotografer besar, seperti dikatakan wartawan senior  Bersihar Lubis. Namun, karya-karyanya tidak akan pernah mati.  Keteladanan, warisan buku-buku dan tulisannya akan terus hidup di hari  para jurnalis Indonesia. Menulis dan menularkan pengetahuan jurnalistik.  Itu pelajaran kami darimu. Selamat jalan bung Ed Zoelverdi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diolah  dari Berbagai Sumber)***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Biografi, tinggal di Medan&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-3809745420218396530?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/3809745420218396530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=3809745420218396530&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/3809745420218396530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/3809745420218396530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2012/01/in-memoriam-ed-zoelverdi-1943-2012-mat.html' title='In Memoriam Ed Zoelverdi 1943-2012:  &quot;Mat Kodak&quot; Sudah Pergi (Analisa Cetak, 9 Januari 2012)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-5657931337240317388</id><published>2012-01-07T09:57:00.002+07:00</published><updated>2012-01-07T09:57:57.749+07:00</updated><title type='text'>2012: Keluar Dari Terowongan Gelap (Batak Pos, 7 Januari 2012 Hal 1)</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;h2 class="uiHeaderTitle" tabindex="0"&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/div&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Memasuki  2012, negeri ini membutuhkan pemimpin di segala level yang mampu  memahami situasi, merumuskan persoalan serta memutuskan langkah-langkah  yang cepat dan tepat untuk keluar dari persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya,  kita sudah sesak rasanya menyaksikan kasus Century, Gayus Tambunan,  Nazaruddin, Gubernur Muda Bank Indonesia, dan belakangan ini soal  Mesuji, persoalan Lapindo, masalah Tambang di Bima, kecelakaan pesawat  terbang, kapal laut, kecelakaan di darat, serta berbagai kasus yang  tidak tuntas-tuntas di tanah air. Terlalu lama kita berputar-putar di  terowongan gelap, banyak aksi mubajir tanpa arah yang jelas untuk  mewujudkan negeri yang aman, sejahtera dan harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  sekedar menyegarkan pemikiran di awal tahun ini, kami menyajikan kisah  sederhana menyelesaikan persoalan, dan menghimbau para pemimpin untuk  belajar dari cara yang sederhana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengalaman Seorang Pegawai Kereta Api&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun  lalu, saya membantu penulisan buku”Bagaikan Rel Kereta Api”,  otobiografi Osmar Simatupang, kelahiran Pardede Onan Tarahudi, 10  Februari 1936. Dia adalah seorang pegawai biasa di Perusahaan Jawatan  Kereta Api (Sekarang PT Kereta Api Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabatan  tertingginya adalah Kepala Urusan Perencanaan Kereta Api Indonesia di  Kantor Pusat Bandung. Sekolahnyapun tidak tinggi-tinggi amat. Dia hanya  lulusan Sekolah Teknik Menengah dan mendapat beberapa training atau  pelatihan-pelatihan seputar perkeretaapian di dalam negeri. Namun, dia  menyimpan pengalamannya yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, suatu sore  di era 1980-an, Osmar mengakat telepon yang berdering di kantornya. Dia  menerima pesan yang cukup singkat: Gerbong KA Surabaya-Blitar terjepit  tanah longsor, persis&amp;nbsp; di ujung terowongan Karangkates ke arah Blitar,  sepanjang 1000 meter”. Wilayah itu memang dikenal dengan tanahnya yang  labil dan sering terjadi longsir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Kepala Inspeksi X  Jawa Tengah ketika itu, dia bertanggungjawab menggeser gerbong,  sehingga tidak mengganggu arus kereta api lainnya yang melintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia  bergerak ke lapangan dan ketika tiba di lokasi, jarum jam menunjukkan  pukul 20.00 WIB. Dia berdiri di ujung terowongan yang berbeda dari  tempat terjebaknya kereta api oleh longsoran tanah itu. Dia punya dua  pilihan, kalau mengikuti jalan raya, maka dia harus menempuh jarak  sekitar 6 kilometer, sementara kalau melintasi terowongan dia hanya  menempuh terowongan sepanjang 1 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai  catatan, di erah 80-an belum ada telepon genggam dan Osmar hanya bisa  berkomunikasi dengan anak buahnya kalau bertatap muka. Dalam kesendirian  di tengah kegelapan, dia harus mengambil keputusan yang terbaik agar  gerbong yang terjebak bisa digeser. Dia memilih menembus terowongan  meski dalam keadaan gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki terowongan gelap dia  butuh penerangan. Padahal, ”Saya tidak perokok, dan tidak memiliki alat  apapun untuk penerangan. Benar-benar gelap. Di tangan saya hanya ada  batang ubi kayu!” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tongkat ubi kayu!. Itulah  satu-satunya alat yang akan digunakan untuk menuntunnya menyeberangi  terowongan. Osmar yang sudah bertahun-tahun bekerja di daerah itu, paham  benar keadaan di dalam terowongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pandangan  matanya tidak memungkinkan melihat benda-benda di sekitarnya,  pengalamannya melintasi rel itu hari-hari sebelumnya memberinya gambaran  besar terowongan itu. Ditambah dorongan rasa tanggungjawabnya, dia  berani menembus terowongan gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal tongkat ubi  kayu, dia berjalan merangkak menembus kegelapan. Tongkat ubi kayu itu  digunakannya untuk menyentuh rel di sekitarnya sebagai petunjuk arah,  mengidentifikasi dirinya berada pada posisi yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau tongkat masih menyentuh rel, maka saya berada pada arah yang seharusnya,”ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat  cerita, dia berhasil menuju lokasi terjebaknya kereta api dan bersama  anak buahnya mampu menggeser gerbong yang terjebak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Osmar  memahami tujuan, permasalahan, merumuskan tindakan dan analisa sumber  daya yang tersedia, untuk menyelesaikan permasalahan. Selain itu, dia  memiliki rasa tangungjawab yang besar untuk mewujudkan tujuan.  Persyaratan yang harus melekat pada setiap pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keluar Dari Terowongan Gelap&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaknai pengalaman Osmar di atas, saya teringat sebuah buku yang sungguh-sungguh menginspirasi. &lt;em&gt;The Seat of Soul &lt;/em&gt;yang ditulis Gary Zukav membahas tentang perubahan (tantangan) dan jalan menuju tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zukav  mengatakan: ”Kita sedang berada di tengah perubahan yang mendalam. Kita  akan bergerak melewati perubahan dengan lebih mudah jika kita mampu  melihat jalan yang akan kita lewati menuju tujuan kita, kita mencermati  apa yang sesungguhnya sedang berlangsung”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak  gambaran suram tentang negeri ini diungkapkan di awal tahun ini. 2011  misalnya, ada yang menyebutnya tahun kebohongan, atau julukan lainnya.  Entahlah!. Tentunya, hal-hal seperti ini bukan datang dari seorang  pemimpin, pasti itu datang sari pengamat yang hanya melihat kulit  luarnya. Pemimpin yang benar tidak akan mengatakan hal-hal seperti ini.  Mereka mampu berbicara terang di kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah terlalu  sering kita mendengar para tokoh di negeri ini membuat seolah-olah  bangsa ini sudah kiamat. Padahal, kenyataannya tidak. Persiapan Wisma  atlet yang digambarkan gagal, tapi berakhir dengan baik. Pemilu yang  digambarkan &lt;em&gt;chaos&lt;/em&gt;, tetapi ujung-ujungnya tidak terjadi apa-apa, Pemilu berjalan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak  orang seolah ahli menggambarkan situasi seperti tujuh orang buta  menggambarkan seekor gajah. Hanya melihat persoalan secara  sepotong-sepotong. &amp;nbsp;Padahal, dia tidak memiliki pemahaman apa yang  diungkapkannya sedalam Osmar memahami terowongan gelap, serta mengambil  tindakan untuk keluar dari terowongan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mendengar  gemuruh sudah menganggapnya&amp;nbsp; guntur, melihat asap sudah mengatakan itu  api". Lantas mengambil keputusan hanya berdasarkan ”tampak seperti”,  bukan kenyataan masalah yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keluar  dari kegelapan, para pemimpin harus benar-benar mengambil keputusan  bukan berdasarkan dari apa yang "tampak seperti", tetapi keputusan yang  benar-benar didasarkan atas gambaran situasi yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita  membutuhkan orang yang bisa membuat terang di kegelapan. Bukan  menyalakan api sembarang api, tetapi butuh penyala lilin, lampu untuk  menerangi jalan. Bukan hanya membakar-bakar api, sehingga persoalan  tidak selesai, bahkan malah menimbulkan kerugian yang lebih besar.  Pembakaran-pembakaran berbagai fasilitas pemerintahan di akhir tahun  lalu adalah contoh.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan negeri ini tentu tidak  sesederhana kisah di atas. Namun prinsipnya sama, memahami tujuan yang  akan dicapai secara benar, masalah atau tantangan, tau jalan keluar dari  persoalan dengan keputusan yang terbaik,&amp;nbsp; tepat dan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga  memasuki 2012, pemahaman para pemimpin di segala level tentang  persoalan yang dihadapi pada levelnya sedalam pemahaman Osmar soal  terowongan. Para pemimpin belajarlah dari kisah sederhana ini. Kita  merindukan suasana di luar terowongan gelap. Sudah sesak rasanya berada  di ruang yang terus menerus dililit persoalan korupsi, pelanggaran HAM,  ketidakadilan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Biografi, Tinggal di Medan&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-5657931337240317388?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/5657931337240317388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=5657931337240317388&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/5657931337240317388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/5657931337240317388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2012/01/2012-keluar-dari-terowongan-gelap-batak.html' title='2012: Keluar Dari Terowongan Gelap (Batak Pos, 7 Januari 2012 Hal 1)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-5341753241883939274</id><published>2012-01-05T01:19:00.003+07:00</published><updated>2012-01-06T01:24:22.462+07:00</updated><title type='text'>Artikel dan Buku yang Saya Tulis 2011</title><content type='html'>&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;/div&gt;&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="mls"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Menulis  dan menularkan pengetahuan menulis mendapat porsi besar dalam kegiatan  saya pada 2011. Selain menulis artikel dan buku, saya berkesempatan  sharing pengalaman menulis dengan wartawan-wartawan pemula di Nias dan  Pematangsiantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang 2011 saya menulis 50 artikel  yang dipublikasikan di berbagai media, serta meluncurkan 2 buku  otobiografi. Saya merangkumnya dalam artikel ini, sehingga memudahkan  saya dan  pembaca yang ingin mencarinya kalau diperlukan. Sebagian besar  artikel-artikel ini masih bisa  diakses di media-media online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  ingin berbagi dengan pembaca soal pendokumentasian karya-karya tulis,  sebagai salah satu hal penting dalam kegiatan menulis. Pasalnya, topik  yang pernah kita tulis sebelumnya bisa muncul kemudian. Selain itu,  dengan artikel seperti ini, maka saya dan Anda akan termotivasi untuk  mengatakan: "Akh gitu aja!. Bisa juga akh luar biasa, saya harus menulis  sekarang". Itu pengalaman saya dahulu ketika seorang penulis memaparkan  hasil karya yang ditulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Do not tell but show",&lt;/em&gt;  itu salah satu prinsip untuk mengajak seseorang melakukan sesuatu.  Banyak orang berteori menulis itu mudah, menulis itu gampang. Gampang  kalau hanya menulis satu artikel dalam satu tahun, atau satu buku dalam  lima tahun. Tetapi kalau merujuk seorang teman yang bisa menulis 3  artikel setiap hari di koran bergengsi di Amerika, bukan hal mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat  Anda tahu, produksi tulisan terbanyak yang pernah saya hasilkan adalah  di 2011. Saya mencapainya setelah menjalani&amp;nbsp; proses yang tidak mudah.  Proses yang memberi kepuasan tersendiri, meski&amp;nbsp; bagi yang lain itu hanya  biasa-biasa saja.Alasan ini pula yang&amp;nbsp; mendorong saya menceritakan  proses itu. Terus terang, saya belum bisa bercerita seperti penulis  lain, soal uang yang diperoleh atau ketenaran. Mungkin suatu ketika!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap  tahun, sejak 2007, saya membuat daftar artikel per tahun. Lalu saya  hitung. Saya sedih dan jengkel sekali, ketika&amp;nbsp; 2007 saya hanya bisa  menulis 6 artikel per tahun. Kemudian merangkak, merangkak dan  merangkak. Bukan saya tidak tau menulis, bukan karena tidak ada masalah  yang bisa dibahas. Tetapi kadang saya anggap enteng, sehingga artikel  yang sudah dimulai, dibiarkan tidak selesai dan akhirnya malas  menulisnya lagi. Artinya tidak dikirim ke media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama  dengan proses menulis biografi dan otobiografi. Saya memulainya sejak  2002,dan sampai 2009 sudah menulis sekitar 12 buku otobiografi dan  biografi. 2010 kosong. Syukur, tahun 2011i saya mampu membantu  penulisan&amp;nbsp; dua buku otobiografi dan selesai, artinya diluncurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  Misi: "Menulis Fakta Memberi Makna" atas keresahan hati selalu membakar  semangat saya untuk terus menulis, meski honor menulis belum memadai.  Menulis adalah merekam peradaban. Barangkali ini belum begitu berharga  saat ini. Sepuluh, dua puluh atau bahkan ketika saya sudah tiada,  goresan-goresan yang masih jauh dari sempurna ini mungkin bisa  bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah atau kualitas tulisan yang saya  hasilkan setahun ini masih jauh dari apa yang dihasilkan para penulis  handal. Kalau saya membaca buku Albertiene Endah tentang otobiografinya  Titik Puspa misalnya. Jauhlah. Rasa ketinggalan itu, akhirnya  menghasilkan sebuah artikel di 2011:Mengenal      Alberthiene Endah  ”Karya dan Prestasi Perempuan dalam Biografi” . Saya memang berbeda dari  dirinya, baik dalam kemampuan dan pengalaman, namun tidak perlu merasa  iri atau rendah diri. Kalau saya bekerja seperti dia, pasti juga bisa.  Tapi memerlukan proses. Membaca artikel ini semoga&amp;nbsp; rekan-rekan saya  sesama penulis yang  mulai &lt;em&gt;down&lt;/em&gt;, termotivasi lagi melanjutkan karya-karyanya untuk dinikmati  masyarakat kita di daerah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  mengejar jumlah dan kualitas, niat kami untuk mendorong yang lain terus  menulis barangkali merupakan hal yang tidak kalah penting. Pengalaman  memberikan training jurnalistik bagi 8&amp;nbsp; orang wartawan   mediaonline   http://www.nias-bangkit.com dan 10 orang wartawan pemula   Harian Sinar   Indonesia Baru, merupakan hal yang menarik bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan  ini&amp;nbsp; memberi semangat baru bagi saya sebagai seorang penulis,   karena  berkesempatan melakukan sharing dan menebar pengetahuan menulis. Saya  senang melihat munculnya bibit-bibit penulis yang baru. Mereka bukan  tidak tau  menulis, tetapi belum memperoleh pembekalan yang baik.&amp;nbsp; Saya  berharap semakin banyak warga Sumut yang menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbangan  ini  barangkali masih kecil untuk saat ini, tetapi saya yakin lima   atau enam tahun  ke depan, mereka akan menjadi penulis yang baik.  Sekecil apapun itu kiranya tentu ada manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga  mengucapkan terima kasih kepada para pembaca artikel-artikel saya.  Respon dan kritikan anda adalah energi baru, "penjaga roh"&amp;nbsp; bagi saya  untuk terus melakukan pembelajaran dan koreksi terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ejaan,  sekali lagi ejaan, memang menjadi masalah karena saya adalah lulusan  Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Saya butuh  editor, butuh kritikan soal ejaan. Tapi, keterbatasan bukan alasan. Saya  harus memperbaikinya sedikit demi sedikit. Saya yakin kesempurnaan  hanya diperoleh dengan terus melakukan perbaikan-perbaikan. Dan tak  seorangpun mencapai kesempurnaan selama dia hidup, tetapi kita terus  berusaha bergerak ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari belajar mengejar   keunggulan, mendorong karya-karya unggul,  tidak merendahkan atau   meremehkan sekecil apapun yang dilakukan teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap  perjalanan karier selalu memerlukan dukungan. Tanpa dukungan media,  tentu kegiatan penulisan tidak mungkin berlangsung. Saya mengucapkan  terima kasih kepada media atau orang yang memberikan  kepercayaan kepada  saya untuk berkarya, diantaranya Analisa, Jurnal  Medan, Sinar  Indonesia Baru, http://www.nias-bangkit.com serta media  lainnya.&amp;nbsp;  Demikian pula beberapa mediaonline diantaranya  http://www.kompas.com,  http://www.detik.com, serta berbagai mediaonline  lainnya yang memuat  kembali artikel-artikel saya (tentu dengan menyebut  sumber media dimana  saya&amp;nbsp; menulis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hayat, saya tidak akan pernah  lupa rekan-rekan, J.Anto dan  Bersihar Lubis, yang memberi&amp;nbsp; bekal dan  semangat untuk  menulis. Semoga kalian berdua tetap semangat, dan  hari-hari ke depan  mendapat berkat kesehatan yang prima. Demikian juga  sesama rekan penulis yang meluangkan waktu&amp;nbsp; sharing untuk memperkaya ide  dan menumbuhkan semangat menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seraya berdoa agar  Tuhan menguatkan saya terus menulis, merekam peradaban di daerah ini,  serta memotivasi yang lain untuk menulis,&amp;nbsp; saya berharap pada 2012 masih  diberi berkat kesehatan dan kejernihan berfikir untuk terus  menghasilkan artikel, buku untuk dinikmati. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berenanglah, jangan hanya belajar teori berenang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Harian Analisa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pelajaran       dari Kekalahan Timnas Indonesia Melawan Malaysia: ”Sepakbola,  Persatuan      dan Kesatuan” (Analisa 4 Januari 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kampanye      Minat Baca : Meneladani Pengalaman Membaca Para Tokoh (Analisa, 21 Januari      2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menggantung      Lonceng di Leher Kucing (Analisa, 22 Februari 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;In Memoriam      Rosihan Anwar: Penulis Orbituari Handal (Analisa, 16 April 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Christine      Lagarde: Perempuan Pertama Direktur IMF (Analisa, 5 Juli 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Amanda      Hocking, Sukses Penulis Self Publishing:&amp;nbsp;      Dua Tahun Meraup Jutaan Dollar (Analisa, 13 Juli 2011)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;PM      Perempuan Pertama di Thailand Yingluck Shinawatra (Analisa, 18 Juli 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemicu Ide      Menulis (Analisa, 29 Juli 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyambut      e-Procurement 2012 (Analisa, 9 Agustus 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;In      Memoriam: Charles Breijer (1915-2011) (Analisa, 3 September 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sepenuh      Hati Menyenangkan, Setengah Hati Menyakitkan.(Harian Analisa Edisi Cetak,      4 Oktober 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Belajar      dari Kesalahan (Analisa, 12 September 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bila Kamera Tersembunyi KPK Bicara (Analisa, 26 September 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menulis      Kegelisahan dan Impian (Harian Analisa Cetak, 19 Oktober 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;83 Tahun      Sumpah Pemuda: Mencintai Bahasa Indonesia yang Kian Mendunia (Analisa, 28      Oktober 2011&lt;/li&gt;&lt;li&gt;In Memoriam: Titi Said (1935-2011)      ”Jadilah Angin dan Air yang Baik” (Analisa Cetak, 28 Oktober 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Google Book      dan Demokrasi Pengetahuan (Analisa, 7 Nopember 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dakka      Hutagalung, Pencipta Ratusan Lagu Batak, Lagunya di Puja, Tinggal di Rumah      Kontrakan (Analisa, 18 Nopember 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Medan!      Kapan Punya KA Seperti Jakarta (?) (Analisa, 30 Nopember 2011 Hal 25)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Harian Jurnal Medan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Catatan Ringan dari Bedah Buku Karya      Penulis Sumut (Jurnal Medan, 30 Juli 2011) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di Era Internet: Say No, to Plagiat!      (Jurnal Medan, 3 Agustus 2011). &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kemajuan Pembangunan dan Stress di      Jalan Raya (Jurnal Medan, 08 September 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memaknai 106 Tahun PDAM Tirtanadi      (Jurnal Medan, 10 September 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Belajar dari Para Penulis Sukses Indonesia (Jurnal      Medan, 29 September 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penegakan Hukum Sepakbola dan Korupsi      &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ( Jurnal Medan, 8      Oktober 2011) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Belajar      dari Kisah Tiger Woods Lilin Itu Meleleh. Lalu......! (Jurnal Medan, 13 Oktober 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sisi Lain dari Sumpah Pemuda ke 83: Tegakah Anda Tidak Menghafal Indonesia Raya? (Jurnal Medan, 26 Oktober 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Motivasi Menulis (Harian Jurnal      Medan, 3 Nopember 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengenal      Alberthiene Endah ”Karya dan Prestasi Perempuan dalam Biografi” (Harian      Jurnal Medan, 7 Nopember 2011) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Renungan SEA Games 2011 (Harian Jurnal Medan, 12      Nopember 2011) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Juara      Umum, Tanpa Emas Sepakbola (Harian Jurnal Medan, 24 Nopember 2011)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;http://www.nias-bangkit.com&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Merasa      Asing di Negeri Sendiri, Kolom, www.nias-bangkit.com.      Posting 25 Nopember 2010.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hadiah      Tahun Baru dari Delasiga, Kolom, www.nias-bangkit.com. Posting 24 Januari 2011.&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Laporan       dari Nias Selatan (1): Pertanian Bergairah tapi Pelabuhan  Terbengkalai,      Kolom. www.nias-bangkit.com.      Posting 26 Maret  2011.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Laporan      dari Nias Selatan (2): Antara Teluk Dalam dan Hilizo’ayamböwö,Kolom,&amp;nbsp; www.nias-bankit.com. Posting 26 Maret 2011. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apolonius      Lase dan Kisah di Balik Penerbitan Kamus Li Niha, Figure, www.nias-bangkit.com. Posting, 26 Maret 2011. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ria      Telaumbanua: Hotel Itu Ambruk, Sahabat Saya Meninggal, Figure: www.nias-bangkit.com. Posting 2 April      2011&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelesir  ke      Nias Barat (1): Gunungsitoli-Sirombu Mulus, Kolom/Travel:  www.nias-bangkit.com. Posting: 12 April 2011. Artikel ini dimuat juga di  http://www.detiktravel.com&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelesir ke      Nias Barat (2):  Desir Rupiah di Pantai Sirombu, Kolom/Travel: www.nias-bangkit.com.  Posting 12 April 2011. Artikel ini dimuat juga di  http://www.detiktravel.com&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelesir ke      Nias Barat (3):  Gerakkan Ekonomi Sirombu, Kolom/Travel: www.nias-bangkit.com. Posting,  12      April 2011. Artikel ini dimuat juga di  http://www.detiktravel.com&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nirwan      Zendratö: Kembali Jadi Sopir Rental, Figure, www.nias-bangkit.com. Posting: 29 April 2011&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bawomataluo:  Keindahan      dan Misteri, Kolom, www.nias-bangkit.com.      Posting 3  Mei 2011. Selain www.nias-bangkit.com,      kemudian juga dimuat di  www.detiktravel.com      dan Jarak Pantau, Nias.. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Regenerasi       Hombo Batu, Kolom, www.nias-bangkit.com. Posting 17 Mei 2011. Artikel  ini dimuat juga di http://www.detiktravel.com&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fafiri,       Permainan Tradisional Nias yang Terlupakan (ditulis bersama Nitema       Mendrofa), Kolom, www.nias-bangkit.com.      Posting 19 Mei 2011.Artikel  ini dimuat juga di http://www.detiktravel.com&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Junisan      Ndraha, Penyiar Muda Berbakat di RRI Gunungsitoli, Figure, www.nias-bangkit.com, 19 Mei 2011.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hikayat       Manao: Beban Moral Menurunkan Nilai Budaya, Figure,  www.nias-bangkit.com. Posting 1      Juni 2011. Artikel oni dimuat juga  di http://www.kompas.com. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Harian Sinar Indonesia Baru&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kampung      Silau Marawan: Rakyatnya Kreatif, Tapi Sarana Jalan Memprihatinkan (Sinar Indonesia Baru, 22 Juni 2011)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;80 Tahun      Floriana Tobing: Siswa Sekolah Diakonia Pertama ke Jerman (Sinar Indonesia      Baru, 18 September 2011)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Harian Simantap News&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Malam ini 2 Tahun Lalu: Pdt Dr Armencius      Munthe Pergi untuk Selama-lamanya (Harian Simantap News, 29 Juli 2011)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;http://www.ponijanliaw.com. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengenal Ponijan Liaw di Dunia Maya (posting 2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;http://termanis.com/interview-dengan-jannerson-girsang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Mengenal Lucya Chriz. Penulis Novel Amang Parsinuan (2011). Artikel ini  juga diposting di http://www.harangan-sitora.blogspot.com,  http://www.blogindonesia.com,&amp;nbsp; www.yasni.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Buku-buku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tuhan Pemimpin Hidupku (Otobiografi, 2011)&lt;br /&gt;2. Bagaikan Rel Kereta Api (Otobiografi, 2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Catatan: Tahun ini saya dengan dibantu beberapa teman menulis buku biografi dan otobiografi ke 13 dan 14 sejak 2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Training Jurnalistik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret-Juni 2011: Training Jurnalistik bagi wartawan http://www.nias-bangkit.com.&lt;br /&gt;Agustus 2011: Training Jurnalistik bagi wartawan Harian Sinar Indonesia Baru Biro II Pematangsiantar.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;h2 class="uiHeaderTitle"&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-5341753241883939274?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/5341753241883939274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=5341753241883939274&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/5341753241883939274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/5341753241883939274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2012/01/artikel-dan-buku-yang-saya-tulis-2011.html' title='Artikel dan Buku yang Saya Tulis 2011'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-3616539821278638829</id><published>2011-12-26T19:18:00.007+07:00</published><updated>2011-12-26T19:54:27.421+07:00</updated><title type='text'>Peringatan 7 Tahun Tsunami</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pengantar:&lt;/span&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Mengenang  tujuh tahun Tsunami Aceh Nias. Tujuh tahun lalu, sekitar pukul 08.00  pagi, kami menghadiri acara memasuki rumah seorang warga di Jalan Nyiur,  Perumnas Simalingkar, Medan. Acara tertunda beberapa menit, karena  semua orang keluar rumah. Gempa besar!. Tiang listrik, kayu kapuk  bergoyang-goyang, kepala rasanya pening. Kejadian berlangsung beberapa  menit. Kemudian acar dimulai dan tidak ada berita sampai acara usai.  Ternyata, di belahan bumi lain, Aceh dan Nias, lebih dari 200 ribu tewas, 500.000  kehilangan tempat tinggal, dan sebagian besar infrastruktur dan pelayanan publik provinsi paling ujung Barat Indonesia itu rusak berat. Semoga  kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi bangsa ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kami sendiri akhirnya bertugas di daerah Gempa/Tsunami Aceh selama dua tahun. Untuk mengenang awal-awal penanganan peristiwa itu kami memposting artikel yang menggambarkan situasi di sebuah desa di daerah Pidie, setelah 10 bulan peristiwa itu berlangsung. Artikel yang kami tulis Nopember 2005,&amp;nbsp; masih bisa diakses pada mediaonline dimana kami pernah bekerja sebagai Information Officer: http://www.act-intl.org.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial,Helvetica;"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;h1 align="left" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;h1 align="left" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ten months after the tsunami, people yearn to go back home&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div align="left" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;By Jannerson Girsang, ACT International&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Pidie, Aceh, Indonesia, November 2, 2005--&lt;/b&gt;After  ten months of living in barracks and tents, internally displaced  persons (IDPs) yearn to leave these temporary living quarters and to  return to their original villages. These desires are more intense for  Indonesians during these times of Muslim and Christian religious  celebrations (Idul Fitri and Christmas) because of the custom of  gathering in one’s hometown.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;The desire  to return home had been previously constrained by the lack of shelter,  water and sanitation, earnings and other reasons. Now, some of these  constraints have decreased. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Among the  people who want to return to their homes are residents of one small  village in Indonesia’s Aceh province that was hit by the Dec. 26  earthquake last year, measuring 8.7 on the Richter scale, and the  ensuing tsunami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“I get  fish enough for our daily needs and installment payments,” said  30-year-old Ramli with sparkling eyes on a day in late October. Three  days earlier, the resident of Lampoh Kawat in Pidie district had moved  into a new, 36-square-meter house after he and his family had lived in a  settlement of barracks and tents for several months.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ramli explained that he lost his house and boat in the tsunami, but he has been able to resume his job as a fisherman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“We are  very happy. We have our own house now. Compared to former days, now we  have our private water and sanitation facilities,” said the father of a  3-year-old son. Ramli is a beneficiary of the shelter and  livelihood-recovery program of Church World Service (CWS), one of three  members of the global alliance Action by Churches Together (ACT)  International responding to the tsunami in Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Another  fisherman, Zakaria, 45, is also involved in CWS-ACT’s shelter and  livelihood-recovery program, which has provided him with a boat to  return to work. “If we went to the sea for several hours, we can catch  fish, and in the afternoon we could go to the field or conduct other  activities for additional income,” said Zakaria, whose house and all his  possessions were swept away in the tsunami. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“I am  thankful to CWS. The boat helps my family. I have now more choices to  earn money,” he said. Zakaria’s other activities include transporting  people to the market on his motorcycle and volunteering for the ACT  member in its house-construction program. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Zakaria  said he has participated in all the phases of house construction with  CWS-ACT, from planning to implementation. “I myself participated in  interior design and also the supervision of the construction. I am  satisfied with my house-to-be,” the father of three school-aged children  explained. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramli and Zakaria are two of the many people who have expressed out grateful they are to be going home. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Everybody  is busy earning an income in various ways while they wait for their new  houses to be built. Some have even provided carpentry services  themselves to hurry the construction along.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ummiah  Abbah and Ainsyah Amin are two examples of women who are actively  supporting their families economically while waiting for their new  houses to be completed. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;While  harvesting oysters in the river beside Lampoh Kawat sub-village, Ummiah,  45, said she does not feel comfortable in the temporary barracks where  she has been living since the tsunami struck.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“My house  was destroyed by the tsunami, but I miss this place to live and to work  again,” she said, referring to the river near her original home. “It is  too far from the barracks to work here. No place can replace the harmony  in this village. When can I occupy my house, sir?” she asked with  slight impatience. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ainsyah, a  60-year-widow, slashed sike (a plant used as a raw material for woven  products) next to her house, which is under construction. Ainsyah can  make three mats from sike in ten days and sells them at the local  markets. She is living in a temporary shelter built from the ruins of  her house, like many other families in this village.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“I prefer  to stay here because I can do my routine job and socialize with people. I  miss the harmony of life,” said Ainsyah, whose husband died several  years ago. Some of her five adult children are married, some of whom  also live in this village.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The village where Ummiah and Ainsyah live is 200 kilometers  southwest of Banda Aceh, the capital of Aceh province. The village is  two kilometers off the main road. When the earthquake and tsunami struck  here ten months ago, houses and property - boats, cattle, shrimp ponds  and personal belongings – were damaged or destroyed. One woman was  killed, and many people were injured. Before the tsunami, Lampoh Kawat  was rich in resources. It is located near the coast of Malacca Straits,  where people catch fish in abundance, raise shrimp in ponds, raise  animals and grow coconuts. Plenty of pandanus trees, used as a craft  material, also grow naturally in this tiny village of 34 households. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;CWS, with  the support of partners and ACT members around the world, began working  here in April and has contributed to a significant change of the lives  of the village’s residents. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Beginning  with health services provided through mobile clinics, CWS started a  livelihood program and has distributed 26 boats to fisherman to replace  their boats that were swept away by the tsunami. In its livelihood  program, CWS-ACT cooperates with PASKA, a local foundation. Fisherman  who receive a boat also participate in a community-based revolving loan  system as a token of social accountability to the community. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Every  time when the earnings of the fisherman is more than Rp 50,000 [US$5],  they should contribute 15 percent of the excess earnings to this  community-based revolving fund system, compiled by chosen members of the  community,” explained Evy Kaban, CWS-ACT’s livelihood-recovery program  coordinator in Banda Aceh. “The money collected from all fishermen will  be used as a revolving fund to the 16 people who haven’t had earnings  yet. They can use the money as seed capital for small enterprises.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since August, CWS-ACT has completed some of the 34 houses in  the shelter program for the families of Lampoh Kawat whose houses were  destroyed. CWS-ACT plans to build 300 houses across Aceh, but is finding  it difficult to locate the right land for new houses. A lack of  coordination and persistent claims from other donor agencies over land  ownership has led to confusion among the local authorities and community  members.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Constructing  houses in Aceh is not a simple task. Indra, CWS-ACT’s technical shelter  officer stationed in Banda Aceh, said he faces constraints in providing  materials for the housing construction. “We have to take legal logging  material from Medan. It takes time to deal with administration of  things,” he said. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;In order  to increase the local income, CWS-ACT also outsources the work of  windows and doors to local carpenters and the construction to the local  people and the owners of the houses. “It is easy to build houses if not  considering the local participation. We just let contractors build, but I  worry if we do so, the continuation and sense of belonging will be  different,” said Indra. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;One factor  in the success of the CWS-ACT housing program, according to Indra, is  that the small sub-village is easy to manage and monitor. “They are very  cooperative and contribute their talents that make this construction  take place well,” said Indra. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Indra said the government and local people are working together to preparing land and when it comes to construction. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;In the  village, the French Red Cross is taking care of the drinking water  supply with water trucks and a tank. However, the long-term supply of  drinking water for the village is uncertain. CWS-ACT is ready to take on  this responsibility, but has to consider many other players and  factors, such as other agencies competing and the fact that the  government’s rehabilitation and reconstruction program began late.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Source: http://www.act-intl.org. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-3616539821278638829?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/3616539821278638829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=3616539821278638829&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/3616539821278638829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/3616539821278638829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/12/peringatan-7-tahun-tsunami.html' title='Peringatan 7 Tahun Tsunami'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-5027076727797074571</id><published>2011-12-14T15:14:00.003+07:00</published><updated>2011-12-14T17:49:59.549+07:00</updated><title type='text'>”Asa Diboto Hamu, Ise Na Mate On, Ise Ahu” (Supaya Kamu Tau Siapa yang Meninggal ini dan Siapa Saya)</title><content type='html'>Oleh: Jannerson Girsang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah panas terik  menjelang tengah hari, ratusan orang sedang berkumpul di sebuah rumah di  perumahan murah di sebelah Selatan Medan. Dua hari sebelumnya salah  seorang penghuni rumah tipe 36 yang sudah dikembangkan itu meninggal  dalam usia 70 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Batak menyebutnya &lt;i&gt;mate saur matua&lt;/i&gt;.  Selain meninggal dalam usia lanjut, dua putri dan satu anak  laki-lakinya sudah menikah dan masing-masing sudah memberinya cucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang  tua yang meninggal seperti ini akan mendapat penghormatan terakhir baik  secara keagamaan dan secara adat sebelum diantar ke pemakaman.  Terdengar lagu-lagu gereja serta suara gendang Batak melalui pengeras  suara yang dipasang di dua sudut halaman yang sudah dipasangi taratak  itu.Para undangan duduk di kursi yang disediakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara jenazah yang sudah berada dalam peti mati  diletakkan rumah&amp;nbsp; dan dikelilingi anak-anak dan  cucunya. Posisi peti  bagian kaki mengarah ke pintu keluar rumah.  Disebelah kanan peti  jenazah adalah anak-anak lelaki dengan para istri  dan anaknya  masing-masing, dan disebelah kiri adalah anak-anak perempuan  dengan  para suami dan anaknya masing-masing. Laki-laki memakai jas dengan ulos  Batak di bahunya, wanita memakai kebaya. Semuanya serba hitam. Warna  berkabung. Wajah mereka mengguratkan kesedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi  harinya sudah berlangsung acara memasukkan jenazah ke dalam peti dan  diikuti dengan kebaktian singkat dari pihak gereja.&amp;nbsp; Lantas acara &lt;i&gt;manortor&lt;/i&gt; yang diawali &lt;i&gt;dongan tubu&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;hula-hula&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;boru&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;dongan sahuta&lt;/i&gt; serta kolega-kolega alamarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang  pria bertubuh tegap, rambut putih disisir rapi, dengan jas necis warna  biru mendekati mikrofon, setelah beberapa saat sebelumnya,&amp;nbsp; protokol  sudah memberi aba-aba giliran ucapan duka dari kolega almarhum. Dia  berbicara mewakili kolega almarhum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil merapikan dasi berwarna merah &amp;nbsp;buatan Prancis  itu, dia mulai berkicau. Matanya memandang datar ke depan, sedikit  mendongakkan kepalanya ke atas. Dia tidak menunjukkan perasaan sedih,  sebagaimana wajah-wajah para keluarga di depannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keluarga  almarhum dan saudara-saudara yang sedang berduka,” ujarnya mengawali  pidatonya, sambil melirik seorang pria di sebelahnya, teman satu  kelasnya di SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seperti orang yang mengucapkan  ungkapan duka, dia layaknya seperti seorang yang sedang berkampanye,  seperti Caleg mencitrakan dirinya seorang yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian  pasti belum tau bagaimana hubunganku selama ini dengan almarhum. Saya  satu sekolah dengan beliau mulai dari SD hingga ke SMA”ujarnya. Suaranya  ditahan sejenak, seraya berfikir sebentar dan mengancingkan jasnya yang  terbuka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di SD, saya juara I kelas dan almarhum juara  III”, sambungnya dengan sedikit menoleh ke samping sambil tersenyum  kepada seorang perempuan tua. Perempuan itu memandangnya lirih dan  kurang simpatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria ini terus bersemangat dan  menceritakan kisah mereka ketika duduk satu bangku di SMP.Padahal  orang-orang di sekitarnya sudah gelisah atas kata-katanya yang  bertendensi melecehkan almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika kami di SMP,  tiga tahun saya Juara Umum dan almarhum, paling-paling Juara 1-atau  Juara III Kelas,”ujarnya tak peduli sikap seorang pria beruban di  depannya yang dari tadi sudah garuk-garuk kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahnya  berlanjut dengan kebersamaan mereka di SMA. Dengan bersemangat tak  memperdulikan cibiran orang sekelilingnya, pria itu melanjutkan pidato  pencitraan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di SMA, kami sudah berbeda jurusan  walau masih satu sekolah. Dia masuk Jurusan Bahasa, saya masuk Jurusan  IPA, jurusannya Habibie,”katanya membusungkan dada dan menatap tajam  pemain musik yang sejak dari tadi membunyikan gitar elektroniknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setelah  tamat SMA, kami berpisah. Saya masuk ke ITB jurusan Pertambangan,  almarhum masuk ke Universitas Swasta, di Jawa Tengah, jurusan  Sastra,”ujarnya dan disambut gemuruh celotehan para keluarga yang sedang  berduka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bah, naboha &amp;nbsp;do amanta on? (Bagaimana Bapak ini?)”ujar seorang pria setengah baya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa peduli sekelilingnya, pria yang datang dengan berpenampilan parlente itu tetap melanjutkan kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setelah  lulus dari Perguruan Tinggi, kami kemudian bekerja.Saya menjadi  Konsultan Pertambangan Asing di Jakarta, almarhum menjadi penulis cerpen  yang hanya dimuat sekali seminggu,”ujarnya sambil memandang ke sebelah  kiri kemudian memutar kepalanya hingga dia bisa memandang seluruh  undangan yang hadapan matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para undangan merasa  gelisah dan nyeletuk.Pemain musikpun terus menggangunya dengan petikan  gitar supaya pidato jangan berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Orang sudah  mati kok masih diremehkan. Gila ini orang,”ujar seorang ibu bekulit sawo  matang, berwajah cantik yang berdiri di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil  memperhatikan sikap orang di sekitarnya, pria tadi berhenti berbicara.  Seolah meraih tenaga baru. Lantas, kembali&amp;nbsp; berbicara lantang. “Kalian  tau mengapa ini saya ceritakan?,”ujarnya beretorika kepada para  undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biar kalian tau siapa saya, siapa yang meninggal ini!. Sekian dan Terima Kasih,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar  hanya ingin mencitrakan diri, usai berkicau, tanpa menyalami keluarga  dia langsung beranjak menuju sedan mewah yang diparkir di pinggir jalan  sempit menuju rumah duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda geram  membacanya?. Jangan tiru perilaku pria ini. Barangkali kita tidak sadar  sering melakukannya dalam bentuk yang lain. Umumnya ketika seseorang  berpidato saat seorang pejabat meninggal. Umumnya ketika seseorang berpidato saat seorang pejabat meninggal. Versinya sedikit berbeda dengan di atas. Kejam sekali, orang meninggalpun sering  dijadikan sebagai ajang pencitraan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini  belum dimuat di media manapun. Bagi yang ingin mempublikasi harus seizin  penulis. Bisa diakses juga di Facebook saya.http://www.facebook.com/note.php?saved&amp;amp;&amp;amp;note_id=307542155943803&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-5027076727797074571?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/5027076727797074571/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=5027076727797074571&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/5027076727797074571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/5027076727797074571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/12/asa-diboto-hamu-ise-na-mate-on-ise-ahu.html' title='”Asa Diboto Hamu, Ise Na Mate On, Ise Ahu” (Supaya Kamu Tau Siapa yang Meninggal ini dan Siapa Saya)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-2720263103337546272</id><published>2011-12-13T03:07:00.003+07:00</published><updated>2011-12-13T03:29:50.166+07:00</updated><title type='text'>Buku Berhentinya Soeharto  Fakta dan Kesaksian Harmoko</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21  April 1998, hampir 14  tahun yang lalu, sama dengan jutaan rakyat  Indonesia lainnya, kami  menyaksikan peristiwa pengunduran diri Soeharto  melalui layar televisi  di kampung kelahiran saya, Nagasaribu, saat  berlibur bersama anak-anak.  Desa ini terletak sekitar 100 kilometer ke  arah Selatan Medan,  Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  bersyukur, kemajuan teknologi  memungkinkan saya menyaksikan peristiwa  penting di ruang Istana  Kepresidenan, ruang pengendali negeri  berpenduduk 200 juta jiwa ketika  itu. &amp;nbsp;Saat itu tidak banyak yang saya  tau. Ternyata di balik peristiwa  di atas, banyak fakta yang samar-samar  bahkan gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa   yang terjadi di balik peristiwa di layar kaca pada saat pengunduran   diri Soeharto, bagi saya yang jauh dari informasi seputaran istana dan   mungkin juga generasi muda lainnya merupakan misteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa   hari ini, kami merampungkan membaca buku ”Berhentinya Soeharti, Fakta   dan Kesaksian Harmoko”. Walau buku itu sudah lebih dari tiga tahun kami   peroleh dari bapak Moh. Yazid, mantan Ketua PWI Sumut. Maklum, bacanya   hanya saat tertentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firdaus Sam, pengarang buku itu, dan dikenal sebagai seorang dosen Ilmu Politik di berbagai Universitas di Indonesia&lt;b&gt;, &lt;/b&gt;menggambarkan suasana pengunduran diri Soeharto sebagai berikut:&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamis   21 April 1998, Presiden&amp;nbsp; Soeharto, mengenakan safari warna gelap dan   berpeci, dengan langkah tenang meninggalkan Ruang Jepara menuju Ruang   Credentials, berdiri di depan mikrofon. Dengan nada datar tanpa emosi,   diawali dengan ucapan : &lt;i&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/i&gt;,&amp;nbsp; ….”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata   Soeharto dan sebagian kondisi ruangan di Istana Presiden dapat secara   langsung menyaksikan melalui layar televisi peristiwa di pagi hari 21   April 1998 itu. Cuma mengungkapkannya dengan kata-kata seperti di atas,   mungkin tidak mampu lagi, karena sudah banyak lupanya. Itulah gunanya   buku ini.&amp;nbsp; Kehadiran buku ”Berhentinya Soeharto : Fakta dan Kesaksian   Harmoko” membantu memahami apa yang terjadi di balik peristiwa 21 April   1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  seolah dibawa menelusuri sebagian lorong  samar-samar perjalanan bangsa  Indonesia, khususnya, saat-saat menjelang  kejatuhan Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku  setebal 298 halaman yang  diterbitkan PT Gria Media Prima, Jakarta pada  Mei 2008 ini, terdiri  dari enam bagian yakni Bagian 1 : “Prolog”,&amp;nbsp;  Bagian 2: “Ketika Palu Itu  Patah”, Bagian 3: “Bulan Menegangkan Yang  Mengawalinya”, Bagian 4:  “Angin Reformasi Yang Dinamis”, Bagian 5:  “Detik –Detik Terakhir” dan  ditutup dengan Bagian 6: “Epilog”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku  ini menjadi  menarik karena mengisahkan kesaksian Bung Harmoko. Apa dan  bagaimana  peran yang dimainkan Bung Harmoko, sebagai sosok politisi  yang&amp;nbsp;  ”piawi”, cerdik, lincah dan populer pada saat itu. Seorang yang  saat  peristiwa memegang jabatan Ketua MPR dan Ketua Umum Golkar, serta   sebelumnya dikenal sangat dekat dengan Soeharto. Selama hampir separuh   masa kekuasaan Soeharto selama 32 tahun dia senantiasa berada di sekitar  pusaran kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku  ini memfokuskan pembahasan  tentang peran serta keterlibatan Harmoko  khususnya dalam kisaran kurang  dari tiga bulan atau 70 hari masa jabatan  Presiden Soeharto, yakni  saat terpilihnya Soeharto melalui sidang MPR  sampai berakhir  kekuasaannya menjadi sangat menarik. Dalam masa kurang  dari 70 jam  sejak sebagai Pimpinan MPR menyampaikan pernyataan Pers,  meminta  Soeharto mundur. Masa-masa saat menentukan dari peristiwa  reformasi dan  berhentinya Soeharto dari tampuk kekuasaan setelah 32  tahun memegang  jabatan Presiden Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  awal  buku, dijelaskan kisah-kisah aneh serta kisah yang selama ini  mungkin  hanya ada di benak Bung Harmoko. Misalnya, kenapa palu sidang  MPR itu  pada saat Soeharto terpilih sebagai Presiden RI untuk ketujuh  kalinya  (1998-2003), Kenapa Bung Harmoko meminta Soeharto mundur, kenapa   Harmoko begitu berani dan lugas,mengingat selama ini dia begitu loyal   kepada Soeharto?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, buku ini juga menjawab spekulasi yang beredar ketika itu tentang siapa yang bermain di belakang &lt;i&gt;grand desain&lt;/i&gt; dalam mempercepat situasi buruk di tanah air pada 1997-1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam   menjelaskan rentetan &amp;nbsp;proses kejatuhan Soaharto, buku ini mencatat   dalam salah satu sub-bagian 3, Tragedi Trisakti: ”Awal dari Semua Mesti   Berakhir”. &amp;nbsp;Tragedi Tri Sakti 12 April 1998 mengingatkan aksi mahasiswa   di tahun 1966, ketika Arif Rahman Hakim tertembak pasukan Cakrabirawa  di  depan Istana Negara, saat melakukan demonstrasi terhadap penguasa  Orde  Lama. Lantas diikuti gelombang protes terus membesar seperti  dikisahkan  dalam sub bagian berikutnya :”Mahasiswa Membara”-”Jakarta  Membara”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan  yang memuncak melanda sebagian  masyarakat, hingga orang-orang asing dan  non-pribumi berbondong-bondong  meninggalkan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah  yang diambil  Harmoko dalam suasana yang tegang itu dijelaskan dalam sub  bagian :  Langkah ”Bung Harmoko” : Aksi dan Reaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian 4 dan 5 mengisahkan detik-detik terakhir kejatuhan Soeharto. Hari yang&amp;nbsp; menentukan, yakni Senin 18 Mei 1998. ”&lt;i&gt;Senin, 18 Mei 1998, mendebarkan, menegangkan dan penuh ketidakpastian. &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Segenap   tenaga dan kekuatan politik rakyat berada dalam ’jurang perpecahan’   membahayakan persatuan Indonesia, ”bila” tidak menggunakan ”akal sehat”   terhadap solusi mengatasi ketegangan politik yang sedang mencapai   puncaknya”. &amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari  itu, jam 09 pagi WIB, di ruang  kerja Bung Harmoko telah berkumpul wakil  Ketua Syarwan Hamid, Ismail  Hasan Mettareum, Abdul Gafur dan Fatimah  Ahmad. Mereka berdiskusi  serius, sementara di luar bukan hanya semata  lautan manusia berupa  ribuan mahasiswa, hal lain adalah munculnya  spanduk-spanduk dan poster  diantaranya bertuliskan ”Soeharto Harus  Mundur”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, hari itu juga, Pimpinan DPR &lt;i&gt;memutuskan untuk mengutamakan kepentingan rakyat, yaitu ;bagaimana mencegah dan menghindarkan pertumpahan darah.&lt;/i&gt; Sekitar jam 16.00 WIB Harmoko membacakan keterangan pers, yang mengatakan &lt;i&gt;: ”demi persatuan dan kesatuan meminta agar secara arif dan bijaksana Presiden Soeharto sebaiknya mengundurkan diri”. &amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga   hari kemudian, 21 April 1998, Soeharto benar-benar mengundurkan diri.   Ketika itu saya kaget dan setengah tidak percaya. Mungkinkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengenalan   Harmoko atas sosok Soeharto, falsafahnya dan&amp;nbsp; prestasinya dikisahkan   dalam bagian Epilog. ”Pak Harto juga manusia biasa, memiliki kekurangan   selain kelebihannya, kita harus akui, itu &lt;i&gt;Sunnatulah&lt;/i&gt;,  karena  itu memaafkan adalah sangat mulia”, kata Bung Harmoko. &amp;nbsp;Kisah  sakitnya  Soeharto dan kemudian meninggal dunia 27 Januari 2008 turut  menjadi  bagian terakhir yang dibahas secara lengkap dalam sub-sub bab  Epilog  seperti: Pengakuan Kesalahan, Masa-masa Kritis Soeharto, Hidup  dan  Kematian serta sambutan Presiden Republik Indonesia Selaku Inspektur   Upacara pada Pemakaman Almarhum Jenderal Besar (TNI) Haji Muhammad   Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin  saya sadar, dalam politik tidak ada  yang abadi. ”Tidak ada kawan atau  lawan yang abadi yang ada  kepentingan”, demikian salah satu kutipan  dalam buku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari   keterangan dalam buku ini, buku yang hanya dipersiapkan selama satu   bulan terasa memiliki kekurangan di sana sini dan terkesan diterbitkan   secara terburu-buru. Buktinya, ralat di bagian belakang sampai 2   halaman. Kadang penulis terpaksa mengejar deadline.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas   dari kekurangan itu, buku ini bagus dibaca para generasi muda serta   mereka yang ingin mengetahui lebih jauh tentang peristiwa 21 April   1998.&amp;nbsp; Bagi yang tertarik, silakan membacanya!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan   kita sekarang, sudahkah tuntutan Soeharto mundur, bisa terpenuhi era   Reformasi yang sudah memasuki usia 14 tahun ini?. Mari kita renungkan  bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita jangan hanya pintar menyuruh orang  mundur,  tetapi meniru konsep Soeharto saja belum mampu membangun negeri  ini.  Jembatan saja tidak bisa dipelihara, jalan-jalan rusak, listrik  mati idup, air PAM berhenti bebeberapa jam sehari, petani  menjerit.Sudahkan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme salah satu agenda  reformasi sudah  terhapus dari negeri ini, HAM ditegakkan, kasus Munir  terungkap dengan terang benderang, para koruptor tidak ada lagi,  demokrasi sudah memilih kualitas pemimpin seperti masa Orde Baru?. Akh  kok jadi pesimis ya. Mari optimis, tetapi juga realistis.&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 12 Desember 2011.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-2720263103337546272?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/2720263103337546272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=2720263103337546272&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/2720263103337546272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/2720263103337546272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/12/buku-berhentinya-soeharto-fakta-dan.html' title='Buku Berhentinya Soeharto  Fakta dan Kesaksian Harmoko'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-4772126626920722151</id><published>2011-12-01T10:53:00.004+07:00</published><updated>2011-12-01T13:20:57.572+07:00</updated><title type='text'>Menyambut Hari AIDS Sedunia: Menulis Suara ODHA</title><content type='html'>&lt;b&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Salah  satu upaya sosialisasi HIV AIDS adalah menulis dan  mempublikasikan suara ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Dalam kenyataannya,  kisah pengalaman mereka belum banyak ditulis dalam bentuk cerita-cerita  yang menginspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyambut Hari AIDS Sedunia,&amp;nbsp;  sebuah acara peluncuran dan bedah buku: Kumpulan Cerpen dan Artikel  Kisah AIDS, Karya dr Umar Zein dan Forwakes digelar di &amp;nbsp;Badan  Perpustakaan dan Arsip Daerah (Baperasda) Pemprovsu, Medan, 30 Nopember  2011 lalu. Acara ini diselenggarakan Perhimpunan Dokter Pedulia AIDS  (PDPAI) Sumut, Forum Wartawan Kesehatan (Forwakes) dan Baperasda  Pemprovsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluncuran buku bertajuk HIV AIDS ini memberi  arti yang strategis dalam sosialisasi penyakit itu di daerah ini.  Pasalnya, menurut Kepala Dinas Kesehatan Pemprovsu dalam buku itu, baru  sekitar 11,4% masyarakat daerah ini yang benar-benar paham mengenai  infeksi HIV AIDS. Sehingga sosialisasi HIV AIDS masih sangat dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak  heran, kalau masih banyak perilaku masyarakat maupun pelayan kesehatan  yang aneh kepada penderita HIV AIDS. Tidak mau duduk berdampingan,  membakar rumah penderita, perlakuan diskriminatif dalam pelayanan  kesehatan, serta berbagai sikap negatif &amp;nbsp;lainnya yang justru membuat  mereka semakin menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kegiatan ini tampak kecil,  tetapi merupakan langkah yang memberi sumbangan dalam mensosialisasikan  pemahaman masyarakat tentang infeksi HIV AIDS.. Ada dua hal penting  yang menjadi catatan saya dari acara tersebut, yakni mendengar kisah  secara langsung serta menuliskannya dalam kisah yang menginspirasi,  sehingga bisa dibaca masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesaksian Ibu Muda Penderita HIV AIDS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda  dengan acara peluncuran buku sudah berkali-kali saya ikuti dan  merupakan salah satu acara rutin di Baperasda Pemprovsu, acara kali ini  memang istimewa. Seorang penderita HIV AIDS, tampil sebelum peluncuran  dan bedah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai peserta dalam acara peluncuran  itu, saya menyaksikan seorang ibu muda (saya tidak mencantumkan namanya)  berparas manis duduk menghadap para peserta. Sebelumnya saya sama  sekali tidak mengenalnya. Dia duduk disamping Chandra Silalahi,  Sekretaris Baperasda Pemprovsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelum acara dimulai,  marilah kita dengarkan terlebih dahulu kesaksian seorang rekan yang  terinfeksi HIV AIDS,” demikian Chandra Silalahi mempersilakan ibu muda  tadi memulai kesaksiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit kaget. Ternyata  ibu muda berwajah manis yang duduk memandang kami dengan senyuman adalah  pengidap HIV AIDS. Dalam bayangan saya orang yang awam soal HIV AIDS,  wajahnya kurus, seperti tengkorak, wajahnya lesu, tak bersemangat dan  tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan itu makin pudar saat menyaksikannya  dengan bersemangat dan terbuka menuturkan pengalamannya selama mengidap  HIV AIDS sejak 2008. Didepannya, sekitar 50-an peserta mendengarkannya  dengan serius dan rasa haru. Mereka diantaranya Parlindungan Purba, SH,  anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Utusan Sumatera Utara, Kepala  Dinas Kesehatan Kota Medan, mewakili Dinas kesehatan Provinsi,  Kepolisian Daerah, perguruan tinggi, serta para pegiat AIDS seperti dr  Lily Waas, MPH,&amp;nbsp; dan dari berbagai latar belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;“Saya  terinfeksi HIV AIDS melalui transfusi darah ketika saya menjalani  operasi cesar saat kelahiran anak saya yang pertama”ujarnya tanpa  menunjukkan wajah menyalahkan siapapun. Dia meyakinkan bahwa tidak semua  orang yang terkena HV AIDS itu berhubungan dengan perilaku buruk. Dia  adalah salah satu diantaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tampak sedikitpun kekhawatiran di wajahnya. “Saya sudah mengidap  HIV AIDS selama 3 tahun, tetapi saya merasa segar bugar. Penderita HIV  AIDS masih bisa bertahan dengan perawatan. Awalnya saya khawatir, tetapi  setelah mendapat pengetahuan tentang AIDS dan perawatan, memakan obat  secara teratur, saya tidak khawatir. Dulu memang badan saya sempat drop  dari 40-an kilogram lebih lebih menjadi hanya 28 kilogram,”ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  dalam keluarganya sendiri, ibu muda ini, menurut pengakuannya dirinya  mendapat perlakuan yang baik dari keluarga maupun suaminya sendiri.  Bahkan selama menderita HIV AIDS, dirinya masih bisa melaksanakan  hubungan suami isteri secara normal. “Kami masih melakukan hubungan  suami isteri memakai kondom,” ujarnya dengan wajah sedikit tersipu,  menjawab pertanyaan salah seorang peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu muda ini  mengisahkan betapa mereka sebagai penderita HIV AIDS masih mendapat  perlakuan yang diskriminatif dari masyarakat dan pelayan kesehatan.  “Saya pernah ingin mencabut gigi, tetapi tidak diizinkan oleh  dokter,”ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menyampaikan kesaksiannya, sang  ibu tadi kembali ke tempat duduknya dan disambut tepuk tangan yang  meriah dari peserta. Beberapa wanita, termasuk dr Lily Waas memberinya  ciuman diikuti beberapa wanita lainnya. Penderita HIV AIDS tidak  tertular melalui kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pembaca yang budiman,  mendengar kesaksian ibu muda tadi merupakan peristiwa luar biasa dalam  hidup saya, merubah pandangan saya terhadap seorang penderita HIV AIDS.  Mendengar suara dan melihat penderita HIV AIDS memberi pemahaman baru  tentang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menuliskan apa yang saya dengar,  saksikan dan maknai untuk anda. Meski anda tidak secara langsung  melihatnya, membaca kisah di atas mudah-mudahan menggugah anda.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menulis Kisah Penderita HIV AIDS &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  kaitan kisah ibu muda tadi, saya sangat mengapresiasi usaha teman-teman  yang berhasil mengadakan acara Peluncuran Buku Kumpulan Cerpen dan  Artikel yang ditulis Dr Umar Zein dan Forwakes. Menulis kisah seperti  ini tidak mudah, tetapi di satu sisi menjadi penting dalam sosialisasi  HIV AIDS. Justru, dalam kenyataannya belum banyak kisah penderita HIV  AIDS yang ditulis dan dapat disebarkan dan dinikmati masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  segala kekurangannya, dr Umar Zein, mantan Kepala Dinas Kesehatan Kota  Medan itu, telah membuat langkah yang perlu diikuti para dokter, pegiat  HIV AIDS, wartawan, penulis melakukan penulisan lebih banyak lagi  kisah-kisah seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Rangkuman Cerpen dan Artikel  Kisah AIDS adalah kumpulan cerpen dan artikel kisah-kisah penderita HIV  AIDS.yang dirangkum dalam buku setebal 153 halaman. Selain tulisan dr  Umar Zein, artikel-artikel di dalamnya merupakan sumbangan tulisan dari  para wartawan yang tergabung dalam Forwakes, seperti Zulnaldi,  Khairuddin Arafat, Mursal Alfa Iswara, Eko Agustyo Fitri, Novita Sari  Simamora dan Kesuma Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen dan artikel yang ada  di dalamnya merupakan kisah nyata penderita HIV AIDS yang dikumpulkan  dari daerah Sumatera Utara, serta beberapa artikel yang membahas  tinjauan AIDS, sosialisasi AIDS.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Buku ini merupakan  sosialisasi HIV AIDS dalam bentuk penyampaian yang cukup informatif dan  muda dicerna dan ditulis oleh pakarnya dan para wartawan yang selalu  meliput bidang kesehatan. Sehingga layak untuk disebarluaskan di semua  kalangan masyarakat dan merupakan bagian dari promosi kesehatan,”ujar  Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Dr Candra Safei, Sp.OG, dalam  buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang pembahas masing-masing kritikus  sastra sekaligus Dekan FKIP UISU, Drs Mihar Harahap MM dan dari  akademisi USU, dan akademisi dari Universitas Sumatera Utara, dr Linda  Maas MPHdr Lily Waas. Keduanya menyambut baik penulisan kisah penderita  HIV AIDS sebagai sebuah usaha menyadarkan masyarakat memperlakukan dan  mendukung mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, buku itu masih menuai  beberapa kritik terutama soal pemilihan genre penulisan. Dalam  kritiknya, Mihar Harahap mengungkapkan bahwa penulisan cerpen dalam buku  ini belumlah mencerminkan cara penulisan cerpen yang sesungguhnya.  ”Perlu ada usaha untuk mengatur plot yang lebih baik, karakterisasi  tokoh dan alur cerita yang mengalir sehinga sehingga lebih menggugah  pembaca” ujar Drs Mihar Harahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda Maas mengaku,  kandungan materi HIV dan AIDS, buku Kisah AIDS tersebut cukup bagus dan  layak dibaca setiap orang karena mengandung pesan dan informasi yang  kuat tentang HIV dan AIDS yang terjadi di Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis  kisah penderita HIV AIDS dalam bentuk cerita yang mudah dipahami dan  menginspirasi pembaca adalah sosialisasi dalam bentuk praktis kepada  masyarakat luas. ”Selama ini masyarakat kebanyakan membaca  petunjuk-petunjuk dan kebijakan-kebijakan dengan bahasa yang kaku,”ujar  seorang aktivis HIV AIDS dari Kabupaten Simalungun. Padahal, menurutnya  kampanye HIV AIDS dengan kisah-kisah dalam bentuk cerita sangat kuat  untuk menggugah sikap empati para pembaca kepada mereka yang menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak  ada gading yang tak retak. Meski belum sempurna betul, menulis kisah  penderita HIV AIDS seperti langkah yang ditempuh dr Umar Zein dan  Forwakes adalah langkah yang pantas mendapat apresiasi dan perlu diikuti  para penulis lainnya. Pihak pemerintah mungkin bisa mengadopsi cara  sosialisasi ini: Mendengar Kesaksian Penderita dan Menulisnya untuk  Masyarakat Luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;[1]Penulis Biografi, Tinggal di Medan&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-4772126626920722151?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/4772126626920722151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=4772126626920722151&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/4772126626920722151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/4772126626920722151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/12/menyambut-hari-aids-sedunia-menulis.html' title='Menyambut Hari AIDS Sedunia: Menulis Suara ODHA'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-3189441855331095494</id><published>2011-11-30T08:36:00.000+07:00</published><updated>2011-11-30T08:36:17.577+07:00</updated><title type='text'>Medan! Kapan Punya KA Seperti Jakarta (?) (Harian Analisa, 30 Nopember 2011 Hal 25)</title><content type='html'>Oleh : Jannerson Girsang.&lt;br /&gt;Naik  kereta api komuter di ruang AC di jalur Jakarta-Depok,  Jakarta-Tangerang,  Jakarta-Bekasi, Jakarta-Serpong. Dari Depok,  menikmati Jakarta dengan  kereta api membawa saya ke sebuah mimpi.  Sebagai warga Medan, sejak dulu  saya bermimpi kota ini suatu saat dapat  dihubungkan dengan kereta api.  Mimpi itu senantiasa muncul setiap saya  berjalan-jalan di Jakarta  menggunakan kereta api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober  lalu, saya tinggal  selama dua minggu di sebuah rumah di daerah  Margonda Depok, berjarak  hanya lima belas menit berjalan kaki dari  stasion kereta api Pondok Cina  atau lebih dikenal dengan "Pocin". Halte  ini hanya beberapa meter dari  Kampus Universitas Indonesia-universitas  peringkat 1 di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjangkau sebagian besar  wilayah Jakarta, saya menggunakan Kereta Api  sebagai akses pertama dan  utama. Dari rumah, saya menuju stasion kereta  api Pondok Cina atau  lebih dikenal stadion Pocin, kemudian melanjutkan  tujuan akhir di  berbagai tempat di Jakarta dengan ojek, taksi atau  angkot/bus kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Komuter Line Jakarta &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  tahun ke tahun, perkeretaapian di Jakarta, berkembang pesat, baik   pelayanan maupun pengembangannya. Berbeda dengan jalur kereta api Pancur   Batu-Medan yang relnya sudah lepas satu demi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini  wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi telah tersedia layanan  KA  komuter yang dioperasikan oleh anak perusahaan PT Kereta Api  Indonesia,  yaitu PT KAI Commuter Jabodetabek (PT KCJ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trayek yang  dilayani kereta komuter line di Jabodetabek adalah: Jurusan   Jakarta-Bogor, Jurusan Jakarta-Depok, Jurusan Jakarta-Tangerang, Jurusan   Jakarta-Bekasi, Jurusan Jakarta-Serpong, Lingkar Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi  pengguna jasa kereta api di Jakarta, perusahaan ini mudah diketahui   melalui informasi yang tersedia dimana-mana. Hanya dengan membuka   Google di rumah dan memasukkan kata kunci "peta jalur kereta api   Jakarta" maka informasi jalur kereta api, jam keberangkatan, serta tarif   setiap jalur sudah di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarifnya relatif murah  (dua kali naik angkot Simalingkar-Padang Bulan),  dibanding jarak yang  ditempuh. Jakarta-Bogor Rp 7.000, (45 kilometer),  Jakarta-Depok Rp  6.000, Jakarta-Bekasi Rp 6.500, Jakarta-Tangerang Rp  5.500,-,  Jakarta-Sudimara/Serpong Rp 6.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini diperkirakan  400 ribu penduduk Jabodetabek menggunakan jasa  kereta api, sementara  diperkirakan pada 2019, jumlah ini akan meningkat  menjadi 1.5 juta  penumpang. Bandingkan dengan 2 juta lebih penduduk kota  Medan yang  belum menggunakan kereta api dalam kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cepat, Murah, Nyaman &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  rumah tempat tinggal sementara di Depok, dengan jalan kaki selama  15  menit, saya tiba di halte Pocin. Sebelum naik kereta api, di loket  yang  tersedia di setiap halte dua atau tiga petugas menunggu dengan  ramah  dan siap melayani pembelian tiket. Semua sudah berbudaya antri,  tidak  ada yang saling mendahului..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dalam beberapa menit,  saya sudah mendapat tiket dengan harga  resmi. Tidak ada seorangpun calo  yang berkeliaran. Hanya petugas yang  berhak menjual tiket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  tempat pembelian tiket, anda menuju ruang tunggu (halte),  perjalanan  cukup nyaman. Seorang petugas memeriksa tiket sebelum  memasuki ruang  tunggu atau halte kereta api. Selain penumpang tidak ada  yang  berkeliaran di sekitar halte (kecuali penjual makanan, koran dan   lain-lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk di ruang tunggu dengan tempat duduk yang disediakan, menunggu beberapa menit, kereta api sudah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu  keistimewaan yang saya saksikan dalam perkeretaapian di Jakarta  saat  ini adalah dua atau tiga gerbong khusus disediakan bagi perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon  ini untuk memberi kenyamanan kepada perempuan dalam perjalanan.   Laki-laki tidak diperkenankan memasuki ruang khusus ini. Di dalamnya   mereka diawasi oleh beberapa crew perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan!  Jangan coba-coba menaiki kereta api tanpa tiket. Di dalam  kereta api  dua sampai tiga orang akan memeriksa tiket dengan membawa  alat  melobanginya. Penumpang yang tidak memiliki tiket akan didenda  sejumlah  uang! Rp 20.000 kalau tidak salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Uang Rp 50 ribu, Menjelajah Jakarta ! &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  luar jam sibuk, naik kereta api komuter line sungguh nyaman. Karena   sedang berlibur, maka saya selalu memilih naik kereta api di luar   jam-jam sibuk. Biasanya saya naik sekitar jam 10.00 pagi. Saat seperti   ini, kereta api tidak begitu penuh dan tempat duduk kosong masih   tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan saya bisa duduk dengan nyaman  di ruang AC yang dingin,  walau di setiap halte pintu dibuka beberapa  menit. Dalam perjalanan  Pocin-Stasion Kota terdapat lebih dari 15 halte  dimana kami harus  berhenti antara satu-sampai dua menit. Kecuali di  Manggarai, dimana kami  berhenti agak lama, karena antri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa berkeliling Jakarta dalam satu hari. Yang istimewa, saya hanya menghabiskan ongkos Rp 47 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yang benar? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  melintasi jurusan Jakarta-Depok, Jakarta-Tangerang, Jakarta-Bekasi,   Jakarta-Serpong. Dari Depok, saya membayar Rp 6000 menuju Stasion Kota.   Dari Kota saya ke Bekasi membayar Rp 6000. Kembali lagi ke kota Rp   6000. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Tangerang dengan membayar Rp   5500, balik lagi ke kota, membayar Rp 5500. Kemudian lanjut ke Serpong   dengan ongkos Rp 6000, kembali ke Stasion Kota di sore hari, membayar Rp   6000. Balik ke Depok membayar Rp 6000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keliling Jakarta  dengan Rp 47 ribu. Murah bukan?. Bandingkan aja. Naik  taksi dari  Bandara Soekarno Hatta ke Depok saya harus membayar lebih  dari Rp 200  ribu sekali jalan dan mungkin antara 1-2 jam. Naik Damri  sampai di  Pasar Minggu Rp 20 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun untuk tujuan satu arah,  tarif kereta api relatif murah (dua  kali naik angkot Simalingkar-Padang  Bulan), dibanding jarak yang  ditempuh Jakarta-Bogor Rp 7.000, (45  kilometer).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kereta api kommuter line, penduduk Jakarta kini bisa menikmati KRL ekonomi dengan tarif antara Rp 1000-2000. Luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mimpi Anak Medan &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naik  kereta api menurut saya sebuah alternatif yang menjadi mimpi  penduduk  Medan ke depan. Jauh lebih nyaman dibanding dengan naik bus  atau angkot  non AC yang harus berpanas-panasan dan setiap tempat bisa  terhalang  kemacetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan ya kenyamanan seperti ini bisa diciptakan  di bekas jalur Kereta  Api Pancur Batu-Medan, Medan-Belawan,  Medan-Lubuk Pakam, Medan-Delitua,  serta jalur lainnya. Saya mengajak PT  Kereta Api Indonesia, atau Pemko  daerah ini ikut bermimpi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau  saya bandingkan dengan lokasi Depok tempat saya tinggal, lokasinya   mirip dengan Pancur Batu di Medan. Kini, dengan menumpang angkot Pancur   Batu-Stasion Kereta Api Medan bisa dicapai dalam waktu lebih dari satu   jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rumah saya di Jalan Kopi Raya II, berangkat ke  rel kereta api yang  jaraknya sekitar 10 menit jalan kaki. Saya  bayangkan itu stasion Pocin,  Depok. Saya kemudian pergi ke kota dengan  kereta api. Duduk manis di  ruang AC yang nyaman, tidak seperti di  angkot yang panas dan  berdesak-sesakan, macet beberapa menit di Simpang  Pos, Sumber, Simpang  Kampus dan perempatan lainnya. Saya tiba di  stasion kereta api di dekat  Lapangan Merdeka 15 menit kemudian. Mimpi!  Ya saya memang sedang  bermimpi! Bukankah sejarah perkeretaapian di  Medan tidak kalah dengan  Jakarta? Mengapa di sini tidak berkembang? ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah pemerhati masalah-masalah sosial, orbituari. Tinggal di Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel  ini bisa juga diakses di:  http://www.analisadaily.com/news/read/2011/11/30/23866/medan_kapan_punya_ka_seperti_jakarta/#.TtWDtVauq9s&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-3189441855331095494?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/3189441855331095494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=3189441855331095494&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/3189441855331095494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/3189441855331095494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/11/medan-kapan-punya-ka-seperti-jakarta.html' title='Medan! Kapan Punya KA Seperti Jakarta (?) (Harian Analisa, 30 Nopember 2011 Hal 25)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-5175468832015258116</id><published>2011-11-24T18:01:00.002+07:00</published><updated>2011-11-24T18:02:30.846+07:00</updated><title type='text'>Juara Umum, Tanpa Emas Sepakbola (Harian Jurnal Medan, 24 Nopember 2011)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta Olah  Raga Asia Tenggara (SEA Games ke-26) telah usai. Indonesia merebut 182  emas, 151 perak dan 143 perunggu. Perolehan ini mengukuhkan kita sebagai  tuan rumah sebagai JUARA UMUM SEA GAMES ke 26. Penutupan dilakukan  Wakil Presiden Prof Dr Boediono, di Stadion Jakabaring, Palembang, 22  Nopember 2011 malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acungan jempol pantas kita  acungkan jempol atas pelaksanaan dan prestasi Indonesia pada SEA Games  kali ini. Sebagai pembaca yang semula ragu atas ketidaksiapan yang  sering diungkap di media sebelum pelaksanaaan SEA Games, pupus sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti  acara penutupan yang konon menelan biaya Rp 150 miliar itu melalui  televisi, menginspirasi kita semua, bahwa “Indonesia itu bisa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa  bermaksud mengurangi nilai prestasi yang dicapai, kegagalan tim sepak  bola nasional kita merebut emas hendaknya tidak dianggap sepele.  Tantangan SEA GAMES 2012, Indonesia harus merebut emas dari sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua  alasan mengapa perhatian terhadap sepakbola penting, yakni, cabang olah  raga ini meraup peminat yang terbesar dari seluruh cabang olah raga  lainnya di tanah air, kedua, sepanjang sejarah SEA Games selama 26  tahun, Indonesia baru dua kali meraih gelar juara di cabang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sepakbola: Paling Banyak Penonton!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepakbola  adalah tontotan yang paling banyak menyedot perhatian masayarakat dari  seluruh cabang olah raga yang dipertandingkan. Jutaan orang pendukung  Indonesia, tanpa membedakan suku, ras dan agama bersatu padu mendukung  tim kesayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 Nopember 2011 malam. Semua mata  tertuju mendukung Timnas Indonesia dalam pertandingan akbar SEA Games  Malaysia-Indonesia. Pendukung sepakbola Indonesia menikmati pertandingan  dengan berbagai cara. Jutaan penduduk Indonesia berpuas diri menonton  siaran langsung melalui stasion televisi. Bagi mereka yang mampu membeli  tiket berharga puluhan ribu hingga jutaan dan membayar ongkos ke tempat  pertandingan, bisa menonton langsung dari Stadion Gelora Bung Karno  (SGBK) di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pertandingan sepakbola  Indonesia Malaysia malam itu menarik setelah pertandingan beberapa hari  sebelumnya Indonesia kalah 0-1. Penonton benar-benar ingin menyaksikan  kesebelasannya menebus kekalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Medan misalnya.  Pukul 19.00 kami menelusuri jalan Setia Budi, Medan menuju sebuah  restoran berlantai dua tidak jauh dari pertigaan Perumahan elit itu.  Sepanjang jalan, kami menyaksikan di beberapa tempat berlangsung acara  nonton bareng. Restoran, keda-kedai kopi, kafe dan restoran-restoran  penuh dengan penonton. Mobil, sepeda motor parkir di pinggiran jalan.  Kompleks Resto Desa-desa, di wilayah itu, ramai oleh penonton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penudukung dan Penggemar Sepakbola fanatik Indonesia. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tukang-tukang  becak, supir taksi memarkir kenderaannya di pinggir jalan dekat  kedai-kedai kopi dan warung. Melupakan setoran, hanya untuk menonton tim  kesayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan Setia Budi, para  pendukung Indonesia begitu bersemangat meneriakkan: ”Indonesia menang,  Indonesia menang!”. Saat kami lewat, kesebelasan Indonesia sudah unggul  1-0, melalui tandukan Gunawan Dwi Cahyo meneruskan sepak pojok Octo  Maniani di menit ke lima babak pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di  restoran yang kami tuju, ruangan depan penuh dengan kenderaan. Lantai  satu dipenuhi ratusan ”nonton bareng”. Mereka hanya punya satu agenda:  mendukung Indonesia dan berharap Indonesia menang. Sementara dari lantai  dua, dimana kami sedang melangsungkan sebuah acara resepsi, kami  mengikuti pertandingan melalui teriakan-teriakan penonton, karena tidak  tersedia televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kami duduk dalam acara, tetapi  pikiran, hati kami tertuju pada pertandingan sepakbola!. Sekali-sekali  kami keluar dan mengamati sebagian jalannya pertandingan. Beberapa teman  juga melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menit-menit  pertama penonton begitu bersemangat, waktu berjalan...., keceriaan  berubah. Menit ke-34, gol bagi Malaysia tercipta melalui Asrarudin!.  Malaysia berhasil menyamakan kedudukan 1-1. Gol Malaysia ini tak  menimbulkan sorak sorai seperti gol kemenangan terjadi beberapa menit  sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”A.a..a..a..ah,” demikian suara kekecewaan  terdengar dari lantai dua restoran tempat kami mengadakan acara. Tanpa  sorak sorai!. Dengung suara pendukung Indonesia makin melemah dalam  menit-menit berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan terakhir di adu  penalti, masih menyisakan semangat pendukung. ”Ayo- ayo, masih ada  harapan,”. Sayup-sayup, suara itu terdengar dari lantai dua. Dua kali  perpanjangan waktu, tak terhindari, penentuan dilakukan melalui adu  penalti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, puncak kekecewaan tiba, saat  Malaysia memukul Indonesia dalam adu penalti. Tendangan Ferdinand Sinaga  yang gagal pada penentuan, yang berhasil di blok kiper Malaysia  membuyarkan harapan, setelah tembakan berikut yang dieksekusi pemain  Malaysia Baddrol. Tembakannya sempat mengenai Meiga sebelum masuk ke  gawang. 4-3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Facebook menjelang tengah malam,  kami menyaksikan diskusi soal kekalahan Indonesia oleh para Facebooker.  Tak pernah kami menemukan diskusi sebanyak itu di jejaring sosial soal  kekalahan atau kemenangan sebuah cabang olag raga, kecuali sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Biar  nggak usah juara umum asal sepakbola menang!” ujar seorang Facebooker.  Jutaaan pendukung Indonesia berduka. Mereka seolah lupa bahwa negeri ini  sudah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meraih Juara Umum. Kekalahan ini begitu  menyakitkan!. Sebuah berita berjudul ”Timnas Kalah, Kekasih Andik  Menangis Sejadi-jadinya” ( www.bangkapos.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiara  Darmawanti, kekasih Andik Vermansyah, gelandang sayap Timnas U-23  berujar: "Luka hati saya semakin mendalam saat melihat pemain Malaysia  berpesta. Ya Tuhan, inikah perjuangan teman-teman, anak-anak selama ini.  Mengapa berakhir seperti ini. Mengapa tidak anak-anak Indonesia yang  berpesta," kata Tiara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangisan Tiara adalah tangisan  kita bersama. Sama seperti Tiara, emosi para pendukung kesebelasan  Indonesia yang mencintai mereka sepenuh hati, terungkap dengan berbagai  ekspresi kesedihan dalam bentuk lain, selain tangisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan  para pendukung sepakbola juga terlihat di lapangan. Penggemar sepakbola  atas Tim Indonesia kadang tak memperdulikan keselamatan jiwanya.  Peristiwa tewasnya dua&lt;br /&gt;orang pendukung Indonesia di pintu masuk VIII GBK. , dan puluhan luka-luka adalah buktinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat  para pendukung kesebelasan Indonesia malam itu benar-benar  membangkitkan rasa persatuan dan kesatuan yang luar biasa, tanpa  memperdulikan latar belakang, hanya peduli hal besar yang ingin dicapai:  Timnas Juara Sepakbola SEA Games ke-26.&lt;br /&gt;Untuk siapa?. Untuk Bangsaku bangsa Indonesia!. Bukan untuk kelompok ini atau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak  berlebihan kalau situs pendukung Garuda Kebanggaanku mengungkapkan:  “…sepakbola adalah pengharapan.. dan pengharapan tak pernah mati…. dan  hanya sepakbola yang bisa membangkitkan nasionalisme dan persatuan dan  kesatuan yang tak terhingga untuk bangsa kita….”.  (http://suporter.info/garuda-  kebanggaanku-kuyakin-hari-ini-pasti-menang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kerinduan 20 Tahun Belum Terobati&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan  menjadi juara SEA Games, bagi pencinta olah raga sepakbola di Indonesia  selama dua puluh tahun terakhir, tentu tidak cukup ditanggapi dengan  mengatakan sepakbola kita sudah lebih baik, seperti diungkapkan Menpora  Andi Mallarangeng kepada berbagai media nasional sesaat setelah  kekalahan Indonesia melawan Malaysia..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak  1991, Indonesia tidak pernah meraih medali emas. Sepanjang SEA Games  yang sudah dilaksanakan selama dua puluh enam tahun, Indonesia baru dua  kali menjadi juara SEA Games yakni pertama pada 1989 di Jakarta dan Tim  Merah Putih kali terakhir menjadi juara SEA Games pada 1991 di Manila,  Filipina, setelah Tim Merah Putih mengalahkan Thailand lewat adu  penalti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun menunggu sebuah  kemenangan yang sudah diimpikan selama 20 tahun rasanya terlalu lama.  ”Indonesia pun harus menunggu minimal 2 tahun lagi untuk merebut emas  paling bergengsi di SEA Games ini. Dahaga selama 20 tahun belum  terobati,” demikian ungkapan yang mengandung harapan dan rasa kecewa  yang ditulis mediaonline vivanews.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak  ada jalan lain selain langkah all out para pengelola sepakbola  mempersiapkan Tim Sepakbola SEA Games 2013 yang tangguh dan meraih emas.  Kita jangan mengulang lagi kekecewaan yang sama pada SEA Games 2013 di  Myanmar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia menjadi Juara Umum SEA Games 2011  pantas diacungi jempol. Tapi, SEA Games 2013 mendatang: Tanpa Emas  Sepakbola, rasanya akan hambar!.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-5175468832015258116?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://medan.jurnas.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=69785:juara-umum-tanpa-emas-sepakbola&amp;catid=57:opini&amp;Itemid=65' title='Juara Umum, Tanpa Emas Sepakbola (Harian Jurnal Medan, 24 Nopember 2011)'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/5175468832015258116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=5175468832015258116&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/5175468832015258116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/5175468832015258116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/11/juara-umum-tanpa-emas-sepakbola.html' title='Juara Umum, Tanpa Emas Sepakbola (Harian Jurnal Medan, 24 Nopember 2011)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-8770530994786544620</id><published>2011-11-18T08:30:00.000+07:00</published><updated>2011-11-18T08:30:03.864+07:00</updated><title type='text'>Dakka Hutagalung, Pencipta Ratusan Lagu Batak, Lagunya di Puja, Tinggal di Rumah Kontrakan (Analisa Cetak, 18 Nopember 2011)</title><content type='html'>Oleh: Jannerson Girsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Didia  Rongkap Hi, Anakkonku, Inang&lt;/i&gt; dan ratusan karya Dakka Hutagalung setiap  hari dinyanyikan di pesta, kafe, dan acara-acara penting lainnya. Tapi,  sama seperti banyak kehidupan pencipta lagu lainnya, kehidupan  kesehariannya tak sebanding dengan nama besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca  berbagai berita di Media lokal (Tribunenews, 10 Oktober 2010, Harian  Analisa, 13 Oktober 2011), nikmatnya mendengar dan menyanyikan lagu-lagu  Batak yang diciptakannya, tidak seenak mendengar kisah di balik  kehidupannya di usia 63 tahun. Menurut pemberitaan media-media itu,  Dakka masih tinggal dan berkarya di sebuah rumah kontrakan di Tangerang,  Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengapresiasi karya-karyanya, sebuah  pagelaran akan digelar di Jakarta. Pesan seorang teman, salah seorang  penyelenggara masuk ke Face Book saya 13 Nopember 2011, berbunyi "A  Special Music Performance Tribute for Dakka!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagelaran  musik dan apresiasi "40 Tahun Dakka Hutagalung Berkarya", yang  rencananya akan menghadirkan artis-artis terkenal seperti Joy Tobing,  Amigos Band, Silaen Sister, Lamtama Trio, Style Voice, Dipo Pardede,  Maria Mamamia Pasaribu, The Heart Simatupang Sister, menjadi sebuah  ajang penghormatan yang tulus. Pagelaran sendiri direncanakan akan  berlangsung pada Sabtu, 19 Nopember mendatang di Ballroom Hotel Sultan  Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini adalah renungan bersama kita atas  nasib seorang pencipta lagu.&lt;i&gt;"Without a song, each day would be a  century",&lt;/i&gt; "Tanpa lagu sehari rasanya seabad," kata Mahalia Jackson.  Pencipta lagu adalah awal dari populernya sebuah lagu dan dinikmati  penggemarnya. Seorang pencipta lagu, berkontribusi membuat kehidupan  kita indah dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memutar  memori ke awal 1970-an, adalah ketika saya mengenal Dakka Hutagalung  lewat Trio Golden Heart yang berbasis di Jakarta. Desa kami dengan  penduduk sekitar 100 Kepala Keluarga dan memiliki lebih dari sepuluh  tape rekorder, memiliki kaset rekaman mereka di rumah masing-masing.  Pemuda dan remaja sangat akrab dengan nama Tri Golden Heart.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak  awal kariernya yang dimulai 1971, desa Nagasaribu, Kabupaten  Simalungun, yang terletak 100 kilometer lebih dari Medan sudah mengenal  lagu-lagu ciptaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih jelas dalam memoriku,  volume-volume pertama kaset mereka masih menggunakan gitar, belum  menggunakan alat musik elektronik. Baru setelah Volume 12 dan  seterusnya, saya mendengar suara organ elektronik. Dalam beberapa kaset  yang saya miliki ketika itu, Trio Golden Heart menyelipkan lagu-lagu  Melayu serta lagu rohani Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkesan dengan  volume 12, karena selain lagu pop, mereka juga menyisipkan lagu rohani  berjudul: "Silang Nabadia" (Salib yang Suci). Kaset C-60 berdurasi enam  puluh menit, produksi perusahaan rekaman "Mini Record", Trio Golden  Heart yang terdiri dari tiga laki-laki yang tampan, berpakaian rapi  (kadang dengan jas), celana panjang dengan garis gosokannya yang tampak  jelas, merupakan idola kami ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore, pagi atau  malam, dari salah satu rumah pasti terdengar lagu Trio Golden Heart. Di  dalamnya terselip nama Dakka Hutagalung, disamping dua rekannya yang  lain, Star Pangaribuan dan Ronald Tobing. Hari Minggu pasti di rumah  kami akan mengumandang lagu &lt;i&gt;"Silang Nabadia" y&lt;/i&gt;ang diiringi organ yang  sungguh membuat hati teduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranjak  ke masa-masa kuliah di era 80-an, lagu-lagu seperti Anakkonhu, ciptaan  Dakka Hutagalung yang dipopulerkan Eddy Silitonga dan Didia Rongkap Hi  dipopulerkan Rita Butar-butar adalah dua lagu favorit kami saat kuliah  menjadi kenangan yang indah, mengharukan, menginspirasi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar  lagu ini, tak mampu rasanya menahan air mata bila kita berbuat salah  kepada orang tua. "Ndang namora au amang, manang parhauma na bidang…….So  tung las marisuang, sasudena halojaonki………Di dadang ari ditinggang  udan, do hami da amang, di balian an i…. .holan asa boi pasingkolahon  ho".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan bebasnya: "Saya bukan orang kaya nak, atau  pemilik ladang yang luas, Jangan kau sia-siakan semua kelelahanku,  Anakku, ….. kami dipanggang matahari, disiram hujan di ladang, hanya  supaya kau bisa sekolah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulu kuduk merinding saat  mendengar lagu, sambil membayangkan orang tua di kampung. Dalam sebuah  acara pelepasan sarjana, sebagian besar kami tak mampu menghempang air  mata haru mendengar lagu ini. Membawa pendengar sebah lagu hanyut dalam  perasaan penulisnya, merubah sikap pendengarnya, merupakan prestasi luar  biasa dari Dakka Hutagalung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami mencari jodoh,  lagu Didia Rongkap Hi begitu mengesankan. Syairnya berupa jeritan  seorang pemuda yang didorong orang tuanya mencari jodoh, tetapi tidak  kunjung bertemu. Orang tuanya sedih karena anaknya tidak dapat jodoh.  Padahal, anaknya sudah ke sana kemari mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nungnga  tung loja au, mangalului i, ndang jumpang au na hot di ahu…. Didia  Rongkap Hi!. (Aku sudah lelah mencarinya, tapi belum ketemu dengan yang  cocok di hati……Dimanakah jodohku?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua lagu itu hingga  saat ini, setelah tigapuluh tahun kemudian, saya masih dengan rasa  percaya diri yang tinggi menyanyikan lagu-lagunya di pesta-pesta,  kafe-kafe dan acara-acara hiburan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tentu  tidak sendiri. Jutaan orang Batak dan penggemar lagu Batak merasakan hal  yang sama. Ratusan lagunya yang lain juga dinikmati oleh berbagai  lapisan masyarakat penggemar lagu Batak di berbagai penjuru tanah air  dan dunia ini. Pengalaman saya bersama lagu-lagu Dakka, tentu juga  dirasakan jutaan penggemarnya dengan kesan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Tak  bisa dipungkiri, Dakka Hutagalung juga telah mempopulerkan  penyanyi-penyanyi Batak melalui lagu-lagu ciptaanya. Misalnya, artis  Rita Butar Butar, melejit diblantika musik Batak setelah melantunkan  tembang "Didia Rongkap Hi" yang tidak lain adalah karya nyata komponis  Dakka Hutagalung. Tidak jauh beda dengan artis Julius Sitanggang,  namanya melejit setelah melantunkan tembang "Tabahlah Mama", juga karya  besar komponis Dakka Hutagalung (Analisa, 13 Oktober 2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyenangkan  para penggemar, mengorbitkan beberapa artis melalui lagu-lagu  ciptaannya. Dakka telah memberikan kontribusi yang besar dalam memajukan  budaya bangsa, khususnya budaya Batak, serta bisnis dunia musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek  enam cucu ini, yang mencipta lagu sejak 1971, sudah menulis 400 lagu  yang menjadi hot lagu Batak. Bahkan menurut http://www.formatnews.com,  Dakka, ketika masih bergabung dengan Trio Golden Heart, sudah  memproduksi 28 album Batak dan Melayu. Lagu-lagunya menghibur pendengar  radio, VCD, televisi, membuat manusia merasa hari-harinya lebih indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak  hanya itu, sebuah filosofi mencipta lagu bukan hanya melulu mengejar  materi dan menjadi pelajaran berharga bagi pencipta lagu lainnya.  "Baginya lagu merupakan salah satu alat untuk mengungkapkan rasa  berbagai kejadian. Ia mengingatkan kalau lagu diciptakan hanya sekedar  untuk tujuan komersial, maka lagu itu tidak mungkin abadi,"ujarnya  seperti dikutip www.batakpost. com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, nasibnya  menjadi pencipta lagu, tidak berbeda dengan banyak seniman lainnya di  negeri ini. Kasusnya memang klise. Setelah berbulan-bulan, mulai dari  mencipta dan mengikuti proses lagunya hingga terkenal, seorang pencipta  lagu menerima imbalan yang masih memprihatinkan. Sebuah lagunya yang  diciptakannya hanya dihargai antara Rp 1.5-2 juta. Kalau ngetop bisa  dapat bonus. Bandingkan dengan pemain key board yang menyanyikan lagunya  di pesta, kafe dan tempat-tempat hiburan! Hanya beberapa jam sudah  dapat honor sekian ratus ribu. Beberapa kali show, maka penyanyinya  dapat duit jauh lebih banyak dari penciptanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kehidupan  Dakka Hutagalung tidak sepadan dengan nama besarnya. Masih menempati  sebuah rumah kontrakan di Tangerang," seperti diungkapkan seorang  penyelenggara Pagelaran "40 Tahun Dakka Hutagalung Berkarya" kepada  media. Kini, setelah mencipta lagu selama 40 tahun, laki-laki kelahiran  Pahae Tapanuli Utara itu terus mencipta dan bergelut di studio untuk  mengaransemen album yang dipercayakan kepadanya. Selain itu, ia juga  aktif di gereja mengajar koor kepada para anak muda dan orangtua atau  siapapun yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga masyarakat tergerak untuk turut mendukung pagelaran ini. Selamat berkarya buat Dakka!***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Biografi, tinggal di Medan&lt;br /&gt;Bisa  juga diakses di:&amp;nbsp;  http://www.analisadaily.com/news/read/2011/11/18/22262/dakka_hutagalung_pencipta_ratusan_lagu_batak/#.TsWnH1auq9s,  http://www.harangan-sitora.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-8770530994786544620?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/8770530994786544620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=8770530994786544620&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/8770530994786544620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/8770530994786544620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/11/dakka-hutagalung-pencipta-ratusan-lagu.html' title='Dakka Hutagalung, Pencipta Ratusan Lagu Batak, Lagunya di Puja, Tinggal di Rumah Kontrakan (Analisa Cetak, 18 Nopember 2011)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-223166786872373239</id><published>2011-11-14T20:11:00.002+07:00</published><updated>2011-11-14T20:11:58.403+07:00</updated><title type='text'>Renungan SEA Games 2011 (Harian Jurnal Medan, 12 Nopember 2011)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Oleh Jannerson Girsang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Peraih  Emas, Kini Penarik Becak dan Penjaga Kapal. “Habis manis sepah  dibuang”. Itulah luapan perasaan yang muncul dalam benak kami saat  mengetahui nasib dua orang peraih medali emas SEA Games di masa lalu  melalui media cetak dan televise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suharto,mantan peraih  medali emas balap sepeda di SEA Games 1979 menjadi tukang becak, dan  Jumain, mantan peraih emas nomor perahu naga SEA Games 1986 menjadi  penjaga kapal. Keduanya kini berdomisili masing-masing di Surabaya dan  Semarang. Sungguh memprihatinkan perhatian negeri ini pada atlitnya yang  berprestasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiruk pikuk menjelang SEA Games 2011 ini  hendaknya tidak mengulang kesalahan di masa lalu. Para atlet berprestasi  tidak terlantar setelah mereka menyumbangkan prestasi terbaiknya bagi  negeri ini. Jangan kecolongan lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Suharto, Jumain: Dipuja, Dihargai, Lalu Dilupakan!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  tengah gegap gempita, puja-puji dan semangat melaksanakan SEA Games  2011, mari sejenak menjenguk kehidupan dua atlet peraih SEA Games di  masa lalu yang kini hidupnya terlantar, tak sebanding dengan prestasinya  yang mereka sumbangkan bagi negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harian  Republika (31 Agustus 2011) mengungkap kehidupan Suharto. Mantan  pembalap yang kini berusia 59 tahun itu pernah merebut medali emas pada  SEA Games 1979 di Malaysia untuk nomor "Team Time Trial" jarak 100  kilometer. Bersama tiga rekannya saat itu, yakni Sutiono, Munawar Saleh  dan Dasrizal, tim balap sepeda Indonesia mampu mempecundangi pesaingnya  dari Malaysia dan Thailand untuk merebut medali emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu  bagaimana kehidupannya sekarang? Sangat miris membacanya. Republika  mengungkap nasib atlet kebanggaan bangsa ini dengan judul: ”Duh...Peraih  Emas Balap Sepeda Sea Games Itu, Kini Jadi Penarik Becak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemerlapnya  peristiwa kejayaan Suharto tiga puluh tahun lalu, kini menerima nasib  sebagai penarik beca untuk menghidupi kesehariannya bersama istrinya.  "Uang dari hasil menarik becak hanya cukup untuk makan keluarga. Kalau  ada sisanya kami tabung untuk bayar sewa kamar kos," ujarnya.&lt;br /&gt;Tiga  puluh tahun kehidupan mantan atlet berprestasi ini, cukup berpuas diri  dengan mengayuh becak dan menciumi medali dan piagam penghargaan yang  pernah diperolehnya dari berbagai ajang balapan nasional dan  internasional yang tersimpan rapi di rumah kontrakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib  Jumain tidak berbeda dengan Suharto. Awal bulan ini SCTV menyiarkan  kehidupan&amp;nbsp; Jumain, peraih Medali emas SEA Games 15 di Nomor Perahu Naga  tahun 1986 di Malaysia. Selain itu, dia juga meraih berbagai medali  dalam berbagai kejuaraaan internasional di Hong Kong dan Cina. Kini  Jumain, jadi penjaga kapal wisata di Pantai Tanjung Emas Semarang.&lt;br /&gt;Suharto  dan Jumain hanya contoh dari dua atlet yang di masa tuanya menderita.  Tentu banyak lagi yang lain, sebut saja misalnya Elias Pical (tinju),  Tati Sumirah (bulu tangkis), Budi Setiawan (Taekwondo), Gurnam Singh  (lari), Surya Lesmana (sepakbola). Tentu ruang ini tidak cukup untuk  menyebut mereka satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gurnam Singh: Atlet Lari Sumut&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi  penduduk Sumatera Utara, kita pernah memiliki Gurnam Singh. Sebuah  mediaonline mengisahkan bahwa “Gurnam Singh adalah seorang peraih tiga  medali emas pada cabang olahraga lari di perhelatan Asian Sea Games pada  tahun 1962. Atas prestasinya tersebut pelari tercepat se-Asia ini  diundang sebagai tamu kehormatan Presiden Soekarno dan diganjar hadiah  berupa 20 ekor sapi, dua buah mobil, serta sebuah rumah di Gang Sawo,  Medan. Tetapi kesuksesannya tersebut tidak bertahan lama. Pada tahun  1972 rumahnya digusur oleh pemerintah daerah karena tidak memiliki Izin  Mendirikan Bangunan (IMB). Hal tersebut menambah kepedihan dalam  hidupnya setelah sebelumnya istrinya membawa pergi keenam anaknya pada  tahun 1969. Setelah itu hidupnya semakin tidak menentu. Ia tinggal  berpindah-pindah dari satu kerabat ke kerabat lainnya, bahkan pada tahun  2003 Ia sempat menumpang tinggal di sebuah Kuil di Polonia, Medan.  Medali-medali yang pernah didapatnya dari berbagai kejuaraan  internasional di Rumania, Filipina, dan Malaysia telah dijualnya untuk  menyambung hidup. Dengan menggunakan satu-satunya sepeda tua yang Ia  miliki sebagai kendaraan, pria berusia 80 tahun ini kini hidup dengan  mengandalkan belas kasihan dan bantuan dari kerabat maupun orang-orang  yang mengenalnya”.  (http://www.uniknya.com/2011/11/5-olahragawan-yang-terlupakan/). .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak tertutup kemungkinan para atlit-atlit yang lain yang memerlukan perhatian dan tidak dapat kami sebut satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kabar Menggembirakan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman  adalah guru sejati. Kita berharap pengalaman ini menjadi pelajaran  berharga dan tidak boleh diabaikan begitu saja. Belajar dari kesalahan  masa lalu, sebuah sikap yang diperlukan pemerintah kalau ingin memajukan  olah raga di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Jumain dan Suharto di atas  menunjukkan betapa negeri ini alpa menghargai para atlitnya yang  berprestasi. "Seorang atlet hanya dikenang ketika meraih prestasi dan  mengharumkan nama bangsa. Setelah masa kejayaannya berlalu, nasib sang  pahlawan negara tersebut tak mendapat perhatian lagi, bahkan  disia-siakan. Itulah kenyataan yang harus dihadapi para olahragawan  meskipun seharusnya pantas mendapatkan penghargaan atas jasa-jasanya  tersebut" (Kompas.com, 1 Juni 2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya, merubah  sikap tidak semudah membalik telapak tangan. Kita butuh proses! Dalam  pengamatan Tommy Firman, peraih dua medali emas di cabang karate SEA  Games XIX Jakarta 1997 penghargaan negeri ini kepada para atlit memang  memerlukan perbaikan, setidaknya meniru negara lain. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia  membandingkannya dengan negeri jiran kita. “Sebut saja pemerintah  Malaysia, Thailand, dan China. Mereka sangat perhatian terhadap atlet  yang berhasil menyumbang medali emas bagi negaranya. Kelangsungan hidup  serta anak istrinya ditanggung pemerintah,”ujarnya, seperti dikutip  Harian Sinar Harapan (09 September 2011). . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau belum  berharap banyak, tetapi langkah-langkah dari berbagai pihak untuk  memerhatikan kesejahteraan atlet perlu disambut baik. Dari berbagai  berita di media, kegiatan Yayasan Olah Raga Indonesia (YOI) beberapa  tahun terakhir tampak telah mengambil langkah-langkah untuk memberikan  apresiasi bagi para atlet berprestasi di negeri ini. YOI&amp;nbsp; berencana  memberi asuransi kepada mantan-mantan atlet Tanah Air yang pernah  berprestasi baik tingkat nasional maupun internasional, seperti  diungkapkan&amp;nbsp; Dewan Pengawas YOI, Rudy Hartono, di Jakarta, pertengahan  tahun ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal September 2011 lalu, Tommy Firman, mantan  karateka nasional yang kini bisa hidup mapan sebagai pengusaha, bersama  YOI menunjukkan kepedulian dengan memberikan santunan kepada &amp;nbsp;Wempi  Wungau dari cabang binaraga dan Hasan Lobubun mantan petinju nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap  daerah harus ikut memperjuangkan atlet-atlet daerahnya yang berkiprah  di SEA Games agar ada jaminan kehidupan mereka di masa depan. Pemerintah  Kota (Pemkot) Surabaya yang membuka peluang lebar bagi atlet  berprestasi yang ingin menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Tahun  2011 ini, Pemkot akan mengusulkan kepada pemerintah pusat agar  menyetujui itu.(Harian Suryaonline, 15 April 2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal  yang baik, tindakan yang ditujukan memperbaiki kesejahteraan  atlet-atlet kita, tentu tidak hanya yang kami sebutkan di atas. Banyak  perusahaan,&amp;nbsp; individu atau organisasi lain yang melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga  artikel kecil ini menggugah pemerintah dan masyarakat agar SEA GAMES  2011 ini tidak mengulangi sikap yang tidak peduli atas atlet terbaiknya.  &amp;nbsp;&amp;nbsp;Sudah barang tentu kita juga menghimbau agar para atlet yang  terlantar dijenguk dan diberi bantuan secukupnya&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-223166786872373239?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/223166786872373239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=223166786872373239&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/223166786872373239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/223166786872373239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/11/renungan-sea-games-2011-harian-jurnal.html' title='Renungan SEA Games 2011 (Harian Jurnal Medan, 12 Nopember 2011)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-457786845036955745</id><published>2011-11-10T17:22:00.008+07:00</published><updated>2012-01-08T08:23:47.038+07:00</updated><title type='text'>Mengenal Lucya Chriz, Penulis Novel Amang Parsinuan. “Tinggalkan Pekerjaan Mapan, Fokus Menulis!”</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca novel Amang Parsinuan,  perasaan saya seperti membaca novel Raumanen, karya Marianne  Katoppo.Kisah percintaan Raumanen si gadis Manado berusia 18 tahun  dengan  Monang, laki-laki (Batak) seorang insinyur muda yang begitu  memukau. Ingin membacanya sampai buku tamat, tanpa henti. Demikianlah  novel ini saya baca hanya dalam beberapa jam, karena tidak begitu tebal,  hanya 125 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel Amang Parsinuan ditulis apik dan bahasa yang renyah, sarat dengan muatan lokal Batak, dengan gaya Medan yang kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahnya secara ringkas saya tuturkan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai  seorang kepala keluarga dari Suku Batak Toba, hampir setiap hari Lomo  berdoa agar memiliki anak laki-laki&amp;nbsp; yang kelak menjadi penerus  marganya. Namun, istri pertamanya, Uli hanya mampu memberikannya 5 putri  yang cantik. Lalu, desakan keluarga pihak keluarga Lomo yang  menganjurkan dirinya menikah, sampai ke telinga istrinya. Istrinya  frustrasi dan nekad bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangannya  dengan pisau tajam, tanpa seorangpun mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomo  menikah lagi dengan istrinya yang kedua, Roma, walau hanya mangalua,  karena keluarga perempuan tidak menyetujui perkawinan anak gadisnya  dengan duda beranak lima. Seiring waktu, segala impian Lomo terwujud.  Dari istri keduanya—wanita muda dan cantik serta berasal dari keluarga  kaya di Medan, Lomo memperoleh tiga anak laki-laki dan juga memberinya  keberhasilan dari segi materi—percetakannya membuka cabang dimana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan  dan kesetiaan isteri keduanya merawat anak-anaknya,&amp;nbsp; baik dari istri  Lomo pertama dan keduanya&amp;nbsp; ternyata dimaknai berbeda oleh&amp;nbsp; Lomo.  Kesibukan mengurus anak-anaknya, membuat Lomo merasa istrinya kurang  memperhatikannya, kurang memberinya kepuasan pelayanan kebutuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam,  tanpa sepengetahuan istrinya, Lomo&amp;nbsp; menikah lagi dengan wanita lain,  Pinta, bekas karyawan perusahaan percetakan miliknya, dan menelantarkan  ke delapan anak-anak dari istri pertama dan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu  berjalan, meski tidak diberi nafkah, Roma istri keduanya--dengan modal  cincin kawin dan kalung yang nilainya tak seberapa, dia membuka usaha  kecil-kecilan dan mampu menghantar ke delapan anak, dari istri pertama  Lomo dan tiga laki-laki yang dilahirkan dari rahimnya,&amp;nbsp; ke jenjang  keberhasilan. Semua anaknya sarjana dan mendapat pekerjaan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan  tahun tak memperdulikan anak-anak dan istrinya,tiba-tiba&amp;nbsp; di usianya  melewati 70 tahun, Lomo muncul di hadapan istrinya Roma. Selama ini  status perkawinannya dengan istri ketiganya Pinta tidak jelas secara  adat. Dia datang menggugat cerai isteri keduanya, supaya ketika dia  meninggal, mayatnya diberangkatkan secara adat Batak yang semarak.  Malum, dia orang kaya, memiliki percetakan di berbagai tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlaluan  memang. Mau matipun pengen "sangap" (terhormat), meski kelakuannya  bejat. Kisah ini mampu mengundang rasa geram, marah, sedih dan sangat  menginspirasi. Silakan baca sendiri bukunya deh! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah  imaginasi luar biasa seorang Lucya Chriz. Perempuan&amp;nbsp; kelahiran  Sidikalang 2 Maret 1986 itu adalah lulusan Fakultas Psikologi  Universitas Medan Area, dan bergabung dengan Komunitas Sastra Medan  Indonesia (KSI) Medan, sejak Maret 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sampul belakang buku itu kami kutip beberapa komentar pembaca buku itu. ”Cerita &lt;i&gt;Amang Parsinuan&lt;/i&gt;,  menarik dan indah sekali. Seindah Danau Toba dan Tanah Batak, dengan  tradisinya yang sangat hebat,” ujar Kirana Kejora, seorang novelis yang  tinggak di Surabaya. ”Etnisitas yang sangat tinggi dan bagus. Lucya  Chriz, mampu memperkenalkan budaya Batak, walau secara halus dia  mengkritiknya,”ujar Nestor Rico Tambunan, novelis yang tinggal di  Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambutan mediapun cukup lumanyan. Hal ini tampak  dari berita Peluncuran novel yang diselenggarakan di Galeri Seni Medan  Payung Teduh di Jalan Sei Bingei, 14 Oktober lalu. Harian Medan Bisnis  memuat peluncuran itu dengan judul Lucia Luncurkan Novel Amang  Parsinuan, Harian terbesar di Sumatera, Analisa melansir sebuah ulasan  panjang dengan judul Novel "Amang Parsinuan", Muatan Lokal Pertentangan  Adat dan Gereja), serta berita dan ulasan di media cetak dan online  lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penulis pemula, Lucya telah berhasil  memikat perhatian para novelis, media serta para pembacanya dan  menempatkannya sebagai seorang penulis berbakat dan memiliki potensi  sebagai penulis handal ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi Penulis?. Orang Tua Awalnya Tidak Setuju&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak  hanya novelnya yang menarik, ternyata kehidupan wanita kelahiran  Sidikalang 2 Maret 1986 ini juga tak kalah unik. Keyakinannya akan dunia  tulis menulis ke depan adalah sebuah inspirasi bagi penulis-penulis  muda daerah ini ang cenderung memandang dunia satu ini sebelah mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi  penulis adalah pilihannya dan bahkan meninggalkan pekerjaan yang sudah  sempat digelutinya di sebuah perusahaan beberapa lama. ”Saya &lt;i&gt;resign&lt;/i&gt;  dari perusahaan tempat saya bekerja dan memutuskan untuk konsen sebagai  seorang penulis,”ujar lulusan Sarjana Psikologi Universitas Medan Area  ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pilihan yang langka di kalangan anak muda masa  kini yang cenderung mengejar materi dan kemewahan. Baginya pilihan ini  tidak gampang, karena seluruh keluarga tidak mendukungnya. ”Mungkin  mereka akan menganggap otak saya sudah tidak beres. Nilai saya semasa  kuliah memuaskan, ditambah sudah bekerja di tempat yang baik, tapi saya  justru memilih hidup yang berbeda,”ujarnya mengenang!.&amp;nbsp; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberuntungan  memihak pada Chriz. Belum setahun sesudah berikrar di depan orang  tuanya, Lucya Criz berhasil menerbitkan novel Amang Parsinuan, yang  menempatkan dirinya sebagai penulis muda yang berbakat dan memenangkan  beberapa penghargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu singkat, Lucya berhasil  memperoleh beberapa penghargaan dari berbagai pihak, dan menjadi penulis  cerpen yang produktif di harian Analisa. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucya  merasakan betapa pentingnya seseorang mendapat pembinaan. Sejak  bergabung dengan KSI Medan dirinya mendapat bimbingan menulis.  "Merekalah yang membina saya sehingga bisa menulis lebih  produktif,:"katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Orang tuanya kini sudah menyadari  bakat anaknya yang membanggakan sebagai penulis. Beberapa hari setelah  peluncuran novel pertamanya, Lucya Chriz berkunjung ke rumah orang  tuanya di Jalan Sisingamangaraja, Sidikalang. ”Orang tua saya bangga  saya berhasil menulis. Mereka tidak malu lagi&amp;nbsp; menceritakan pekerjaan  saya sebagai penulis,”ujar Chriz terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Wawancara Tertulis dengan Lucya Chriz.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  mengenal pikiran-pikiran dan keresahan hati salah satu penulis dalam  buku antologi ”Kerukunan Umat Beragama” yang diselenggarakan Badan  Mahasiswa Universitas Esa Unggul, Maret 2011 ini, kami melakukan  wawancara tertulis. Silakan ikuti kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kapan muncul niat untuk menulis cerpen dan novel?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu saya suka menulis, tapi hanya menjadikannya sebagai &lt;i&gt;hoby.&lt;/i&gt;  Pelajaran Bahasa menjadi pelajaran favorit saya dan sangat senang  ketika diberikan tugas mengarang, membuat laporan, dsb yang berhubungan  dengan menuliskan sesuatu. Setiap hari saya menyalurkan hobby tersebut  di atas lembaran-lembaran buku harian, hal yang dilakukan banyak anak  seusia saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika duduk di bangku SMA, saya mencoba  membuat beberapa cerpen, yang saya tulis dengan tangan di atas kertas  folio dan saya jilid dengan rapi. Di akhir setiap naskah selalu saya  tuliskan tanggal penulisan dan tidak pernah lupa membubuhkan nama dan  tandatangan, merasa saya adalah seorang penulis professional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  saya kuliah dan berhadapan dengan banyak tugas dan aktif di berbagai  kegiatan, hoby itu pun lama-kelamaan terlupakan. Saya tak pernah lagi  menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus dan mulai bekerja di sebuah  perusahaan swasta di kota Medan, tiba-tiba kerinduan itu muncul kembali.  Saya bisa duduk berjam-jam di depan komputer untuk menuliskan berbagai  hal yang saya rasakan dan saya pikirkan. Tapi lagi-lagi, tulisan itu  hanya saya jadikan sebagai arsip pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama  kerinduan itu semakin besar dan rasanya tidak bisa saya bending lagi.  Sampai kemudian pada Agustus 2010, saya menuliskan sebuah novelette  rohani dan memberanikan diri untuk mengirimkannya kepada panitia sebuah  lomba yang tengah mengadakan festival kepenulisan. Desember 2010,  diumumkan bahwa saya berhasil meraih posisi sebagai juara harapan. &lt;i&gt;(Catatan:  Lucya Chriz berhasil meraih Peringkat Harapan II dalam Lomba Menulis  Novelet FPPK, Festival Pembaca dan Penulis Kristiani, yang  diselenggarakan oleh Saat Teduh dan BPK Gunung Mulia, Desember 2010)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu  adalah kemenangan pertama saya dalam kepenulisan dan benar-benar  berhasil mendongkrak semangat dan rasa percaya diri saya. Setelah itu,  saya mulai mengikuti beberapa lomba menulis cerpen dan puji Tuhan,  hampir semua lomba yang saya ikuti, saya termasuk salah satu pemenang di  dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu bertekad untuk menjadi seorang penulis yang konsisten dan professional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa Anda melakukannya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya  saya menulis hanya untuk menyalurkan hobby saja. Tapi lama-kelamaan,  mindset saya mulai bergeser. Saya menulis dengan sebuah harapan penuh.  Saya ingin menjadi berkat bagi orang lain melalui tulisan-tulisan saya.  Saya juga ingin bisa memuliakan nama Tuhan melalui karya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  sangat sadar bahwa saya bukanlah siapa-siapa di dunia ini. Tapi saya  merasa, bahwa saya bisa berpendapat dan mengeluarkan aspirasi saya.  Caranya adalah, melalui tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keresahan apa yang ada di hati Anda, sehingga melakukannya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  membaca banyak buku dari luar maupun dalam negeri, tapi saya selalu  merasa bahwa seperti ada yang berbeda antara penulis Indonesia dengan  penulis luar. Ketika penulis luar dengan bangganya menuliskan tentang  kondisi budaya, sosial dan ekonomi negerinya sendiri, penulis Indonesia  justru bangga jika bisa menuliskan tentang luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak  penulis yang mengambil setting di luar negeri demi prestise. Dan  ironisnya, hal tersebut sepertinya disambut gembira oleh para pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal  itulah yang membuat saya terbebani untuk bisa menuliskan tentang negeri  sendiri, karena sesungguhnya di negeri ini terdapat banyak sekali  keindahan yang bahakn tidak dimiliki oleh Negara lain. Setelah Negara,  saya mulai menyempitkan pikiran. Saya, selaku suku Batak, mencoba untuk  mengangkat cerita tentang lokalitas. Tentang kota Medan dan suku serta  kebudayaan yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin saya pelajari,  semakin saya bersemangat. Seolah mendapatkan harta karun, saya  mengetahui jika Medan dan segala kebudayaannya ternyata memiliki banyak  sekali aspek yang menarik. Dan semuanya itu menunggu untuk diangkat ke  dalam tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba menuliskan tentang lokalitas,  karena hanya melalui tulisanlah saya bisa menggaungkan kepada seluruh  negeri atau bahkan seluruh dunia, tentang keadaan ini. Selain puja-puji,  melalui tulisan saya juga bisa mengkritik dan melemparkan pendapat saya  dan juga orang lain mengenai kondisi yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan anak muda sekarang mencari pekerjaan mapan. Bagaimana dengan saya?&lt;br /&gt;Semuanya  tergantung prinsip seseorang. Selepas kuliah, saya mengikuti prosedur  yang diyakini semua orang. Bekerja. Saya mendapatkan pekerjaan di sebuah  perusahaan swasta yang mapan di kota Medan. Saya bekerja selama  setahun. Secara financial saya tercukupi, tapi tidak dengan bathin. Saya  sangat tidak nyaman dan merasa bahwa hidup saya tidak berada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  merasa kosong dengan segala hasil kerja saya, tapi sebaliknya akan  merasa sangat bersemangat ketika membiacarakan dunia kepenulisan.  Sehingga pada akhir 2010, saya membuat sebuah keputusan ekstrim. Saya  resign dari perusahaan tempat saya bekerja dan memutuskan untuk konsen  sebagai seorang penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak gampang, karena seluruh  keluarga tidak mendukung saya. Mungkin mereka akan menganggap otak saya  sudah tidak beres. Nilai saya semasa kuliah memuaskan, ditambah sudah  bekerja di tempat yang baik, tapi saya justru memilih hidup yang  berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu bernegosiasi dengan keluarga. Saya meminta mereka memberikan saya waktu selama satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika  dalam waktu setahun saya tidak bisa menghasilkan karya apa-apa, saya  akan mundur dan akan mengikuti ke mana pun mereka perintahkan. Tapi jika  dalam setahun saya bisa menghasilkan suatu karya, mereka harus merestui  saya dengan profesi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berjuang sekuat tenaga.  Saya ingin mewujudkan mimpi saya sebagai seorang penulis. Saya tidak  bisa mundur begitu saja, karena sudah terlalu banyak yang saya  korbankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji Tuhan, belum setahun, Tuhan menyatakan  kuasa-NYA. Lima buku antologi, cerpen yang dimuat di media, serta novel  “Amang Parsinuan” telah saya kantongi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana pandanganmu tentang minat baca dan tulis generasi muda yang sekarang?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau  melihat anak dan remaja generasi yang sekarang, terus terang saya  merasa miris. Pergaulan yang terlalu bebas yang tak jarang membuat saya  terkaget-kaget. Anak yang masih saya anggap ingusan, ternyata sudah  lebih banyak tahu dari saya tentang berbagai hal. Ironisnya, hal itu  adalah yang berkonotasi negative.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sangat  penting yang harus diperhatikan, anak-anak sekarang memiliki minat baca  tulis yang sangat sedikit. Dengan bersemangat saya sering menghadiahi  teman-teman buku-buku inspiratif, berharap mereka bisa menuai nilai  positif di dalamnya. Sayangnya, harapan saya takkan pernah terkabul,  karena hadiah saya hanya akan dijadikan penghuni rak paling bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua  sisi mata uang, syukurlah kalau ternyata masih banyak juga pemuda yang  memiliki semangat besar untuk berkarya. Memiliki daya juang tinggi agar  bisa menyuarakan hati dan pikirannya melalui tulisan. Hal itu membuat  saya sangat bahagia dan ingin mengajak mereka bergandengan tangan, agar  kami bisa bersama-sama membuat perubahan besar melalui tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel  ini bisa diakses di : http://www.harangan-sitora.blogspot.com. Anda  dibenarkan memperbanyak artikel ini dengan menyebut sumber dan nama  penulis. Tulisan ini belum pernah dimuat di media manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengenal karya-karya Lucya Chriz, anda bisa mengunjungi websitenya: http://termanis.com, http://lucya-chriz.blogspot.com.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-457786845036955745?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/457786845036955745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=457786845036955745&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/457786845036955745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/457786845036955745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/11/mengenal-lucya-chriz-penulis-novel.html' title='Mengenal Lucya Chriz, Penulis Novel Amang Parsinuan. “Tinggalkan Pekerjaan Mapan, Fokus Menulis!”'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-2139688135838609039</id><published>2011-11-07T23:31:00.002+07:00</published><updated>2011-11-07T23:31:52.582+07:00</updated><title type='text'>Berkat di Hari Idul Adha (Renunganku di Harian Analisa,30 Nopember 2009)</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;h2 class="uiHeaderTitle"&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Jannerson Girsang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Artikel  ini adalah pengalaman keluarga kami di saat Idul Adha, dua tahun lalu.  Semoga memberi makna pada perayaan Idul Adha 1432 H&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27  Nopember 2009 sepanjang hari cuaca begitu cerah di Medan. Secerah  suasana hati rekan-rekan saya yang beragama Islam menyambut hari Raya  Idul Adha. Warga Muslim berbondong-bondong menuju sejumlah mesjid.  Ketika saya keluar rumah, pembagian daging kurban sudah mulai terlihat  di beberapa tempat. Arus lalulintas di Kota Medan di Hari Raya Idul Adha  1430H, terlihat sedikit lengang di pagi hari. Warga cukup antusias  menyambut dan melaksanakan solat Idul Adha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Raya Idul  Adha, tidak hanya menjadi kebahagiaan bagi umat Muslim, tetapi juga  bagi tetangga-tetangga mereka yang berbeda agama. Sebagai tetangga, kami  sekeluarga yang beragama Kristen turut merasakannya. Rumah kami  bersebelahan dengan pak Halim,seorang Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang  dari diskusi finalisasi sebuah buku otobiografi, sore hari, ibu Yuli,  istri pak Halim menghampiri saya, tidak lama setelah memarkir mobil.  Beliau menyapa dengan muka ceria. “Pak Girsang, mana ibu,”ujar ibu Yuli  sambil tersenyum, seraya menyerahkan sebuah bungkusan plastik. Saat itu,  istri saya sedang tidak berada di rumah. Dia keluar bersama anak bungsu  saya memanfaatkan libur hari Raya Idul Adha dengan jalan-jalan. Mungkin  beberapa jam sebelumnya, ibu Yuli sudah mencari-cari kami. ”Dari tadi  rumahnya tutup ya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menerima bungkusan  plastik itu dengan rasa senang yang luar biasa, karena bungkusan seperti  itu, layaknya tahun-tahun sebelumnya, pasti berisi daging sapi. Berkat  luar biasa bagi kami di saat tetangga kami merayakan Idul Adha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar  saja. Ketika bungkusan ini saya buka, isinya adalah daging sapi yang  cukup untuk lauk dua kali makan bagi kami bertiga dengan istri dan anak  bungsu saya. Kami ikut merasakan nikmatnya Hari Raya Idul Adha melalui  tetangga kami yang luar biasa baiknya. Bukan&amp;nbsp; soal nilai daging sapinya,  tetapi perhatiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga anak saya di Jakarta, pernah  merasakan pemberian ibu Yuli. Istri saya memberitahukan bahwa kami sudah  menerima daguig kurban Idul Adha dari ibu Yuli. ”Salam sama ibu Yuli ya  bu,” demikian jawaban mereka kepada istri saya. Mendengar hal itu,  mereka turut memaknai perayaan Idul Adha. Meski mereka tidak ikut  menikmati daging pemberian bu Yuli, tetapi anak-anak saya ikut merasakan  kebahagiaan yang kami nikmati.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahun, pada  Hari Raya Idul Adha, ibu Yuli selalu menyisihkan daging sapi bagi kami.  Meskipun kami bukan Muslim. Ibu Yuli melakukan hal yang sama, sejak  1996, awal kami mulai bertetangga. Kami merasakan sebuah kedamaian  bertetangga sesama umat yang berbeda agama. Kami tidak pernah  terkungkung oleh perbedaan, tetapi kami melihatnya sebagai sebuah  karunia Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat pengalaman saya di Ciamis,  Jawa Barat di era 1980-an, ketika kami bertugas di sana. Almarhum Haji  Badrudin pemilik rumah&amp;nbsp; kos yang kami tempati di Jalan Sudirman 132 di  kota itu,&amp;nbsp; senantiasa menyisihkan daging kurban Idul Adha kepada  keluarga kami.&amp;nbsp; Begitu indahnya bertetangga andaikata kita memahami  persamaan : saling menghargai dan menghormati satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu  Yuli dan pak Halim adalah keluarga yang sederhana dan berbahagia.  Keduanya telah menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu. Saat  mereka berangkat haji, kami juga diundang dalam acara selamatan. Ibu  Yuli bekerja pada sebuah surat kabar dan suaminya pak Halim adalah  seorang redaktur senior di salah satu surat kabar lokal berpengaruh di  Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Hari Raya Idul Adha ini, penting bagi kita semua  untuk memikirkan cara-cara sederhana dalam bertetangga dan memelihara  kedamaian dengan sesama. Kami merasakan makna dalam perbuatan, tanpa  sibuk membahas hal-hal yang terkadang rumit. Mengambil cara sederhana,  tetapi menciptakan suasana yang saling tergantung dan saling  membutuhkan. Kami mampu melaksanakannya, meski kami tidak mengetahui  secara mendalam soal teologis, karena kami memang bukan ahli agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  kehidupan sehari-hari, sebagai tetangga ibu Yuli dan suaminya  menunjukkan sikap saling membutuhkan dan kedamaian yang menyejukkan  hati. Hal-hal sederhana sering kami lakukan sesama tetangga. Kalau hujan  datang dan kebetulan tidak ada orang yang tinggal di rumah kami,  sementara ibu Yuli kebetulan di rumah, maka dengan cekatan dia akan  mengamankan kain jemuran kami ke rumahnya. Kalau kebetulan salah seorang  anak saya atau istri saya di rumah dan kejadiannya seperti di atas,  maka mereka melakukan hal yang sama. Ujung-ujungnya, ibu Yuli pasti  memberikan hadiah. Anak-anak saya acapkali menerima kiriman makanan atau  apa saja dari ibu Yuli.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tetangga, karena  kesibukan masing-masing, maka kami hanya memiliki waktu tertentu untuk  bersilaturahmi. Khususnya pada Tahun Baru dan Lebaran. Saat merayakan  Tahun Baru, mereka berdua selalu berkunjung ke rumah kami. Sebaliknya,  kami senantiasa berkunjung ke rumah mereka pada saat Lebaran. Memang, di  hari-hari biasa, karena kesibukan masing-masing, kami kadang hanya  sempat saling tegor atau &lt;em&gt;”say hello”&lt;/em&gt;. Tetapi memiliki makna persahabatan dan saling menghargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat  merayakan Idul Adha bagi rekan-rekan saya yang beragama Islam. Semoga  Idul Adha tahun ini menjadi refleksi bagi kita semua, bahwa kita berbeda  karena Tuhan menginginkan kita berbeda. Marilah melakukan  tindakan-tindakan sederhana untuk membuahkan kedamaian dengan tetangga  kita dan pada akhirnya kedamaian di bumi Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kisah-kisah seperti ini bisa dialami oleh rekan-rekan saya sebangsa dan se tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini dimuat di Harian terbesar di Medan Analisa Edisi Cetak, 30 Nopember 2009 di halaman Opini.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-2139688135838609039?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/2139688135838609039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=2139688135838609039&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/2139688135838609039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/2139688135838609039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/11/berkat-di-hari-idul-adha-renunganku-di.html' title='Berkat di Hari Idul Adha (Renunganku di Harian Analisa,30 Nopember 2009)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-8092927586245288416</id><published>2011-11-07T23:23:00.001+07:00</published><updated>2011-11-07T23:24:46.184+07:00</updated><title type='text'>Mengenal Alberthiene Endah ”Karya dan Prestasi Perempuan dalam Biografi” (Harian Jurnal Medan, 7 Nopember 2011) l</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="createdate" valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top"&gt;&lt;b&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goresan prestasi  dan karya-karya perempuan sejak dulu masih tertinggal dari kaum  laki-laki. Langkah-langkah penulisan tentang karya perempuan adalah  usaha mulia yang mengejar ketertinggalan prestasi kaum hawa ke tengah  publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Albertiene Endah salah salah satu diantaranya.  Setelah sukses menulis novel, dia menulis sedikitnya lima biografi  perempuan yang berprestasi di bidangnya sejak 2003. Prestasinya dalam  waktu singkat menghasilkan sejumlah biografi kaum perempuan Indonesia  patut diacungi jempol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca novel Cewek Matre, Dicintai Jo, Ilove My Boss,  Jangan Beri Aku Narkoba, Nyonya Jetset, Ojek Cantik ini, pasti sudah  mengenal perempuan lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat  biografi, Alberthiene Endah mengangkat perempuan Indonesia dengan  menulis hal-hal yang mereka pikirkan, lakukan dan maknai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alberthiene  Endah—akrab dengan panggilan AE, adalah seorang jurnalis, penulis novel  dan biografi best seller Indonesia dan sosok inspirasi, khususnya  penulisan karya dan prestasi perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menulis novel,  sejak 2003, perempuan kelahiran Bandung ini telah menulis buku biografi  diantaranya, Seribu Satu KD (2003), Anne Avantie: Aku, Anugerah dan  Kebaya (2007),&amp;nbsp; Titiek Puspa: A Legendary Diva (2008), Catatan Hati  Krisdayanti – My Life, My Secret (2009), Jejak Batin Jenny Rachman:  Kutemukan Ridha-Nya (2010), Ani Yudhoyono: Kepak Sayap Putri Prajurit  (2010).&amp;nbsp; Selain itu, dia juga menulis tentang biografi beberapa tokoh  laki-laki seperti penyanyi legendaris Chryse dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  kemampuan menulisnya yang mendapat pujian banyak pihak, Alberthiene  Endah memberi inspirasi bagi pembaca tentang kisah perempuan Indonesia  yang sukses di bidangnya. Pemenang Adikarya IKAPI 2005 itu telah  memperkaya khasanah perbukuan di negeri ini dengan kisah yang  membanggakan. &lt;br /&gt;Dia berhasil menghiasi media cetak, online dan  televisi, mengisi nuansa baru tentang perempuan Indonesia, mencuri ruang  media di tengah berita-berita kasus korupsi yang telah merusak  sendi-sendi bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakukan diskrimintif  atas penulisan karya perempuan sudah melegenda sejak ribuan tahun yang  lalu, sejak jaman pra sejarah, revolusi peranian, revolusi industri,  hingga ke masa era informasi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gail Meyer Rolka, penulis  buku 100 Wanita yang Mengguncang Dunia, mencatat, hingga abad  keduapuluh, penulisan sejarah masyarakat Barat mendominasi dan  mengeksploitasi prestasi kaum pria&lt;br /&gt;”Dengan pengecualian yang jarang,  informasi dalam karya-karya referensi tradisional (ensiklopedia dan  buku-buku sejarah), menunjukkan bias yang nyata terhadap kontribusi  laki-laki ketika mengabaikan atau merendahkan kaum wanita. Sebagai  contoh, meskipun banyak ilmuwan wanita dikenal dan dihormati di masa  mereka, sejarawan cenderung mendiskreditkan kontribusi mereka, atau  karena wanita seringkali tidak menerbitkannya dengan nama mereka, gagal  mengenalkan usaha mereka” ujar Gail Meyer Polka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayer  mengambil contoh peran Marie Lavoisier, yang selama 25 tahun  berkolaborasi dengan suaminya meletakkan landasan bagi kimia modern,  Emiliedu Chatelet yang sangat mempengaruhi karya temannya Voltaire,  Chaterine Green yang membantu menemukan alat pemintal kapas bersama Eli  Whiney. Nama-nama yang muncul dan terkenal adalah nama laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneka  perjuangan perempuan dalam usahanya keluar dari hanya sekedar penjaga  dapur rumah tangga tetap menyala dan membesarkan anak-anak sudah  berlangsung selama 5.000 tahun, hingga sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutlah  beberapa di antaranya. Sophie Germain (tidak dibenarkan orang tua masuk  universitas—bekerja sendiri mengembangkan sejumlah teori), Madame CJ  Walker (jutawan pertama di Amerika), Dorothea Dix dan Elizabeth Fry  (reformasi penjara), Emmeline Pankhrust (memperjuangkan hak mengeluarkan  pendapat di Inggeris), Susan B Anthony dan Charrie Chapman Catt  (menjamin hak pilih bagi wanita), serta tokoh-tokoh lain dengan berbagai  hambatan yang mereka hadapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emansipasi yang diperjuangkan  Raden Ajeng Kartini, pahlawan emansipasi wanita Indonesia pada awal abad  20, sebenarnya tidak hanya peran dalam turut serta mengukir peradaban,  tetapi juga penghargaan atas karya-karya mereka. Semangat Putri Sejati  Indonesia itu juga menuntut pentingnya persamaan hak untuk ditulis dan  dipublikasikan atas prestasi dan karya yang secara proporsional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki  era globalisasi ini, perempuan memasuki peran di berbagai bidang  seperti memajukan teknologi, menemukan tanah-tanah baru, menciptakan  seni, musik dan tari inovatif, memimpin pasukan, menambah isi  kesustraaan dunia yang penting, memimpin pasukan, menjadi pemimpin  nasional berpengaruh, mempertanyakan dan mengubah kepercayaan dan  struktur sosial yang sudah ada untuk meningkatkan kualitas hidup semua  orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biografi Titik Puspa&amp;nbsp; misalnya, mengungkapkan peran  perempuan dengan perubahan pandangan yang lebih tegas di dalam rumah  tangga. Selain fungsi ibu, penyeimbang keluarga, ”Pada posisi tertentu,  perempuan harus maju seperti laki-laki. Mencari nafkah, mengerahkan  tenaga dan keberanian, membesarkan nyali, melupakan sejenak kemanjaan  sebagai perempuan. Hidup seringkali tak pandang bulu dalam menguji  ketangguhan. Perempuan harus seberani laki-laki” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini  tentu menuntut usaha-usaha meningkatkan publikasi karya dan prestasi  mereka melalui buku-buku atau media. Pemberitaan suara perempuan di  media memang masih perlu ditingkatkan. Simaklah kutipan berikut ini. “Do  you see the world from the perspective of women and girls?. Only 22% of  the voices you hear and read in the news are women’s. Change your  viewpoints,” demikian the IPS Gender Wire dalam http://www.ips.org. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda  Christianty—pemenang Perempuan Award 2010 yang diselenggarakan Radio  Suara Perempuan, Banda Aceh, mengatakan bahwa sampai saat ini di media  manapun, bukan hanya di Aceh, perempuan masih diberitakan secara bias  dan menjadi objek pelaku kesalahan. "Ini menjadi tugas kita semua untuk  lebih banyak menulis tentang tema perempuan,"ujar Linda, dalam diskusi  pada acara penganugerahan Perempuan Award akhir Juni 2010 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis,  media perlu lebih peka dan memiliki daya kritisnya atas karya dan  prestasi perempuan. Kisah-kisah Marie Lavoisier, Emiliedu Chatelet,  Chaterine Green cukup menjadi pelajaran bagi kita! Langkah-langkah  Elberthiene Endah menjadi teladan yang perlu ditiru para penulis  lainnya. Siapa mau turut?&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-8092927586245288416?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.jurnalmedan.co.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=68413:mengenal-alberthiene-endah-karya-dan-prestasi-perempuan-' title='Mengenal Alberthiene Endah ”Karya dan Prestasi Perempuan dalam Biografi” (Harian Jurnal Medan, 7 Nopember 2011) l'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/8092927586245288416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=8092927586245288416&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/8092927586245288416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/8092927586245288416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/11/mengenal-alberthiene-endah-karya-dan.html' title='Mengenal Alberthiene Endah ”Karya dan Prestasi Perempuan dalam Biografi” (Harian Jurnal Medan, 7 Nopember 2011) l'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-3188339904130883013</id><published>2011-11-07T23:17:00.003+07:00</published><updated>2011-11-07T23:19:26.194+07:00</updated><title type='text'>Google Book dan Demokrasi Pengetahuan (Harian Analisa, 7 Nopember 2011)</title><content type='html'>&lt;div style="padding-top: 4px;"&gt;&lt;a class="linknews" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8886436507105873588&amp;amp;postID=3188339904130883013" style="font-size: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 0pt 0pt 4px;"&gt;&lt;u&gt;Oleh : Jannerson Girsang.&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreasi Google terus berkembang dan membantu meningkatkan pengetahuan  penduduk dunia. Bagi para pengguna internet, mungkin masih ingat saya  menggunakan Google Translation (terjemahan Google) yang dimuat di harian  ini tahun lalu.&lt;/div&gt;Kali ini saya  menuliskan pengalaman saya menggunakan Google Book, atau selanjutnya  saya sebut Buku Google, sebagai salah satu alternatif memperoleh  bacaan-bacaan bermutu dan berguna bagi berbagai bidang pekerjaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Google adalah perpustakaan raksasa. 14 Oktober 2010 lalu,  Google mengumumkan bahwa jumlah buku yang sudah dipindai (scan) ke dalam  Buku Google mencapai lebih dari 15 juta. Suatu jumlah yang tidak  sedikit. Google memperkirakan terdapat sekitar 130 juta buku yang unik  di dunia (tepatnya 129.864.880), dan Google berniat memindai semuanya  pada akhir dekade ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama dengan beberapa teman saya yang baru-baru ini bertanya bagaimana  menggunakan Buku Google, mungkin anda juga belum pernah mencobanya, sama  dengan yang saya alami beberapa bulan lalu sebelum menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Demokrasi Pengetahuan&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Google adalah layanan Google bagi masyarakat dunia yang sudah  dimulai sejak 2004. Dimulai sejak proyek Google Print di Frankfurt Book  Fair pada Oktober 2004. Proyek tersebut kemudian berubah nama menjadi  Google Book Search dan kini kita kenal sebagai Google Book. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya proyek ini bernama Google’s Library Project, sekarang dikenal  sebagai Google Book Search, yang diumumkan pada bulan Desember 2004. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh banyak pihak proyek ini dipuji sebagai sebuah demokrasi  pengetahuan. Penduduk dunia berhak membaca buku dari berbagai negara di  dunia baik dalam bahasa mereka sendiri atau bahasa asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Google adalah layanan Google yang mencari teks utuh buku yang telah  dipindai (scan) oleh Google, dikonversi ke teks menggunakan pengenalan  karakter optic (optical character recognition), dan disimpan dalam  database digital Google sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk usaha ini, Google pernah mendapat protes dari berbagai pihak,  khususnya penulis yang merasa dirinya dirugikan akibat pemindaian  (scanning) atas buku-buku mereka. Google dikabarkan membayar US$ 125  juta untuk melanjutkan pemindaian buku-buku guna mewujudkan  demokratisasi pengetahuan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Google bukan perusahaan sosial. Mereka mendapatkan penghasilan yang  tidak sedikit dari iklan atau pendapatan lainnya. Bagi saya atau anda  sebagai pengguna, hasil pekerjaan mereka memberikan peluang membaca  buku-buku secara gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Memanfaatkan Buku Google&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang terbiasa menggunakan internet, mencari buku di Google Book tidaklah sulit. Bagaimana caranya, ikuti pengalaman kami!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuklah ke &lt;a href="http://books.google.co.id/"&gt;http://books.google.co.id&lt;/a&gt; (bahasa Indonesia) atau &lt;a href="http://books.google/"&gt;http://books.google&lt;/a&gt;. com. Di layar komputer Anda bagian tengah akan terpampang tulisan Google yang berwarna biru, merah, jingga dan hijau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawahnya tersedia kolom kosong bentuk persegi panjang, tempat mengisi kata-kata atau judul buku yang saya inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika saya mencari buku-buku tentang penulisan. Saya mengisi kata  kunci "Menulis" ke kolom kosong tadi. Lantas meng-klik tombol "telusuri  buku" yang terdapat di bawah kolom pencarian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hitungan detik, di depan layar komputer saya sudah terpampang buku-buku referensi tentang menulis. Luar biasa! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah buku-buku tulisan dalam bahasa Indonesia yang saya temukan.  Berani Menulis Artikel: Babak Baru Kiat Menulis Artikel untuk Media  Massa Cetak (Oleh Wahyu Wibowo), Cara Mudah Menulis Buku (Oleh Dodi  Mawardi), Menulis Karya Ilmiah (Oleh Etty Indriati), Terampil Menulis  Paragraf (Rev) (Oleh Asul Wiyanto), Asyik Belajar Membaca, Menulis, dan  Berhitung (Oleh Nida Rizky), Mahir Menulis Huruf a-z TK (Oleh WS.  Pribadie), Menulis Siapa Takut (Oleh Imron Rosidi), Hai, Aku suka  Menulis (Oleh Ali Muakhir,Asih Gandana). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami memerlukan informasi tentang Facebook dan mengklik Facebook,  maka di layar komputer terpampang buku-buku seperti : Gaul Ala Facebook  untuk Pemula (Oleh Dirgayuza Setiawan), Facebook (Tony Hendroyono), Ayo  Buat Facebook-mu Menarik (Bharata &amp;amp; Al Kalam), Kumpulan Status  Facebook Paling Seru (Ira Lathief), 101 Aplikasi Facebook Terdahsyat  (Jubilee Enterprise), Step By Step Facebook (Sartika Kurniali), Main  Facebook Pakai Ponsel (Ridwan Sanjaya), The Facebook effect: The Inside  Story of the Company (David Kirkpatrick), Facebook Fanatic: Explode Your  Popularity, Secure Your Privacy (Editors of Bottletree Books LLC),  Bengkel Facebook (Alif Harsan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Google sangat membantu saya dalam memilih buku dan memberikan  informasi detil sebelum membelinya di toko buku; mendapat referensi yang  baik karena sebagian buku dalam pratinjaunya sudah menjelaskan isi buku  beberapa bab secara utuh. Sebagian buku-buku di atas adalah buku-buku  baru, bahkan ada yang baru diterbitkan pada 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku "Cara Mudah Menulis Buku" di Buku Google misalnya. Saya  bisa membaca beberapa bab dalam pra tinjau, yang menampilkan informasi  soal latar belakang penulisan, filosofi menulis yang memberi wawasan  tentang penulisan. Bahkan buku lain bisa menjelaskan kekurangan buku  lainnya. Sehingga kalau saya gabungkan bisa memberikan informasi yang  hampir utuh bahan yang saya butuhkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Google tidak hanya menyediakan buku diital dalam bahasa Indonesia,  tetapi juga dalam bahasa asing. Sebuah perkembangan baru dalam perbukuan  dunia yang sebelumnya tidak pernah kita nikmati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat di daerah ini, mengatasi kekurangan buku bacaan  khususnya bagi daerah-daerah yang tidak memiliki toko-toko buku yang  lengkap (Nias, Dairi, Samosir dan daerah lainnya), Buku Google bisa  dimanfaatkan menjadi salah satu alternatif sarana mencari pengetahuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari meja kerja, sambil minum kopi Sidikalang, saya bisa menjelajah  buku-buku yang berisi perkembangan pengetahuan dunia! Silakan  memulainya!***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-3188339904130883013?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.analisadaily.com/news/read/2011/11/07/20541/google_book_dan_demokrasi_pengetahuan/#.Trc1b3MAJeE.facebook' title='Google Book dan Demokrasi Pengetahuan (Harian Analisa, 7 Nopember 2011)'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/3188339904130883013/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=3188339904130883013&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/3188339904130883013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/3188339904130883013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/11/google-book-dan-demokrasi-pengetahuan.html' title='Google Book dan Demokrasi Pengetahuan (Harian Analisa, 7 Nopember 2011)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-3038885212726822364</id><published>2011-11-03T12:08:00.000+07:00</published><updated>2011-11-03T12:08:45.735+07:00</updated><title type='text'>Motivasi Menulis (Harian Jurnal Medan, 3 Nopember 2011)</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="createdate" valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top"&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya menulis  supaya menjadi terkenal dan kaya,” itu sebuah jawaban seorang penulis  muda, dalam sebuah acara, ketika ditanya mengapa dia mau menjadi  penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooooooo….”, demikian suara di dalam ruangan besar  dalam sebuah pelatihan penulisan di Medan, seolah mencibirnya. Tidak ada  yang salah dalam hal ini.&amp;nbsp; Kebanyakan di dalam ruangan itu menganggap  bahwa penulis tidak boleh kaya dan harus menjadi orang yang menderita.  Sementara menurut anakmuda itu, menulis bisa menjadi orang kaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin mengarahkan Anda membahas situasi di atas,  tetapi ingin mengungkapkan bahwa seorang penulis tidak pernah menghitung  perolehannya saat menulis. Karena kalau demikian, dia tidak akan pernah  menulis. Mereka termotivasi oleh kepedulian atas sekeliling dan ingin  memberi kontribusi dalam pengembangan peradaban umat manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis  fokus pada memikirkan ide yang ditulisnya sehingga mampu mempengaruhi  pola pikir pembacanya ke arah yang lebih baik, sesuai pemikirannya,  bahkan rela menggunakan waktu yang tidak sedikit mulai dari menyusun  ide, menulis draft, memeriksanya, membuat draft final. Kadang tidak  sesuai dengan “materi”—kekayaan yang diimpikan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kepedulian, Tidak Cukup Kemampuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin  besar kepedulian penulis atas sekelilingnya, maka semakin besar pula  niatnya&amp;nbsp; untuk memperbaiki lingkungannya ke arah yang lebih baik, dan  mendorongnya menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cukup hanya luasnya pengetahuan  dan kemampuan menulis!. Tidak sedikit penulis dengan kemampuan  biasa-biasa saja, tetapi mampu menulis banyak buku. Sebaliknya, banyak  orang yang keahliannya luar biasa tetapi tidak menulis satu bukupun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal  lain yang perlu menjadi catatan adalah bahwa motivasi menulis muncul  dari kesadaran dan kemauan untuk berkontribusi bagi negara dan dunia.  Karya tulis, baik berupa artikel, puisi, buku merupakan kontribusi besar  bagi bangsa dan dunia ini dalam pengembangan peradaban manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Menulislah  sekarang juga. Menulislah apa saja yang bisa Anda tulis. Menulislah  tanpa banyak memikirkan dampak yang akan diperoleh dari kegiatan ini.  Menulis dan sebarkan sebanyak mungkin kepada orang. Menulis bisa lewat  internet, melalui media massa atau buku”. (Cara mudah menulis buku, Dodi  Mawardi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Meski Tangan Diikat, Tetap Menulis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meskipun  Anda mengikat tangan saya, saya tetap menulis,” ujar JK Rowling. Bagi  JK Rowling, menulis merupakan panggilan jiwa, kewajiban. Kalau tidak  dilakukan merasa bersalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Mark Twain, menulis adalah  mewariskan sesuatu bagi generasi berikutnya. Seratus tahun lamanya  Otobiografinya tidak dipublikasikan, meski yang bersangkutan sudah  selesai menulisnya&amp;nbsp; sebelum dirinya meninggal pada 1910. Otobiografinya  baru diterbitkan Nopember 2010. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menulis bukan untuk sesuatu yang bisa dinikmatinya semasa hidup. Menulis bukan hanya mengejar materi dan popularitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya  penulis sukses terikat sebuah tanggungjawab, jawaban atas pertanyaaan:&amp;nbsp;  kontribusi apa yang harus diberikannya sehingga, lingkungannya semakin  mampu memahami keadaan sekelilingnya, mengatasi kesulitannya dan hidup  manusia semakin mudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis sukses bukan orang yang  diberi fasilitas, walaupun itu kadang perlu. Mereka besar dari  kekurangannya. Baru-baru ini seorang teman saya kesal, karena tidak ada  orang yang mau mensponsori penerbitan bukunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrea Hirata  (penulis novel), pernah ditolak penerbit. Mereka hanya melihat dari sisi  bisnis. Karena Andrea bukan penulis terkenal, tentunya dari sisi bisnis  tulisan itu kurang menguntungkan. Dengan keyakinannya, Andrea Hirata  bahkan membiayai sendiri penerbitan karyanya, dan memasarkannya. Belum  ada penulis besar karena menggantungkan diri pada fasilitas orang lain.  Mereka bertumpu pada kemampuannya. &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Ujung-ujungnya Populer dan Kaya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para  penulis adalah orang yang terpuaskan dengan karyanya dibaca dan  dipelajari orang lain sebagai bentuk motivasi, informasi dan pengetahuan  baru. Penghargaan-penghargaan seperti honor dan penjualan karya tulis,  muncul belakangan. “Pembaca” dan kecintaan mereka atas sebuah karya  tulis dan membuat mereka berubah ke arah yang lebih baik, inilah bentuk  penghargaan yang paling riel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan ini akan  meningkatkan popularitas dan dengan sendirinya karyanya dibeli banyak  orang. Dia menjadi kaya. Ini adalah dampak kerja keras dan usaha yang  dilandasi motivasi tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, semakin orang menulis  maka pengetahuannya akan semakin luas. Dia akan menguasai masalah dari  berbagai bidang kehidupan yang menyentuh banyak manusia. Tak heran,  kalau semakin luas materi sebuah artikel atau buku menyentuh kehidupan  masyatakat, maka semakin banyak orang yang dapat terpengaruh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku  The Eight Habits (modifikasi dari The Seventh Habits) yang penjualannya  melebihi 20 juta eksemplar di seluruh dunia, tidak pelak karena materi  yang dibahas di dalam buku itu menyangkut kehidupan banyak orang di  dunia ini. Hal itu tercipta dari motivasi penulisnya untuk memperbaiki  kepemimpinan, bukan supaya dia terkenal atau kaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Steven  Covey penulis the Eight Habits tidak pernah menghitung, kalau dia  menulis buku akan mendapat sekian juta dollar. Kalaupun itu ditanyakan  kepadanya pasti jawabnya: “I have never tought of that, I have just done  my best in&amp;nbsp; writing”.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-3038885212726822364?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.jurnalmedan.co.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=68173:motivasi-menulis&amp;catid=57:opini&amp;Itemid=65' title='Motivasi Menulis (Harian Jurnal Medan, 3 Nopember 2011)'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/3038885212726822364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=3038885212726822364&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/3038885212726822364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/3038885212726822364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/11/motivasi-menulis-harian-jurnal-medan-3.html' title='Motivasi Menulis (Harian Jurnal Medan, 3 Nopember 2011)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-2986442403997672056</id><published>2011-10-28T08:37:00.000+07:00</published><updated>2011-10-28T08:37:24.463+07:00</updated><title type='text'>In Memoriam: Titi Said (1935-2011) ”Jadilah Angin dan Air yang Baik” (Edisi Analisa Cetak, 28 Oktober 2011 Halaman 38)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia  berduka!. Bangsa ini kehilangan Titi Said, seorang wanita yang  sepanjang hidupnya mendedikasikan dirinya bagi penulisan, serta dunia  perfilman Indonesia. Dia dikenal sebagai penulis novel, wartawan dan  mantan Ketua Lembaga Sensor Film (LSF).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titi Said,  meninggalkan kita untuk selama-lamanya dalam usia 76 tahun di rumah  sakit Medistra Jakarta, 24 Oktober lalu, setelah dirawat sejak 9 Oktober  karena menderita stroke. Samadikun, suaminya, meninggal hanya berselang  13 hari dari dirinya, tepatnya 11 Oktober 2011 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  kalangan perfiliman Titi dikenal sangat keibuan dan sangat teliti dalam  menyeleksi film. “Sewaktu masih di LSF, kalau ada hal yang menurut  beliau kurang jelas, beliau pasti memanggil sutradara atau produser  filmnya," kenang aktor utama film &lt;em&gt;Gie&lt;/em&gt;, seperti dikutip kantor berita Antara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menulis 25 Novel, Cerpen dan Essei&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakat  menulisnya sudah muncul saat duduk di bangku SMP dengan menulis cerpen.  Bahkan sejak kecil dia dijuluki pelamun kecil. Dia menyelesaikan SMA di  Malang, Jawa Timur dan melanjutkan kuliahnya dan lulus Sarjana Muda  Arkeologi dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1959. . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita  kelahiran Desa Kauman, Bojonegoro, 11 Juli 1937 ini sudah terbiasa  hidup mandiri sejak kecil lantaran ayah ibunya, Mohammad Said dan  Suwanti Hastuti, bercerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai kuliah di Universitas  Indonesia, kemudian menjadi wartawan di Majalah Wanita. Selain itu, dia  juga aktif menulis di Majalah Kartini dan Famili. Lulusan sarjana muda  Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1959 ini pernah  menjadi redaktur majalah Kartini dan memimpin majalah Famili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai  seorang ibu rumah tangga yang memiliki lima orang anak, prestasi Titi  Said pantas diacungi jempol. Sepanjang hidupnya, Titi telah menulis 25  buah novel, cerita pendek dan essai di berbagai majalah dan surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara novel yang ditulisnya adalah Perjuangan dan Hati Perempuan (kumpulan cerpen) (1962), serta &lt;em&gt;Jangan Ambil Nyawaku&lt;/em&gt;,  Reinkarnasi, Ke Ujung Dunia, Perasaan Perempuan, Tembang Pengantin,  Fatima, Lembah Duka, Selamat Tinggal Jeanette, Dr Dewayani, Putri Bulan,  .Bidadari. Dia juga menulis otobiografi Lenny Marlina, seorang bintang  film terkenal di Indonesia pada era 70-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novelnya&amp;nbsp; Jangan Ambil Nyawaku adalah &lt;em&gt;best seller&lt;/em&gt;  pada zamannya. Novel yang bercerita tentang seorang yang terserang  penyakit kanker itu dikerjakannya setelah melakukan wawancara dengan  puluhan dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian novel-novelnya kemudian dijadikan film. Tahun 1977, Titi menerbitkan bukunya &lt;em&gt;Jangan Ambil Nyawaku&lt;/em&gt; dan disusul tahun 1979 dengan Lembah Duka. Bersama tiga penulis wanita lainnya, &lt;em&gt;Titie Said&lt;/em&gt; menghimpun cerita pendeknya dalam buku Empat Wajah Wanita (1979).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatannya  dalam perfilman sejak 1973 (novel pertamanya difilmkan), membawa  dirinya aktif di LSF (dulu Badan Sensor Film) . &amp;nbsp;Kemudian, dia dipercaya  menjadi LSF pada 2000 dan sampai akhir hidupnya ia masih aktif sebagai  anggota LSF.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan posisi sebagai ketua LSF, wajahnya  senantiasa muncul ketika sebuah film yang telah beredar memicu  kontroversi dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kesibukannya menjadi Ketua LSF, Titi Said menulis novel, seperti Diana dan menulis buku Prahara Cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tak Memaksakan Anak Jadi Penulis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titi  menikah dengan seorang anggota kepolisian yang berpindah-pindah tugas.  Tak lama setelah menikah, pada 1965 Titie ikut suami pindah ke Bali. Di  sana dia aktif di masyarakat dan pernah menjadi anggota DPRD di provinsi  yang pendapatannya berasal dari industri pariwisata itu. Pada 1973  Titie ke Jakarta dan tinggal bersama lima anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidak  memaksakan anak-anaknya menjadi penulis. Dari lima anaknya,  masing-masing yang tertua berprofesi sebagai pebisnis (lulusan ITB),  kedua lulusan ITB, sekarang di Bappenas, ketiga di perminyakan, sekarang  di Kuwait, keempat di Amerika, bekerja di perminyakan, dan anak  bungsunya bekerja di Bank Mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup baginya adalah  menjadi orang yang berguna, dibutuhkan oleh manusia. ”Kita ini seperti  angin. Angin dan air bisa menjadi angin yang baik, air yang sangat  berguna. Tapi, angin juga bisa menjadi badai dan air juga bisa menjadi  banjir. Jadilah angin dan air yang baik, yang selalu dibutuhkan oleh  manusia. Angin dan air adalah kesenangan saya,”ujarnya dalam sebuah  wawancara dengan harian Republika (2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan  Titi Said, semoga dedikasimu untuk sastra dan perfilman di Indonesia  menjadi teladan bagi generasi masa kini dalam mengembangkan dunia tulis  menulis dan perfilman Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diolah dari Berbagai Sumber)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-2986442403997672056?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/2986442403997672056/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=2986442403997672056&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/2986442403997672056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/2986442403997672056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/10/in-memoriam-titi-said-1935-2011-jadilah.html' title='In Memoriam: Titi Said (1935-2011) ”Jadilah Angin dan Air yang Baik” (Edisi Analisa Cetak, 28 Oktober 2011 Halaman 38)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-2376965527711917281</id><published>2011-10-28T08:35:00.000+07:00</published><updated>2011-10-28T08:35:15.346+07:00</updated><title type='text'>83 Tahun Sumpah Pemuda:  Mencintai Bahasa Indonesia yang Kian Mendunia (Edisi Analisa Cetak, 28 Oktober 2011)</title><content type='html'>&lt;div style="padding: 0pt 0pt 4px;"&gt;&lt;u&gt;Oleh : Jannerson Girsang.&lt;/u&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 0pt 0pt 4px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 0pt 0pt 4px;"&gt;Sebagai pemakai dan peminat bahasa Indonesia, saya cukup berbangga  dengan perkembangan yang dicapai bahasa nasional kita. Saya bisa  menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang bisa dimengerti orang  asing dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari perdagangan, diplomasi  dan bahasa ilmiah, jurnalistik dan lain-lain. &lt;/div&gt;Dengan perkembangan  teknologi terjemahan online seperti Terjemahan Google, bangsa lain sudah  mampu mengartikan artikel saya dalam bahasa Indonesia. Suatu ketika  seorang teman saya dari Chekoslovakia merasa senang sekali, ketika  berhasil menerjemahkan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Cheko, dengan  menggunakan Google. "Understandable" katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bangsa berdaulat, kita beruntung Sumpah Pemuda 1928 mengikrarkan  bahwa bangsa Indonesia berbahasa satu: Bahasa Indonesia. Selain dua  sumpah lainnya Berbangsa Satu dan Bertanah Air Satu. Bahasa Indonesia,  kini telah menjadi bahasa Dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bekerja di sebuah kantor Konsulat Asing di Medan, era 1990-an,  saya terkejut kemampuan staf asing yang semuanya mampu berbahasa  Indonesia, meski hanya untuk komunikasi sederhana. Bahkan setiap saat  mereka membuka kamus dan belajar perbendaharaan kata dan tatabahasa.  "What is the meaning of this in Bahasa?," katanya. Bahasa adalah sapaan  akrab mereka terhadap Bahasa Indonesia. Bangga dong, orang asing belajar  bahasa Indonesia! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, pengalaman saya saat belajar sekolah atau perguruan  tinggi minat belajar bahwa Indonesia tidak sebesar sebelum saya mulai  aktif bekerja di konsulat asing itu dan kemudian harus menulis dalam  bahasa Indonesia. Anda jangan seperti saya, belajarlah bahasa Indonesia  secara intensif sejak dini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis, Memacu Minat Belajar Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, banyak orang seperti saya, bergaul dengan orang asing dan  menulis menjadi salah satu faktor pendorong saya belajar bahasa  Indonesia kembali. Tetapi, menulis menjadi faktor terbesar mendorong  saya belajar Bahasa Indonesia. Mungkin yang lain punya pengalaman  lain—bisa menjadi bahan bagi para ahli bahasa mengajarkan dan menanamkan  rasa cinta bangsa ini lepada bahasa nasionalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Bahasa Indonesia, lucu?. Tidak kawan!. Meskipun sudah belajar  bahasa Indonesia sejak Sekolah Dasar, saya tidak luput dari kesalahan  tata bahasa dan ejaan ketika menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih sering diejek ahli bahasa Indonesia, karena belum menggunakan  ejaan dan tata bahasa yang baik. Kritikan itu wajar saja, karena saya  bukan ahli bahasa. Memang seorang penulis—juga rekan saya sesama bangsa  dengan profesi berbeda tidak bisa luput dari kesalahan dua hal penting  di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farid Gaban, seorang mantan wartawan Tempo, misalnya mengatakan sewaktu  menulis seseorang harus memperhatikan tata bahasa dan ejaan, menaati  bahasa Indonesia yang baku dan benar. "Apakah ejaan katanya benar, di  mana meletakkan titik, koma dan tanda hubung? Apakah koma ditulis  sebelum atau sesudah penutup tanda kutip". Kesalahan menggunakan tanda  baca, bisa merubah ide yang terkandung dalam pesan dimaknai secara tidak  benar atau tidak bias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MediaOnline dan Pelajaran Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada usaha memperbaikinya selain terus belajar menulis dengan  bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dimana, dan siapa mengajar anda?  Tak perlu takut, mediaonline memberi peluang besar dan praktis bagi kita  belajar bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menulis di komputer yang tersambung dengan Internet, saya lebih  sering menggunakan referensi bahasa Indonesia secara online dan  mengusahakan sedapat mungkin dari referensi yang sudah standar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencari kata-kata sulit atau persamaan kata, saya menggunakan &lt;a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/"&gt;http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/&lt;/a&gt;,  situs yang berisi Kamus Besar Bahasa Indonesia online, yang dikenal  dengan sebutan KBBI terbit pertama 28 Oktober 1988 saat Pembukaan  Kongres V Bahasa Indonesia. Ini merupakan rujukan yang dipercaya baik di  kalangan pengguna di dalam maupun di luar negeri. Setiap ada  permasalahan tentang kata, KBBI selalu dianggap sebagai jalan keluar  penyelesaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata saya ingin menulis bahasa yang benar, saya kerap mengunjungi &lt;a href="http://www.editorbahasa.blogspot.com/"&gt;http://www.editorbahasa.blogspot.com/&lt;/a&gt;.  Website ini mengajarkan cara menempatkan tanda baca, dan lain-lain.  Blog ini menyebut dirinya "Sekadar teman dalam mencari berbagai jawaban  kebahasaan". Selain itu, &lt;a href="http://www.bahtera.org/kateglo/"&gt;http://www.bahtera.org/kateglo/&lt;/a&gt; mengajarkan saya Kamus, Glosarium Peribahasa, Singkatan dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat merasa penting melihat perkembangan bahasa, saya mengunjungi situs &lt;a href="http://rubrikbahasa.wordpress.com/"&gt;http://rubrikbahasa.wordpress.com/&lt;/a&gt;.  Blog ini adalah koleksi artikel tentang berbagai aspek tentang bahasa  Indonesia yang diambil dari berbagai media massa arus utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersedia ratusan artikel yang membahas Bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya sering membaca sumber dari bahasa asing, maka saya mengunjungi &lt;a href="http://www.kamus.net/"&gt;http://www.kamus.net/&lt;/a&gt;.  Situs yang menyebut dirinya the world’s largest and most popular  Indonesian dictionary, menyediakan terjemahan kata-kata dalam bahasa  Indonesia ke dalam Bahasa Inggeris dan sebaliknya. Saya menggunakan  situs ini untuk melihat kata-kata sulit terjemahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut kanan ada pilihan Click on "English - Indonesia" yang  menterjemahkan kata bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggeris dan, Click  on "Indonesia - English" menterjemahkan bahasa Indonesia ke dalam  bahasa Inggeris. Praktis dan tidak usah capek buka-buka kamus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, saya juga harus belajar dari berbagai bahan dalam bentuk buku-buku cetak yang sudah baku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa terbitan yang saya gunakan adalah Kamus Kamus Besar Bahasa  Indonesia, Mengapa Disebut Bentuk Baku dan Tidak Baku? (Dirgo  Sabaryanto), buku yang membimbing saya berbahasa Indonesia dengan baik  dan benar. Tentu banyak lagi yang lain seperti Menulis Populer, karya  Ismail Marahimin (2005). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ingin saya kemukakan adalah bahwa saat ini tidak ada masalah  bagi mereka yang ingin belajar bahasa Indonesia meski dilakukan secara  otodidak. Bahannya tersedia, tinggal memilih mana yang paling menarik  dan menyediakan informasi yang lebih lengkap dan memenuhi syarat-syarat  standar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatkan kemampuan anda dan kecintaan anda terhadap bahasa Indonesia. Jangan kecil hati menulis dalam nasional sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis artikel dalam bahasa Indonesia sudah bisa dimengerti orang  asing. Perkembangan teknologi terjemahan Google misalnya, sudah mampu  menerjemahkan Bahasa Indonesia (meski belum sempurna betul) ke dalam  puluhan bahasa dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bangsa, sepantasnya kita bangga memiliki bahasa sendiri. Jika  kita ingin Indonesia eksis dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia ini,  maka masyarakat Indonesia harus mencintainya, mengembangkannya dengan  dilandasi semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirgahayu Sumpah Pemuda ke 83. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-2376965527711917281?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/2376965527711917281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=2376965527711917281&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/2376965527711917281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/2376965527711917281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/10/83-tahun-sumpah-pemuda-mencintai-bahasa.html' title='83 Tahun Sumpah Pemuda:  Mencintai Bahasa Indonesia yang Kian Mendunia (Edisi Analisa Cetak, 28 Oktober 2011)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-6617884652320835311</id><published>2011-10-24T07:45:00.001+07:00</published><updated>2011-10-24T07:47:16.623+07:00</updated><title type='text'>Menulis Kegelisahan dan Impian (Harian Analisa Cetak, 19 Oktober 2011)</title><content type='html'>&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="padding: 0pt 0pt 4px;"&gt;&lt;u&gt;Oleh : Jannerson Girsang.&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis tidak sekedar menulis tanpa memikirkan kebutuhan pembacanya.  Melalui sebuah tulisan, pembaca bisa mempelajari teladan untuk sebuah  cara nyaman mencapai impiannya, mengatasi kegelisahan menuju impian.  Itulah salah satu kunci penting yang harus diingat agar seseorang  tergerak untuk membaca.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Buku produksi Mark  Plus: "Anxieties and Desires: 90 Insights Marketing to Youth, Women and  Nitizen to Indonesia", mengatakan bahwa di era &lt;i&gt;new wave &lt;/i&gt;(gelombang baru)  ini, seorang marketer harus bisa memahami tidak saja ekspektasi dan  persepsi seperti di era transisi, tetapi dituntut bisa menangkap apa  yang menjadi kegelisahan (&lt;i&gt;anxiety&lt;/i&gt;) sekaligus impian &lt;i&gt;(desire)&lt;/i&gt; pelanggan  (&lt;i&gt;customer&lt;/i&gt;)-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsumen seorang penulis adalah "Pembaca". Pembaca harus merasa  berdialog dengan sang guru yang mampu menangkap masalah mereka,  sekaligus menawarkan cara keluar dari masalah dan menawarkan impian.  Makin dalam pemahaman penulis atas kegelisahan dan tawaran impian yang  konkrit, pembaca makin meminati produk tulisannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impian manusia secara umum adalah memiliki pekerjaan/usaha/aktivitas  mengisi waktu, merasa nyaman di dalam pekerjaan atau usahanya, berguna  bagi sekelilingnya. Dalam perjalanan mencapai impian itu manusia tidak  luput mengalami kegelisahan yang menurut pendapat para ahli bersumber  dari empat hal yakni: gelisah terhadap dosa-dosa dan pelanggaran (yang  telah dilakukan); gelisah terhadap hasil kerja (tidak memenuhi kepuasan  spiritual), takut akan kehilangan milik (harta dan jabatan) dan takut  menghadapi keadaan masa depan (yang tidak disukai). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah-kisah yang membawa manusia merasa nyaman menjalani impiannya dan  mengurangi rasa gelisah dalam hidupnya, merupakan topik-topik yang  memiliki pembaca yang sangat luas dan tidak lekang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Membaca Impian dan Kegelisahan Pembaca&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang berpendapat, "Menulis itu mudah, tulis sajalah apa yang ada  di benakmu!. Jangan terlalu kaku". Pernyataan ini tidak salah. Dan  sangat benar bagi orang yang memulai menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tidak seluruhnya benar kalau seseorang ingin menjadi penulis yang  memiliki pembaca secara luas. Puisi-puisi Chairil Anwar, Shoe Hok Gie  begitu diminati masyarakat luas karena mereka mampu menangkap  kegelisahan dan impian pembacanya. Tulisan bukan sekedar merangkai kata  menjadi kalimat, merangkai kalimat menjadi paragraf yang kosong makna.  Dia harus mengandung impian dan kegelisahan, kesenjangan antara yang  seharusnya dan yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba simak kesaksian seorang pengagum Chairil Anwar: "Saya, yang sejak  kecil sangat gemar membaca buku-buku filsafat dan sastra, tanpa sadar  mengagumi sosok penyair yang mati muda : Chairil Anwar. Dalam hidupnya  yang singkat, tak punya riwayat pendidikan tinggi, Chairil Anwar bisa  jadi legenda sastra Indonesia. Barangkali hidup yang tak mudah itulah  yang membuatnya lebih peka terhadap sekitar. Barangkali kegelisahannya,  rasa kecewanya, rasa tertekannya-lah yang kemudian menjadikan karyanya  "bernyawa". (&lt;a href="http://rosepr1ncess.blogspot.com/2010/12/yang-ku-kagumi-setengah-mati.html"&gt;http://rosepr1ncess.blogspot.com/2010/12/yang-ku-kagumi-setengah-mati.html&lt;/a&gt;). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penulis memiliki multi-tasking: menulis, memilih topik yang dibutuhkan pembaca—memahami kategori pembacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tentu pernah mendengar komentar seperti ini. "Artikel anda sangat  inspiratif, dan mendorong saya melakukan............ Saya menunggu  artikel Anda berikutnya". Itu adalah bukti bahwa artikel yang menawarkan  impian dan kegelisahan dibutuhkan setiap saat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan seharusnya mampu menggerakkan orang lain berpindah dari suasana  dirinya sebelum membaca, kepada kondisi yang ditawarkan penulisnya. Para  pembacanya larut dalam pikiran penulis dan mengikuti alur pikirannya  yang benar, lebih mudah dan mengerakkan tindakannya ke arah yang lebih  baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keluar dari Kegelisahan Menggapai Impian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas seorang penulis adalah mengungkap serta menjembatani kondisi yang  seharusnya dan kenyataan yang terjadi. Para penulis harus memahami fakta  dan impian, mengungkap kesenjangan dari cita-cita yang ingin dicapai.  Misalnya. Fakta yang terjadi seperti kemajuan ekonomi menyebabkan  jalan-jalan macet, kecelakaan meningkat, kriminalitas meningkat, korupsi  meningkat, makin banyak penghuni rumah sakit jiwa. Padahal, kita  menginginkan dengan kemajuan ekonomi hidup menjadi lebih nyaman dan  aman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki era new wave dengan segala macam perubahan yang terjadi membuat  tidak sedikit anggota masyarakat moderen mengalami perasaan gelisah  dalam kehidupan sehari-hari. Perasaan gelisah yang dialami secara terus  menerus akan mengakibatkan gangguan perilaku atau neurose. Konon saat  ini di kota-kota besar, jumlah penderita neurose semakin meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang memiliki impian dan cara mewujudkannya. Untuk mencapainya  mereka menempuh proses dan waktu. Dalam perjalanan menuju impian, mereka  memerlukan kisah-kisah atau cerita, ilmu pengetahuan untuk memahami  cara melakukan sesuatu, memerlukan bacaan-bacaan yang dihasilkan seorang  penulis. Mereka memerlukan cara sekaligus idola untuk menggambarkan  impian itu, meski tidak selalu mencapai seperti apa yang mereka  idolakan. Sebaliknya, tidak sedikit pembaca yang mampu melebihi idolanya  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kesenjangan di dalamnya dan penulis menawarkan jalan keluar untuk  mencapai impian. Bisa dari pengalaman penulisnya, bisa juga meramu  pengalaman orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Life Without Limit&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soegianto Hartono, Pelatih dan Konsultan Citra Diri Sukses, Penulis Buku  "Untuk Apa Hidup Susah" menawarkan empat cara menghilangkan  kekhawatiran, yakni mempelajari semua data dan fakta, berfikir rasional,  percaya kepada diri sendiri dan percaya kepada Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku atau tulisan yang membicarakan hal di atas sangat diperlukan  pembaca!. Sekedar sebuah contoh. Sebuah buku best seller Life Without  Limit yang ditulis oleh Nick Fujivic mengisahkan kisah sukses dirinya  yang terlahir tanpa lengan dan tungkai, hingga menjadi seorang yang  tidak hanya mampu mandiri, tetapi juga kaya, menjadi teladan bagi  siapapun yang mencari kebahagiaan abadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menulis kisah hidupnya sendiri atas suksesnya mengatasi kekhawatiran  akibat cacat yang dimilikinya menuju impian. Nick menceritakan cacat  fisik dan pertempuran emosi yang dialaminya saat berusaha mengatasi  keadaannya semasa kecil, remaja, dan menjelang dewasa muda. "Untuk waktu  yang terasa sangat lama dan sepi, aku bertanya-tanya apakah ada orang  lain di dunia yang seperti aku, serta apakah ada tujuan lain dalam  kehidupanku selain rasa sakit dan terhina."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Nick Fujivic merupakan pembicara motivasi yang sukses secara  internasional. Pesan utamanya: tujuan terpenting siapa pun adalah  menemukan tujuan hidup, terlepas dari kesulitan apa pun atau rintangan  apa pun yang sepertinya mustahil dilalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengisahkan bagaimana imannya terhadap Tuhan menjadi sumber kekuatan  utamanya dan menjelaskan bahwa begitu dia menemukan tujuan  kehidupan—menginspirasi orang lain untuk menjadikan kehidupan mereka  serta dunia lebih baik—dia mendapatkan kepercayaan diri untuk membangun  kehidupan tanpa batas yang produktif dan membawa berkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Nick hanya salah satu contoh. Beberapa penulis di Indonesia  berhasil menggali kegelisahan dan impian para pembacanya. Coba simak,  karya-karya Alberthiene Endah, Andrea Hirata, dengan buku-buku best  seller mereka (Selebriti, Lasykar Pelangi) yang sarat dengan suara  kegelisahan dan impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis kegelisahan dan impian adalah kebutuhan pembaca yang besar dalam  era perubahan ini! Manusia memerlukan teladan dalam perjalanan menuju  impian dengan sumber kegelisahan yang makin beragam. Percaya atau tidak,  silakan buktikan sendiri! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Penulis Biografi, Tinggal di Medan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-6617884652320835311?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/6617884652320835311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=6617884652320835311&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/6617884652320835311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/6617884652320835311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/10/menulis-kegelisahan-dan-impian-harian.html' title='Menulis Kegelisahan dan Impian (Harian Analisa Cetak, 19 Oktober 2011)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-8049436863547991903</id><published>2011-10-04T10:31:00.000+07:00</published><updated>2011-10-04T10:31:05.684+07:00</updated><title type='text'>Sepenuh Hati Menyenangkan, Setengah Hati Menyakitkan.(Harian Analisa Edisi Cetak, 4 Oktober 2011)</title><content type='html'>&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;Oleh : Jannerson Girsang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarlah  para pemimpin negeri ini, bahwa bekerja setengah hati tidak akan  membuat diri nyaman tetapi menyakitkan banyak orang. Sebaliknya bekerja  sepenuh hati akan menyenangkan kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan  dengan  seorang tukang urut langganan saya sejak tiga tahun terakhir ini   benar-benar menyentuh perasaan saya. Betapa pekerjaan yang   setengah-setengah hati berdampak tidak baik bagi diri sendiri dan orang   lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seorang ayah dari dua anak berusia sekitar tiga  puluhan. Yang tertua  berusia 12 tahun. Orangnya sangat menyenangkan  diajak bicara dan dia  suka curhat saat mengurut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  kisahnya, beberapa waktu lalu dia bercita-cita menanam kopi di  atas  lahan satu hektar di kampungnya. Harapannya, bila kopinya sudah  berbuah  akan memberikan penghasilan tambahan baginya di samping  penghasilannya  sebagai tukang urut di kota. Dia terdorong menanam kopi  karena  menyadari, penghasilannya sebagai tukang urut ke depan tidak akan  mampu  membiayai keluarganya, khususnya kalau anak-anaknya nanti sudah   semakin besar. Sementara dia ingin agar kedua anaknya bisa menginjak   bangku kuliah seperti anak-anak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu dia  mengumpul sejumlah uang. Ternyata sebagai tukang urut, dia  mampu  menyisihkan sebagian penghasilannya untuk investasi kecil-kecilan  di  kampung. Memenuhi harapan itu, dia membuat rencana mulai dari   pembersihan lahan, pengolahan, hingga penyediaan bibit dan pupuk, serta   orang-orang yang akan mengerjakannya. Dia juga menghabiskan uang   bolak-balik ke kampungnya untuk mengurus penanaman kopi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat  orang penduduk kampung dikerahkannya dalam persiapan untuk  mewujudkan  cita-citanya. Para pekerjanya itu terdiri dari orang tua dan  anak-anak  dari satu keluarga di kampungnya. Kebetulan tukang urut saya  memiliki  hubungan famili dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga ini sudah bersedia  mengerjakan rencana penanaman kopi itu  selama satu bulan penuh.  Sebagai keluarga yang pekerjaannya memburuh di  ladang orang, merekapun  sudah menolak semua pekerjaan pada bulan itu.  Janjinya, tukang urut  saya akan menggaji mereka bekerja di ladangnya  selama sebulan penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para  pekerja itu tidak lagi menerima pekerjaan lain, kalau pekerjaan  mereka  belum selesai hingga penanaman kopi selesai. Kedua pihak sepakat  dan  pekerjaan dimulai. Tapi tentunya tidak pakai kontrak seperti di   perusahaan-perusahaan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas pembersihan lahan  berjalan dengan baik dan si pekerja yang  digajinya itu bekerja sepenuh  hati. Hanya dalam beberapa hari  pembersihan lahan selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan  justru terjadi pada tukang urut saya. Berbeda para pekerja  yang  digajinya, dia mengaku di tengah jalan dia berubah pikiran. "Saya  ragu,  kalau uang saya nanti tidak cukup untuk menutup biaya sampai kopi   berbuah. Secara sepihak, saya menghentikan pekerjaan itu. "ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa  ragunya juga membuatnya pusing, bahkan tidak berani segera   memberitahukan perubahan pikirannya itu kepada pekerja yang digajinya.   "Saya malah tidak mendatangi mereka, dan hanya berfikir-fikir saja"   ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari para pekerjanya menunggu dan  menunggu. Selama itu mereka  tidak bekerja dan tidak mendapat  penghasilan. Hingga beberapa hari  kemudian, tukang urut saya mendatangi  mereka dan memberitahukan  perubahan rencananya. Apa yang kemudian  diperolehnya bukan sesuatu yang  menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakseriusannya,  membuat para pekerjanya merasa rugi dan marah. "Para  pekerja saya  marah besar dan sayapun merasa tidak nyaman. Uang habis,  dapat cacian  pula," ujar tukang urut saya sedih, sambil menyeka  keringatnya dengan  kain lap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau sesuatu kita kerjakan tidak sepenuh hati,  hasilnya seperti ini.  Uang habis dan orang-orang sakit hati," ujarnya.  Dia mengaku uang  simpanannya beberapa tahun hilang begitu saja, tanpa  menghasilkan  apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pelajaran berharga dari  kisahnya. "Dia mengerjakan sesuatu dengan  setengah hati dan ragu-ragu,  tidak hanya membuat dirinya susah dan  kecewa, tetapi juga membuat orang  lain sakit hati, khususnya  pekerja-pekerja yang bekerja dengan dia"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayapun  tidak ingin hanya kisah sepihak, kisah sedih dari sebuah  pekerjaan  yang dia kerjakan setengah hati. Lantas, pembicaraan informal  itu saya  alihkan tentang kisah dua orang anak muda yang berhasil menjadi   pengusaha besar karena bekerja dengan sepenuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski  dia tidak begitu paham, tapi saya yakin kisah saya juga bisa   menguatkannya. Pasalnya kisah itu berasal dari sebuah buku yang mungkin   belum pernah dibaca maupun didengarnya. Tokohnya adalah Sergei Brin dan   Larry Page, pendiri perusahaan mesin pencari (searching machine)  Google.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa itu Google," tanyanya serius. Saya tidak  begitu peduli  pertanyaannya itu. Karena kalaupun saya jelaskan dia  pasti tidak  mengerti. Saya bercerita panjang lebar, bagaimana Sergei  Brin dan Larry  Page hingga berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ingin saya  nasehatkan kepadanya adalah bahwa kedua tokoh di  atas bekerja dengan  sepenuh hati, mengatasi masalah yang muncul di  tengah perjalanan  rencana mereka. Mulai dari permodalan, cara mengatasi  masalah listrik,  tenaga yang mereka butuhkan, serta dorongan semangat  atas diri mereka  serta orang-orang yang bekerja bersama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diapun menghentikan sejenak pekerjaannya ketika saya bercerita soal penghasilan kedua orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejak  keduanya mendirikan Google pada 1998, perusahaan ini memperoleh   penghasilan lebih dari USD 26 milyar per tahun. Tidak hanya itu, mereka   mempekerjakan dan membuat bahagia ratusan ribu orang serta mencerahkan   miliaran orang pengguna internet di seluruh dunia,"ujar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia  terpukau mendengar kisah ini dan mencoba menyimpulkan kisah yang  saya  ceritakan. Kesimpulannya kira-kira begini. "Orang yang bekerja  sepenuh  hati, akan menuai perasaan senang bagi dirinya sendiri, serta  orang  lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil melanjutkan pekerjaannya mengurut di bagian  kepala saya dia  berujar: "Akh, kalau saya sudah cukup uang, saya akan  mengerjakan kebun  kopi dengan sepenuh hati. Saya pasti akan  menyenangkan pekerja itu  kembali".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, dia pulang  dan hatinya dikenyangkan oleh prinsip. "Kalau  mengerjakan pekerjaan  dengan setengah hati tidak hanya mengecewakan diri  sendiri, tetapi juga  menyakiti orang lain. Sebaliknya, bekerja sepenuh  hati, hasilnya akan  menyenangkan diri sendiri dan orang lain".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan  kisah kecil di atas mengingatkan para eksekutif,  legislatif, yudikatif  di setiap tingkatan di negara ini. Seriuslah  menangani Kasus Century,  Nazaruddin, Gayus dan berbagai masalah yang  dihadapi bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarlah  bahwa ketidakseriusan anda, sikap ragu-ragu anda bekerja akan   menyebabkan anda tidak nyaman, terlebih lagi masyarakat akan menderita.   Bila anda bekerja serius dan sepenuh hati, maka rakyat akan senang,  anda  akan merasa nyaman. Kita semua akan berbahagia. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Biografi, Tinggal di Medan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-8049436863547991903?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/8049436863547991903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=8049436863547991903&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/8049436863547991903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/8049436863547991903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/10/sepenuh-hati-menyenangkan-setengah-hati.html' title='Sepenuh Hati Menyenangkan, Setengah Hati Menyakitkan.(Harian Analisa Edisi Cetak, 4 Oktober 2011)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-118400106844831014</id><published>2011-09-29T13:14:00.002+07:00</published><updated>2011-09-29T13:14:52.266+07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Para Penulis Sukses Indonesia (Jurnal Medan Edisi Cetak, 29 September 2011)</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;h2 class="uiHeaderTitle"&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Oleh Jannerson Girsang&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  bukan penulis sejak muda, dan baru memulai pekerjaan ini secara serius  setelah berusia 40 tahun. Mulai dari menulis biografi, konsultan  penulisan di berbagai media, dan menulis artikel di media cetak dan  online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk informasi anda, saya telah menulis sekitar 14 buku  otobografi dan biografi dalam kurun waktu delapan tahun. Artikel ini, adalah tulisan saya yang kesekian kalinya diterbitkan di berbagai media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis  membutuhkan selain kemapuan dan pengetahuan yang terus ditingkatkan,  juga perlu inspirasi untuk tetap bersemangat menulis. Salah satu cara  saya meningkatkan kemampuan dan menjaga semangat untuk terus  menginspirasi menulis adalah belajar dari pengalaman mereka yang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis  sebagai profesi bukan seperti meteor turun dari langit. Tiba-tiba saja  melejit, bercahaya. Pekerjaan ini membutuhkan dukungan yang berasal dari  diri sendiri, dari luar dan peralatan.&amp;nbsp; Mari belajar dari mereka yang  sukses, ketimbang mengeluh soal penghargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari sharing bersama tentang pengalaman saya kemaren!. Kemaren saya berselancar &lt;em&gt;(searching)&lt;/em&gt; di internet dan membaca berbagai buku di Buku Google.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengeluh?: Malu Dong!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca  buku ”Seratus Penulis Kaya Seratus Persen Asli Indonesia” memberi  inspirasi bagi saya bahwa menulis secara total akan memberikan hasil dan  penulis sukses itu bekerja dan berjuang hingga mereka mencapai status  mereka sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku tersebut ditulis oleh Albert Marbun  dan diterbitkan Ide Media, 2008. Informasi ringkas buku itu bisa anda  peroleh di Buku Google, karena sudah didigitalkan 25 Juni 2010 lalu.  Albert juga seorang penulis novel: ”Jatuh Cinta di NAD”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  dalam buku itu ada daftar nama Alberthiene Endah, mantan wartawan,  kemudian penulis novel dan terakhir sangat terkenal menulis biografi,  Jennie S Bev penulis Indonesia yang kini berjaya di Amerika Serikat,  Elizabet Lutter serta ratusan penulis lain yang sudah sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau  mau sukses sebagai penulis, seseorang harus total menulis. Tidak ada  penulis sukses berhasil tanpa usaha maksimal. Anda tidak hanya menulis  sekali saja, langsung meraup milaran rupiah, seperti penulis Andrea  Hirata. Menjadi seorang penulis sukses harus menghasilkan tulisan yang  laku di pasar. Ada pembacanya atau pengguna tulisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  itu diperlukan pengetahuan yang luas, dan mampu menulis dari topik yang  khusus yang diperlukan orang-orang tertentu, kalau bisa juga dibutuhkan  sebagian besar penduduk negeri (dunia) ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku  “Seratus Penulis Kaya Seratus Persen Asli Indonesia”, ada rasa geli  kalau mendengar keluhan-keluhan para penulis, seperti kurang  penghargaan, kurang dukungan, kurang macem-macem. Tidak ada gunanya.  Sebab nasib penulis bukan di tangan siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus  diingat, penulis bergantung kepada lingkungan. Bukan sebaliknya  lingkungan tergantung pada penulis. Peduli amat lingkungan kepada  penulis!. Anda yang harus membuat para pembaca merasa penting untuk  membaca tulisan anda. Anda harus mampu membuat tulisan anda: ”Enak  Dibaca dan Perlu”, seperti semboyan Tempo, majalah berita terkemuka di  Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu malu kalau kita para penulis mengeluh,  sementara dalam keadaan seperti sekarang ini begitu banyak penulis  sukses dan kaya di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Persiapan Diri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  kemudian mempelajari lebih lanjut pengalaman Elizabeth Lutter. Dia  adalah penulis skenario dan menuliskan pengalamannya dalam buku:”Kunci  Sukses Menulis Skenario, Elizabeth Lutter (orang Indonesia Asli).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku  ini memberi tips bagi saya bahwa seorang penulis (dalam hal ini penulis  skenario), bagi saya itu sama saja dengan penulis bidang yang lain,  harus memiliki persyaratan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;  harus ada dorongan dari diri sendiri, seperti minat dari dalam diri  seperti bakat, motivasi, disiplin, kecerdasan, pengetahuan, pengalaman,  komunikasi (dengan berbagai pihak, memperoleh informasi tentang bahan  tulisan, media tempat menulis dll), belajar (seorang penulis adalah  pembaca tentang apa saja yang mampu mendukung kualitas tulisan) &amp;nbsp;dan&amp;nbsp;  memiliki pengalaman perjalanan (untuk memperkaya tulisan tentang  lokasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar tidak hanya dari buku-buku, koran atau  televisi/radio, internet, tetapi juga memaknai catatan pengalaman hidup,  perjalanan yang pernah dilakukan atau merencanakan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Belajar adalah kutuk masa kecil, minyak masa dewasa, dan obat di masa tua”, Walter Savage Landor, seperti dikutip Elizabeth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis  harus terus belajar dari apa saja yang dilihatnya. Mendalami makna dari  fakta yang ada, sehingga penulis mampu ”Menulis Fakta dan Memberi  Makna”. Jika tidak maka tulisan akan kering, tak bermakna. Pembaca bosan  dan tulisan tidak laku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain adalah disilplin.  Elizabeth menulis setiap hari dengan jam-jam yang sudah ditetapkannya  dan konsep yang sudah ditulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya sendiri terus terang belum bisa mengatur waktu dengan pasti. Sehingga saya membiarkan &lt;em&gt;lapotop&lt;/em&gt;  saya terbuka mulai pukul 11.00 (setelah pekerjaan rumah tangga beres,  hingga pukul 01 non stop, setiap hari. Apa yang saya kerjakan hari ini  sudah saya konsep terlebih dahulu. Meski &lt;em&gt;laptop&lt;/em&gt; saya terbuka dari pukul 11.00 dampai 01, bukan berarti sepanjang 14 jam itu saya bekerja terus menerus di depan &lt;em&gt;laptop&lt;/em&gt;.  Di sela-sela jam itu, kadang-kadang saya masih bisa membaca atau  becanda ria dengan keluarga, jika tiba-tiba saya mendapat ide, saya  langsung ke laptop untuk mengetiknya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai  perbandingan, Elizabeth mengutip pengalaman Norah Lofts penulis roman  sejarah yang melakukan pekerjaannya mulai dari jam 09.00-13.00, dan  mulai lagi 16.30-19.30, setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua, &lt;/em&gt;harus  mendapat dukungan dari luar diri seperti keluarga, lingkungan, mengatur  kedatangan tamu/kerabat, memiliki rekan kerja (Asisten dan Sekretaris,  bagi penulis yang volume pekerjaannya sudah besar), penonton (penulis  scenario), pembaca (penulis buku, media cetak), pemirsa (radio,  televisi) dan sesama penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan besar saya menulis  adalah dukungan keluarga dan lingkungan. Pengalaman kami di Medan,  keluarga atau lingkungan masih memandang pekerjaan menulis bukan sesuatu  yang menjanjikan. ”Penulis?”. Apa itu?. Orang belum percaya kalau  penulis itu bisa hidup dari menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tamu-tamu  yang datang tanpa memberi tahu kedatangannya sering menjadi pengganggu.  Karena mereka tidak mengerti pekerjaan saya,&amp;nbsp; maka dikira saya  main-main. Ini bukan salah mereka. Memang sayalah yang harus  menjelaskannya. Beberapa saya beritahu agar kalau mereka datang  memberitahu terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menghadapi  masalah saya senantiasa ingatkan kata-kata Nurheti Yuliarti dalam  bukunya ”Menjadi Penulis Professional”: ”Ungkapan hati seorang penulis  yang penuh ketulusan dan keikhlasan lebih berharga dari sekadar  kemewahan duniawi”.(Nurheti Yuliarti, Menjadi Penulis Professional).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski  pendapatan menulis saat ini masih kecil, tetapi sesuatu yang lebih  berharga saya peroleh. Pekerjaan apapun yang saya lakukan, tidak mungkin  membuat saya lebih dikenal dan dihargai seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga,&lt;/em&gt;  harus memiliki dukungan fasilitas, seperti peralatan kerja, tempat  kerja, perpustakaan. Ruangan tempat anda menulis harus nyaman dan  memiliki peralatan kerja, komputer yang tersambung dengan internet.  Menurut saya peralatan ini mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat tidak layaklah  kalau masa sekarang ini penulis masih menggunakan mesin ketik lama.  Sangat menyusahkan tidak hanya dirinya, karena kita tidak bisa bekerja  cepat dengan mereka. Penulis harus mampu menghasilkan tulisan dalam  format &lt;em&gt;mikrosoft word&lt;/em&gt; yang bisa dikomunikasikan menggunakan &lt;em&gt;e-mail&lt;/em&gt;. Para redaktur mediapun akan bekerja dua kali menghadapi penulis yang menggunakan mesin ketik tradisional seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis  harus memiliki perpustakaan pribadi, sekecil apapun ukurannya.  Setidaknya beberapa referensi-referensi penting tersedia di dekat meja  anda saat menulis. Sekali-sekali harus berkunjung ke perpustakaan,  demikian juga mengunjungi beberapa perpustakaan digital di internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda belum sukses, berarti anda harus belajar cara-cara mereka yang sudah sukses dan mengembangkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P&lt;strong&gt;enutup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis  sebagai sebuah profesi adalah merebut pasar. Itu tidak mudah. Hal ini  perlu supaya anda tidak kecewa dan mengutuk pekerjaan menulis.Harus  diingat: &lt;em&gt;No gain without pain&lt;/em&gt;. Tidak ada hasil tanpa  pengorbanan. Melakukan pekerjaan apapun tidak bisa sambilan, tidak bisa  setengah-setengah. Sukses menulis,&amp;nbsp; sama dengan sukses di pekerjaan  lain, harus total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat dan menginspirasi anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini juga bisa diakses di :&lt;br /&gt;http://medan.jurnas.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=65978:belajar-dari-para-penulis-sukses-indonesia&amp;amp;catid=57:opini&amp;amp;Itemid=65.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-118400106844831014?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/118400106844831014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=118400106844831014&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/118400106844831014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/118400106844831014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/09/belajar-dari-para-penulis-sukses.html' title='Belajar dari Para Penulis Sukses Indonesia (Jurnal Medan Edisi Cetak, 29 September 2011)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-5838977692633392824</id><published>2011-09-25T16:13:00.000+07:00</published><updated>2011-09-25T16:13:05.754+07:00</updated><title type='text'>Suka Duka Isteri Pendeta, Floriana Tobing: ”Berdoa dan Menebar Kasih” (Harian Sinar Indonesia Baru, Minggu 25 September 2011)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Siswa Sekolah Diakonia Pertama ke Jerman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah  saya menjadi istri pendeta, maka pekerjaan sebagai bidan saya lepas.  Saya harus penuh mendampingi suami sebagai pendeta,”ujar Floriana  Tobing, siswa Sekolah Diakonia Jerman yang dikirim Huria Kristen Batak  Protestan pada 1952.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menikah, istri mantan Ephorus  Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), Pendeta Dr Armencius Munthe  ini, dikenal sebagai perawat di RS Bethesda GKPS Saribudolok, dan di  luar tugasnya sebagai istri Ephorus dan ibu rumah tangga, juga aktif  dalam berbagai organisasi sosial, hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16  September 2011 Floriana genap berusia 80 tahun. Hari itu, sekitar  duapuluhan lansia (usia lanjut) berkumpul di Wisma GKPS Tuluy, Medan. Di  sana hadir Pendeta Belman Purba Dasuha (mantan Ephorus GKPS periode  2005-2010), Pdt Jawalden Sinaga, Pendeta Resort GKPS Medan Selatan,  anggota keluarga dan beberapa orang undangan. Usai acara kebaktian,  dilanjutkan dengan pemotongan kue dan acara ulang tahun. Sederhana  sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia 80, wanita berkulit putih dan tinggi badan  kurang dari 160 cm ini, masih mampu membagikan kue ulang tahun dan  dengan ramah menyapa teman-temannya sesama anggota kelompok lansia GKPS  Maranatha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun setelah ditinggal suaminya Pdt Dr  Armencius Munthe MTh, 25 Juli 2009, ibu dari Elisa Munthe, Paul Munthe,  Markus Munthe, Ruth Munthe ini mengarungi bahtera keluarga dengan  merangkap sebagai bapak dan ibu bagi anak-anaknya. Putri mantan pejabat  penting di Kantor Gubernur Sumatera Utara ini, dalam kesendirian setelah  ditinggal suami, di luar kegiatan sosialnya, rajin menghadiri  pesta-pesta perkawinan, kebaktian-kebaktian dan pertemuan-pertemuan  lansia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hidup adalah anugerah Tuhan yang harus disyukuri.  Sepeninggal bapak, saya beberapa kali jatuh sakit dan dirawat beberapa  kali. Hari ini, saya bahagia karena Tuhan senantiasa menolong orang yang  berserah kepadaNya,”ujarnya memaknai Ultahnya ke-80 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sekolah Perawat ke Jerman, 1952&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi  seorang gadis Batak di era 50-an, ditawari sekolah ke Jerman adalah  sebuah kesempatan yang langka. Saat itu kebanyakan perempuan Batak,  bahkan perempuan Indonesia pada umumnya, menghabiskan sebagian besar  waktu mereka bekerja di ladang atau sawah, masih sedikit keluar dari  desanya dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat seperti itulah Floriana HKBP  mengirimnya Sekolah Diakonia ke Jerman pada 1952. Mereka memperoleh bea  siswa Sekolah Diakones dari RMG (Rheinische Mission Gessellschaft) yang  berkedudukan di Wuppertal, Jerman. Dirinya berangkat bersama dua  temannya Nuria Domdom Gultom dan Bonaria Hutabarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyelesaikan Sekolah Diakones di Kaiserwerth (1956) dan Tubingen (1958).&lt;br /&gt;Di dua lokasi pendidikan itu, Floriana menguasai ilmu kebidanan dan berbagai bahasa asing seperti Jerman, Inggeris dan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya  ke Indonesia, selama dua tahun, cucu pendeta HKBP Amon Lumbantobing ini  mengawali kariernya sebagai bidan di Rumah Sakit HKBP Balige—milik  gereja terbesar di Asia Tenggara itu. Dari sana HKBP memindahkannya ke  Rumah Sakit Bethesda di Saribudolok—sebuah rumah sakit milik GKPS  (Gereja Kristen Protestan Simalungun). GKPS adalah sebuah gereja yang  saat ini memiliki 200 ribu lebih jemaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menikah dengan Pdt Armencius Munthe&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita  berkulit putih dan bertubuh pendek ini menikah dengan Armencius  Munthe—lulusan Master Theologia, Universitas Hamburg, Jerman, pada 1966.  Pernikahannya mengakhiri kariernya sebagai bidan di rumah sakit yang  terletak 1400 meter di atas permukaan laut, yang berjarak 112 kilometer  dari Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi isteri pendeta baginya adalah sebuah  pelayanan total mendukung tugas-tugas suami dan melepas pekerjaannya  sebagai bidan. ”Itu sudah menjadi prinsip hidup saya,” ujarnya dalam  buku otobiografinya ”Berdoa dan Menebar Kasih”, yang diluncurkan di  Medan, 16 September 2009 lalu, tepat pada hari Ulang Tahunnya ke 78.&lt;br /&gt;Waktunya  dicurahkan mendampingi suaminya sebagai pendeta yang pernah bertugas di  pulau Nias, Sondiraya dan menjadi Pimpinan Pusat GKPS yakni menjadi  Sekjen dan Ephorus selama 25 tahun (1970-1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  sela-sela tugas mendampingi suami. Floriana terlibat dalam beberapa  kegiatan sosial. Perempuan yang mampu berbahasa Inggeris, Jerman dan  Belanda ini pernah menjadi penerjemah dalam program KNH (Kinder Not  Hilfe) GKPS dan bagi para tamu-tamu GKPS saat melakukan peninjauan atau  perjalanan ke jemaat atau program-program gereja lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  itu, selama 22 tahun, sejak 1986, Floriana menjadi Sekretaris Yayasan  Harapan Jaya, sebuah Yayasan Katolik yang didirikan di Pematangsiantar  pada 1982. Yayasan ini bergerak membantu anak-anak cacad. Bersama  pengurus yayasan lainnya, pengabdiannya di yayasan itu mendapat  penghargaan dari Gubernur Sumatera Utara, Drs Rudolf Pardede, bertepatan  dengan Peringatan Ulang Tahun ke 25 yayasan itu pada 2007. Selain itu,  ia juga aktif di berbagai organisasi wanita gereja seperti Persatuan  Wanita Kristen Indonesia (PWKI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1995-selepas  suaminya mengakhiri jabatan sebagai Sekjen GKPS, Floriana dan  keluarganya pindah ke Medan. Sejak itu ia mendampingi suaminya yang  bekerja sebagai dosen, aktif sebagai pengkhotbah di berbagai gereja di  Sumatera Utara (GKPS, HKBP, GKPI, Gereja Methodist, GBKP, BNKP dan  lain-lain), representasi Crossway International-sebuah lembaga berpusat  di Minneapolis, Amerika Serikat, Perguruan Immanuel Medan, dan berbagai  yayasan sosial lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhum suaminya Pendeta Dr  Armencius Munthe yang meninggal 25 Juli 2009 lalu, menggambarkan  Floriana sebagai seorang perempuan yang senantiasa "Berdoa dan Menebar  Kasih".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Anak Pejabat &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Floriana  Tobing&amp;nbsp; lahir di Flores pada 16 September 1931. Flores adalah sebuah  pulau yang terletak beberapa ratus kilometer sebelah Timur pulau Balim,  ketika bekerja sebagai seorang klerk di kantor pemerintah Hindia Belanda  di pulau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya hijrah ke Jakarta pada era 1920-an  dan sebelum bertugas di Bengkulu, pernah menjadi klerk di kantor  Pemerintah Belanda di Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri pasangan Alfred  Lumbantobing dan Hilderia Panggabean ini, menjalani masa kecil sampai  remajanya di Flores, Lombok, Bengkulu dan Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang anak pegawai Belanda, Floriana memperoleh pendidikan dasar di &lt;em&gt;Europese Lagere School (ELS)&lt;/em&gt;  di Bengkulu dan Lampung. ELS adalah sebuah sekolah dasar berbahasa  Belanda. Dia dibesarkan dalam keluarga dengan pengantar Bahasa Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa  penjajahan Jepang adalah masa-masa penderitaan keluarganya. Ayahnya  ditahan Jepang di sebuah penjara di Jambi. Kehidupan keluarganya  bertambah sulit, karena puluhan keluarga mereka yang tinggal di Jakarta  mengungsi ke Lampung karena situasi keamanan. Selain itu, buruknya  pelayanan kesehatan di masa penjajahan Jepang, menyebabkan adiknya Jhony  Lumban Tobing yang ketika itu berusia 10 tahun meninggal akibat  tetanus.&lt;br /&gt;Di masa sulit itu, nenek dari enam cucu itu melakukan  berbagai pekerjaan untuk membantu keluarganya. Mulai dari menyanyi  bersama grup band di berbagai acara untuk mendapatkan hadiah sabun,  mengikuti lomba bahasa Jepang demi sebungkus rokok ”Davros” untuk  ditukar dengan garam, bahkan kasir di Kawasaki Jidosha — sebuah  perusahaan bus angkutan, dengan imbalan sabun atau minyak makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya,  abang kandung Pdt Dr Andar Lumbantobing—mantan Bishop Gereja Kristen  Protestan Indonesia (GKPI), pindah tugas dari Lampung ke kantor gubernur  Sumatera di Medan, beberapa tahun setelah Indonesia merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota inilah, anak tertua dari tiga belas bersaudara ini menyelesaikan IMS (&lt;em&gt;Indonesische Middlebare School&lt;/em&gt;) pada 1950. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat  Ulang Tahun Inang Floriana, semoga pelayananya menjadi teladan  khususnya bagi para istri pendeta, dan warga jemaat lainnya. Tuhan  memberkati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-5838977692633392824?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/5838977692633392824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=5838977692633392824&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/5838977692633392824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/5838977692633392824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/09/suka-duka-isteri-pendeta-floriana.html' title='Suka Duka Isteri Pendeta, Floriana Tobing: ”Berdoa dan Menebar Kasih” (Harian Sinar Indonesia Baru, Minggu 25 September 2011)'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-4680671099949122304</id><published>2011-09-12T23:20:00.001+07:00</published><updated>2011-09-14T18:44:03.428+07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Kesalahan</title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="leftcontent_page" valign="top" width="*"&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="100%"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="hps"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size: 14pt;"&gt;Oleh: Jannerson Girsang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8886436507105873588#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="hps"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="hps"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Albert Einstein berkata: “Seseorang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; &lt;span class="hps"&gt;yang tidak pernah&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;melakukan kesalahan tidak pernah&lt;/span&gt; &lt;span class="hps"&gt;mencoba sesuatu yang baru&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;A person who never made a mistake never tried anything new”. &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="hps"&gt;Sejak duduk di sekolah dasar, kita diajarkan bahwa kesalahan adalah sifat yang melekat pada diri manusia. &lt;/span&gt;&lt;span class="hps"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Tidak seorangpun yang sempurna. Itulah yang membedakan kita dari Tuhan yang maha sempurna. Makanya setiap hari hari besar keagamaan ada acara maaf-maafan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="hps"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Dalam hidup berbangsa dan bernegara, seseorang yang melakukan kesalahan mendapat ganjaran menurut aturan yang sudah disepakati bersama sebagai bangsa: undang-undang yang berlaku. Hukuman sebenarnya bukan tujuan akhir dari sebuah kesalahan, tetapi apa yang mereka lakukan menjadi pelajaran berharga bagi dirinya sendiri dan orang lain. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="hps"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Mengapa?. Karena manusia adalah mahluk yang istimewa. Mereka dianugerahi Tuhan kemampuan memperbaiki kesalahan yang dibuatnya—baik kesalahan dirinya sendiri maupun kesalahan yang pernah dibuat sesama umat manusia lainnya. Itulah yang membedakan mereka dari binatang, mahluk ciptaan Tuhan yang lain. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="hps"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Semua bangsa ini yakin bahwa manusia belajar hidup lebih baik dan lebih mudah, karena belajar&amp;nbsp; dari kesalahan yang pernah dibuatnya, atau kesalahan orang lain. Makanya manusia memiliki pepatah,:”Jangan terperosok ke lobang yang sama”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="hps"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Di tengah-tengah kegemaran sebagian warga bangsa memperlakukan sebuah kesalahan menjadi adegan sinetron yang &lt;i&gt;never ending&lt;/i&gt;, pikiran saya menerawang kepada peristiwa tragis 25 tahun yang lalu. Sebuah kesalahan besar mampu menjadi pelajaran, bukan bahan olok-olokan, apalagi digunakan sebagai alat untuk saling menjatuhkan antara sesama warga bangsa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="hps"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Kesalahan dengan Kerugian Besar&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Dua puluh lima tahun lalu, suatu sore awal 1986, saya bersama beberapa rekan kerja di salah satu ruangan di kantor USESE (Unit Studi Evaluasi Sosial Ekonomi), salah satu unit di Proyek Citanduy II di Ciamis Jawa Barat, terhenyak atas sebuah berita televisi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Melalui siaran TVRI—satu-satunya stasion televisi ketika itu, sebuah berita meluncur: ”Pesawat Ulang-alik Challenger meledak hanya 73 detik setelah tinggal landas, 28 Januari 1986,”. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Di layar pesawat televisi kami menyaksikan bagaimana suasana keriangan di pusat pengendali&amp;nbsp; NASA, Cape Canaveral berubah menjadi kesedihan yang luar biasa. Kepingan-kepingan pesawat meluncur seperti meteor dan jatuh di atas Samudera Atlantik. &amp;nbsp;Wajah panik terlihat di wajah para petugas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Keluarga korban terlihat histeris menyaksikan anggota keluarga kebanggaannya tewas seketika dan tubuhnya hancur berkeping-keping .Tujuh awak pesawat dan seorang guru yang ikut dalam misi penerbangan luar angkasa itu tewas. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mereka adalah Michael J. Smith , Dick Scobee , Ronald McNair; Ellison Onizuka ,Christa McAuliffe , Gregory Jarvis , Judith Resni. Mereka adalah putra putri terbaik Amerika. Christa McAuliffe misalnya adalah pemenang dari 11 ribu calon NASA asa Teacher in Space Project. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kecelakaan ini menimbulkan kerugian dengan total 5.5 Milyar US Dollar, yaitu 2 milyar Dollar untuk penggantian pesawat dan sisanya untuk biaya penelitian, investigasi, dan lain-lain. Angka yang tidak sedikit, dua kali lipat dari bantuan IMF kepada BI tahun 2009 sebesar US $ 2,7 juta. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Merumuskan Kesalahan dan Memaknai Kesalahan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Segera setelah kecelakaan pesawat itu, Pemerintah Amerika Serikat membentuk komisi &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;khusus dengan ketua : William P. Rogers—mantan Menteri Luar Negeri AS; wakil : Neil A. Armstrong—mantan astronout yang pertama kali mendarat di bulan untuk menginvestigasi kecelakaan dan kemudian menghasilkan beberapa fakta sebagai dasar untuk menjelaskan penyebab kecelakaan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Enam bulan kemudian, Juni 1986, komisi ini sudah mampu menemukan penyebab kecelakaan dan mengumumkannya secara terbuka kepada publik. Kesalahan yang mereka temukan bisa dilihat di &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;a href="http://www.aerospaceguide.net/spaceshuttle/challenger_disaster.html"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;http://www.aerospaceguide.net/spaceshuttle/challenger_disaster.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Kesalahan-kesalahan diperbaiki dan proyek peluncuran pesawat ulang-alik berlanjut dengan penyempurnaan-penyempurnaan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dua puluh lima tahun kemudian, seperti diberitakan Associated Press, Sabtu (29/1), ratusan orang, berkumpul di lokasi peluncuran kapal ulang alik milik NASA untuk memperingati 25 tahun kecelakaan Challenger. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mereka adalah mantan manajer NASA, mantan astronaut, keluarga dan teman astronot yang menjadi korban dalam kecelakaan tersebut serta para pelajar yang belum lahir saat kapal ulang alik yang akan mengantarkan seorang guru asal Concord, New Hampshire, meledak di udara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kecelakaan pesawat ulang alik Challenger bukan yang pertama dan terakhir terjadi di NASA. Dalam upacara tersebut, Scobee Rodgers dan Kepala Operasi Luar Angkasa NASA Bill Gerstenmaier meletakkan sebuah karangan bunga berwarna merah, putih, dan biru di dasar Space Mirror Memorial, tugu setinggi 13 meter yang bertuliskan nama 24 astronaut yang tewas saat menjalankan tugas sepanjang sejarah NASA.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hal menarik adalah reaksi para keluarga korban yang cukup simpatik. Mereka tidak terus-terusan mengutuk kesalahan yang terjadi, meski keluarga mereka menjadi korban. Simaklah pernyataan June Scobee Rodgers, janda dari komandan kapal ulang alik Challenger Dick Scobee. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dia meminta mereka yang berkumpul di Cape Canaveral untuk tidak hanya melihat ke belakang namun menatap ke masa depan terutama di bidang pendidikan mengenai luar angkasa dan ilmu pengetahuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Semangat para astronaut diangkat menjadi motivasi bagi rakyat Amerika. "Seluruh dunia telah mengetahui bagaimana para astronaut Challenger meninggal. Kini kita harus mengingatkan mereka mengenai kehidupan mereka dan apa yang mereka pertaruhkan saat memasuki kapal ulang alik tersebut," tegas Scobee Rodgers.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Belajar Dari Kesalahan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kisah jatuhnya pesawat ulang alik Challenger dan pemaknaan atas peristiwa itu menjadi sebuah refleksi bagaimana kita menyikapi sebuah kesalahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Artikel ini menghimbau agar sebagai bangsa, di benak kita muncul kesadaran bahwa kesalahan yang sudah terjadi tidak mungkin dihapus dan akan melekat selama-lamanya sebagai bagian dari perjalanan bangsa ini .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kasus Century, Gayus, Nazaruddin, kecelakaan pesawat, kecelakaan kapal laut, hukuman mati bagi TKI di luar negeri dan pengelolaan TKI itu sendiri, dan ribuan kesalahan yang sudah dilakukan pejabat, pribadi atau bangsa ini secara keseluruhan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kita teralalu banyak membuang energi membicarakan kesalahan dan kadang mempolitisir kesalahan itu sendiri. Sebuah kesalahan seharusnya disikapi dengan memberi makna, karena kesalahan telah menyebabkan kerugian besar. Menatap ke depan dan memperbaiki kesalahan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sampai sejauh ini, kebanyakan kesalahan itu masih disikapi dengan asyik mencari kambing hitam, belum mampu menarik pelajaran berharga. Buktinya, kasus Century justru diikuti kasus Gayus dan Nazaruddin. Kita tetap berputar-putar di lubang yang sama. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kasus TKI dari dulu hingga sekarang tak habis-habisnya menjadi sorotan, tanpa sesuatu usaha yang sistematis untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Kita baru mampu membuat moratorim pengiriman TKI, suatu keputusan yang tentunya kurang bijak dalam jangka panjang, mengingat besarnya minat TKI dalam negeri (Kompas, 23 Juli 2011), menyikapi kasus PNS yang membebani APBN dengan penandatanganan moratorium PNS oleh Tiga Menteri (Kompas 24/8/2011). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Peristiwa Tsunami dan Gempa Aceh-Nias, Yogya, Mentawai yang menelan korban ratusan ribu jiwa dan harta benda triliunan rupiah belum mampu memberi pelajaran bagi bangsa ini. Kita masih mengulangi kesalahan yang sama ketika Tsunami menerjang Mentawai. Berhari-hari setelah peristiwa sebagian masyarakat tidak memperoleh bantuan makanan. Pembentukan tim terpadu penggulangan bencana masih mengalami keterlambatan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Marilah kita semua, media kita, bersama dengan elemen-elemen masyarakat lainnya menggiring bangsa ini menatap masa depan, ketimbang berasyik ria memanfaatkan kesalahan untuk mewujudkan tujuan pribadi, kelompok atau golongan, yang kadang tidak luput mengundang rasa dendam satu sama lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="hps"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jadilah bangsa yang mampu merumuskan kesalahan yang diperbuat warganya dan bangsanya secara keseluruhan, memaknai kesalahan itu sebagai sebuah batu loncatan kearah kehidupan yang lebih baik dengan melakukan perbaikan-perbaikan. Akh…tidak mudah tentunya!. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8886436507105873588#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Penulis Biografi, tinggal di Medan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div id="ftn1"&gt;Dimuat di Edisi Cetak Harian Analisa, 12 September 2011.&amp;nbsp;  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="padding-top: 14px;" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="sidecontent_page" valign="top" width="300"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-4680671099949122304?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/4680671099949122304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=4680671099949122304&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/4680671099949122304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/4680671099949122304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/09/belajar-dari-kesalahan.html' title='Belajar dari Kesalahan'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-2671310687804457503</id><published>2011-09-07T17:58:00.000+07:00</published><updated>2011-09-07T17:58:00.544+07:00</updated><title type='text'>100 Tahun Sesudah Kematiannya, Otobiografi Mark Twain Diluncurkan</title><content type='html'>Oleh: Guy Adams di Los AngelesDiterjemahkan oleh: &amp;nbsp;Jannerson Girsang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengantar dari Penerjemah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Peluncuran  buku otobiografi Mark Twain—penulis buku Tom Sawyer, Hucleberry Finn,  berjudul Autobiography of Mark Twain (Perennial Classics), sungguh unik.  Sebelum meninggal, Mark Twain sudah selesai menulis 5000 halaman kisah  hidupnya. Tetapi, dia berpesan agar kisah hidupnya itu tidak diterbitkan  sebelum&amp;nbsp; melewati 100 tahun dia meninggal, terhitung sejak 1910. Pesan  penting itu dipatuhi dan selama kurun waktu tersebut naskah itu disimpan  dalam sebuah lemari besi di &amp;nbsp;University of California, Berkeley. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Renungan  kita, sudahkah kita memiliki sistem penyimpanan naskah seperti ini dan  menghargai karya &amp;nbsp;penulis seperti ini di negeri kita?. Kerja sama antara  universitas, penerbit, pemasaran yang baik, memungkinkan karya Mark  Twain dapat dinikmati penduduk dunia, setelah 100 tahun dia berada di  liang kubur. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu  satu abad, Mark Twain akhirnya mengungkapkan semua. Ternyata, penulis  besar Amerika itu meninggalkan instruksi untuk tidak mempublikasikan  otobiografinya sampai 100 tahun setelah kematiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nopember  2010 lalu, tepat satu abad setelah rumor kematiannya yang sepenuhnya  akurat, salah satu keinginan Mark Twain menjelang kematiannya akhirnya  menjadi kenyataan: sebuah otobiografi, mendalam, vokal dan mengungkap  banyak hal, yang secara khusus ditulisnya pada dekade terakhir hidupnya,  akan diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika meninggal pada 1910, penulis Tom  Sawyer, Huckleberry Finn meninggalkan 5.000 halaman memoir yang belum  diedit, bersama dengan catatan tulisan tangan yang mengatakan bahwa dia  tidak ingin hasil tulisannya menyentuh toko-toko buku setidaknya selama  seabad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas waktu itu tiba Nopember 2010. Pada bulan  November University of California, Berkeley, di mana naskah itu disimpan  dalam sebuah lemari besi, akan merilis volume pertama otobiografi Mark  Twain. Trilogi akhirnya dipilih untuk menerbitkan setengah juta kata  karya Twain, dan memberi cahaya baru pada novelis Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para  ilmuwan terbagi atas pertanyaan mengapa Twain menginnginkan tulisan  tangannya tentang hidupnya dirahasiakan begitu lama. Beberapa percaya  karena Mark Twain ingin berbicara bebas tentang isu-isu seperti agama  dan politik. Sisanya berpendapat bahwa jeda waktu itu mencegahnya dari  kekhawatiran menyinggung teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang  pasti, dengan menunda publikasi itu, penulis, yang menyukai status  selebritinya itu, telah memastikan bahwa ia akan bergunjing tentang abad  ke-21. Bagian dari memoar akan menjelaskan hubungannya yang sedikit  diketahui kecuali hubungan skandalnya&amp;nbsp; dengan Isabel Van Kleek Lyon,  yang menjadi sekretarisnya setelah kematian istrinya Olivia pada tahun  1904. Twain begitu dekat dengan Lyon sehingga ia pernah membelikan  mainan seks listrik (vibrator). &amp;nbsp;Tapi Lyon tiba-tiba dipecat pada tahun  1909, setelah Mark Twain mengaku Lyon "menghipnotis"nya memberikan kuasa  atas tanahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan mereka yang malang itu akan  diceritakan secara penuh dalam adendum setebal 400-halaman, yang ditulis  Twain pada tahun terakhir hidupnya. Ini menyediakan ruang yang luar  biasa tentang bagaimana di bulan terakhir menjelang kematiannya, Mark  Twain dibayangi oleh pergolakan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kebanyakan orang  berpikir Mark Twain adalah semacam Victoria beradab&amp;nbsp; Nah,. dalam  dokumen ini ia menyebut Lyon pelacur dan mengatakan dia mencoba  merayunya. Ini benar-benar bertentangan dengan kesan kebanyakan orang  tentang dia," kata sejarawan Laura Trombley , yang tahun ini menerbitkan  buku tentang Lyon yang dikenal sebagai Perempuan Lain Mark Twain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada  persepsi bahwa Twain menghabiskan tahun-tahun terakhirnya berjemur  dalam pujaan penggemar. Otobiografinya akan menunjukkan bahwa hari-hari  terakhirnya bukan waktu yang bahagia.. Ia yang menghabiskan enam bulan  tahun terakhir hidupnya menulis naskah yang penuh asam garam (vitriol) ,  mengatakan hal-hal bahwa ia tidak pernah menyebut tentang siapapun  dalam penerbitan bukunya sebelumnya. Ini benar-benar 400 halaman pahit"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Twain,  yang terlahir dengan nama Samuel Langhorne Clemens, memulai usaha  penulisan &amp;nbsp;otobiografinya awal 1870, tetapi baru benar-benar dikerjakan  secara serius pada tahun 1906, saat dirinya menunjuk seorang stenograf  untuk menulis kenangannya dengan mendiktenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi  lain yang potensial untuk membiarkan buku tersebut jadi warisan anumerta  yang tidak diterbitkan memprihatinkan legalitas Twain sebagai&amp;nbsp; orang  Amerika yang Agung (&lt;em&gt;Great American)&lt;/em&gt;. Michael Shelden, yang  tahun ini akan menerbitkan White Man (Laki-laki Suci)--kisah tahun  terakhir Twain, mengatakan bahwa beberapa pandangan pribadinya bisa  merusak citranya di mata&amp;nbsp; publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia memiliki keraguan  tentang Tuhan, dan dalam otobiografinya, ia mempertanyakan misi  kekaisaran AS di Kuba, Puerto Rico dan Filipina Dia juga kritisi dari&amp;nbsp;  [Theodore] Roosevelt, dan memiliki pandangan bahwa patriotisme adalah  perlindungan terakhir&amp;nbsp; para&amp;nbsp; bajingan Twain juga tidak menyukai  pengiriman misionaris Kristen ke Afrika Ia mengatakan mereka memiliki  cukup banyak urusan di dalam negeri: dengan hukuman mati tanpa  pengadilan yang terjadi di Selatan, dia berpendapat mereka seharusnya  mencoba untuk mengubah orang-orang kafir di sana ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  bagian lain dari otobiografi, Twain membuat pengamatan yang kejam  tentang teman-temannya seharusnya, kenalan dan salah satu landladies  nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian-bagian&amp;nbsp; buku ini telah memperlihatkan terang  dalam publikasi lain. Ringkasan pendek dipublikasikan majalah AS sebelum  kematian Twain (karena ia membutuhkan uang). Estatenya telah  memungkinkan bagian untuk diadaptasi untuk publikasi dalam tiga buku  sebelumnya yang digambarkan sebagai "otobiografi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun,  Robert Hirst, yang memimpin tim di Berkeley adit teks lengkap,  mengatakan bahwa lebih dari setengah bahan yang mereka tangani belum  pernah muncul dalam penerbitan sebelumnya. Hanya akademisi, penulis  biografi, dan anggota masyarakat yang dipersiapkan&amp;nbsp; untuk perjalanan ke  perpustakaan penelitian Universitas Bancroft yang membacanya secara  penuh. "Ketika orang bertanya kepada saya 'apakah Mark Twain  sungguh-sungguh untuk mengambil 100 tahun untuk bisa terbit', saya  mengatakan 'dia pasti orang yang tahu bagaimana membuat orang ingin  membeli buku'," kata Dr Hirst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publikasi November itu disahkan oleh &lt;em&gt;estatenya&lt;/em&gt;,  karena tidak adanya keturunannya yang masih hidup (putrinya Clara  meninggal pada tahun 1962, dan cucunya Nina bunuh diri pada 1966),  mendanai museum dan perpustakaan yang melestarikan warisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terdapat  begitu banyak biografi Twain, dan banyak dari yang sudah ditulis  menggunakan potongan-potongan otobiografi," kata Dr Hirst. "Tapi penulis  biografi memilih apa yang dikutip. Dengan penerbitan buku Twain secara  penuh, kami berharap bahwa orang akan sampai pada kesimpulan mereka  sendiri secara lengkap seperti apa pria itu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan  bebas dari : Independent News, Minggu, 23 Mei,  2010.http://www.independent.co.uk/arts-entertainment/books/news/after-keeping-us-waiting-for-a-century-mark-twain-will-finally-reveal-all-1980695.html..  Artikel ini tidak ditujukan untuk penerbitan secara komersial,hanya  untuk pengembangan wawasan semata, mendorong orang&amp;nbsp; untuk menghargai  karya-karya agung manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penjelasan Buku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika meluncurkan buku itu 15 Nopember 2010 lalu, www.amazon.com, &amp;nbsp;dalam penjelasannya&amp;nbsp; tentang buku &lt;em&gt;The Autobiography of Mark Twain (Perennial Classics)&lt;/em&gt;, mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku  menyerangnya!", Mark Twain menulis dalam sebuah surat ke teman pada  1904. "Dan aku akan memberikannya - untuk Anda. Anda tidak akan pernah  tahu berapa banyak kenikmatan yang telah hilang sampai Anda mampu  mendikte otobiografi Anda.." Jadi, setelah puluhan kepalsuan dimulai dan  ratusan halaman, Twain memulai&amp;nbsp; "Akhir Rencana (dan Benar)" nya untuk  menceritakan kisah hidupnya. Gagasan inovatifnya - untuk "berbicara  hanya tentang hal yang menarik minat Anda untuk saat ini" - berarti  bahwa pikirannya bekisar tak terbatas (range freely).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instruksi  yang ketat bahwa banyak dari teks-teks tetap tidak diterbitkan selama  100 tahun berarti bahwa ketika waktunya tiba, dia sudah "mati, dan tidak  menyadari lagi, dan masa bodoh," dan dia bebas berbicara "seluruh  pikiran terang"nya.&amp;nbsp; Tahun 2010 menandai peringatan 100 kematian Twain.  Dalam merayakan tonggak penting dan untuk menghormati tradisi penerbitan  karya Mark Twain, UC Press bangga menawarkan pertama kalinya  otobiografi Mark Twain tanpa sensor secara keseluruhan dan persis  seperti dia meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara sastra besar itu  membawa pesan kepada pembaca, pengagum, dan para sarjana dari tiga  volume dan menyajikan suara otentik dan bebas dari tekanan Mark Twain,  penuh dengan humor, ide, dan pendapat, dan berbicara dengan jelas dari  kubur sebagaimana dia inginkan.  http://www.amazon.com/Autobiography-Mark-Twain-Vol-1/dp/0520267192&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-2671310687804457503?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/2671310687804457503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=2671310687804457503&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/2671310687804457503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/2671310687804457503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/09/100-tahun-sesudah-kematiannya.html' title='100 Tahun Sesudah Kematiannya, Otobiografi Mark Twain Diluncurkan'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-3495272010997503054</id><published>2011-09-03T14:15:00.000+07:00</published><updated>2011-09-03T14:15:04.962+07:00</updated><title type='text'>In Memoriam: Charles Breijer (1915-2011) Charles Breijer (1915-2011). Harian Analisa Cetak 3 September 2011</title><content type='html'>&lt;div class="clearfix"&gt;&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;Oleh : Jannerson Girsang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu  sore 21 Agustus 2011, setelah menonton beberapa tokoh Indonesia  yang  menginspirasi di sebuah televisi swasta, saya tertarik dengan  sebuah  berita di www.jejaringnews.com, sebuah situs berita online. Judulnya  cukup menarik. "Saksi Kedaulatan RI Meninggal di Belanda".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi  saya nama itu  begitu asing. Sama seperti saya, mungkin banyak pembaca  artikel ini  setali tiga uang. Meski sudah melewati usia 50-an, secara  jujur saya  mengakui belum pernah mendengar nama itu, sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjadi sadar, dan ingat kata pepatah lama: &lt;em&gt;Good Work No Name.&lt;/em&gt;  Perbuatan baik sering tak disebut, sebelum orangnya meninggal. Sama   halnya dengan Charles Breijer. Barangkali, sejak kepulangannya ke   Belanda 1953, tidak banyak karyanya diperbincangkan. Maklum, kita   terhanyut oleh berita-berita korupsi, dan asyik membicarakan Nazaruddin,   Gayus, Century. Publikasi meninggalnya Breijerpun tidak banyak di  media  kita. Entah kenapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa sebenarnya Charles  Breijer, sehingga sebagai bangsa yang dikatakan  mampu menghargai  karya-karya manusia tidak bisa begitu saja  melupakannya? Mari  bersama-sama mengikuti kisahnya, dan mengambil  pelajaran darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengungkap Kebenaran Lewat Foto &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Photography is truth&lt;/em&gt;",  ungkapan Jean-Luc Godard, pendiri bioskop French  New Wave, dengan film  kontroversialnya, Breathless (1960), dan Hail  Mary (1985) barangkali  cocok menggambarkan aktivitas dan karya-karya  Breijer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biografi  yang diterbitkan RNW mengungkapkan, Breijer memulai karirnya  sebagai  fotografer profesional untuk De Arbeiderspers, pada tahun 1937.  Dia  mengerjakan, antara lain, laporan foto untuk &lt;em&gt;Wij. Ons werk ons  leven&lt;/em&gt;, sebuah jurnal dengan desain modern, yang menyediakan banyak ruang  untuk fotografi dan &lt;em&gt;photomontase.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera setelah invasi Jerman, pers di Belanda mengalami sensor yang  ketat. Fotografer dipaksa menjadi anggota &lt;em&gt;Verbond van Nederlandsche  Journalisten&lt;/em&gt; (Persatuan Wartawan Belanda), yang diawasi oleh &lt;em&gt;Bereau  Fotopers&lt;/em&gt;  (Foto Kantor Pers). Breijer mendaftar sebagai syarat untuk  dapat terus  bekerja sebagai fotografer dan berada di garis depan  kegiatan bawah  tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun-tahun awal pendudukan, ia menggunakan  kartu persnya untuk  membuat foto-foto yang menggambarkan aspek-aspek  kehidupan sehari-hari  yang tidak diterima tentara pendudukan. Dia  adalah salah satu dari  sedikit orang, misalnya, yang membuat foto  penutupan Kantor Pusat Yahudi  di Amsterdam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan tahun 1944 ia bertemu Fritz Kahlenberg dan terlibat  dengan &lt;em&gt;De Ondergedoken Camera&lt;/em&gt;  (Kamera Tersembunyi), kelompok fotografer  di Amsterdam yang mengambil  gambar tahun terakhir pendudukan Jerman.  Dalam biografinya dikisahkan  tidak kurang dari 260 foto itu, sebagian  diambil dari kantong pelana  sepedanya di mana ia menyembunyikan  kameranya. Dibandingkan dengan  foto-foto dari anggota lainnya di &lt;em&gt;De  Ondergedoken Camera&lt;/em&gt;, gambar-gambar ilegal Charles Breijer penting  terutama karena menunjukkan berbagai aspek perlawanan bersenjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  tahun 1947, Breijer berangkat ke Indonesia sebagai seorang juru  kamera  hingga 1953. Terdorong oleh idealismenya, sebagaimana diberitakan  RNW,  ia ikut membantu membangun Indonesia sebagai negeri berdaulat. Ia   bekerja untuk perusahaan milik negara &lt;em&gt;Multifilm-Batavia&lt;/em&gt; dan bekerja  mandiri untuk pemerintahan baru Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas  penyerahan kekuasaan Belanda ke Indonesia pada 1949, Breijer  banyak  membuat foto kehidupan sehari-hari, arsitektur, alam. dan potret.  Pada  1953, Breijer memutuskan untuk kembali ke Belanda. Setelah kembali  ke  Belanda, Breijer berfokus terutama pada syuting dan hampir tidak   menyibukkan diri dengan fotografi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Foto-foto Kenangan Breijer di Indonesia &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri  khas karya Charles Breijer dalam konteks Indonesia menurut RNW  adalah  koleksi fotonya yang memperlihatkan penyerahan kedaulatan di  Indonesia.  Selain menunjukkan situasi tegang seputar tahun-tahun  terakhir  kolonisasi menuju merdeka, karya-karyanya juga menjadi saksi  sejarah  terkait orang-orang miskin Indonesia yang baru saja merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, situs http://www. geheugenvannederland.nl, menyimpan ribuan foto karya Charles Breijer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  antaranya adalah gambar sebuah masjid di Pontianak di Kalimantan,  vila  di pusat liburan, percakapan Abdul Kadin dan Hatta selama  konferensi  Kali Urang, Indonesia (1948). Dalam situs ini anda bisa  melihat objek  foto-foto yang dibuatnya dalam kurun waktu 1947-1953&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita  juga dapat menyaksikan foto-foto menarik dan bersejarah, seperti   "Slogan-slogan Protes Yogyakarta, Pengendara Becak yang membawa dua   Orang Kulit Putih, Kompleks Candi Borobudur 1949, Bekas Rumah Gubernur   Yogyakarta, 1949, Bagian Belakang Rumah Ketua Serikat Buruh Pak Wongso,   1948. Breijer juga mengabadikan beberapa foto olah raga seperti atraksi   sepeda BMX di stadion Solo pada 1948.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah foto yang  sangat menyentuh berjudul "Seorang Ibu di Jakarta,  1947". Di sebuah  jalur ijau, seorang wanita berbadan kurus, dengan  pakaian yang  compang-camping sedang duduk dengan tangan bertumpu  dikakinya. Dia  menghadap kaleng (tempat memasak) yang ditutup dengan  setengah terbuka  di atas tungku yang terdiri dari tiga buah batu. Di  bawahnya, kayu  bakar yang terdiri dari sebatang kayu dan beberapa batang  semak belukar  yang mungkin dipungut di pinggir jalan. Gambaran  kesulitan hidup di  masa transisi kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Foto: Penting dan Harus Disimpan dengan Baik &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melepas  kepergiaan Charles kami teringat kepada ungkapan Aaron Siskind,   seorang fotografer ekspresionis abstrak Amerika yang meninggal pada 1991   di usia 88 tahun. Aaron mengatakan: "Apa yang telah Anda rekam di film   akan disimpan selamanya ... ia mengingat hal-hal kecil, lama setelah   Anda sudah lupa segalanya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Breijer telah mencatat berbagai  objek yang mungkin sudah terlupakan oleh  kita semua. Tetapi  foto-fotonya kembali mengingatkan kita tentang wajah  wajah manusia,  kehidupan mereka, keindahan dan kekayaan bumi dan langit  Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengunjung situs http://www.geheugenvannederland.nl  menuliskan kesannya dalam situs itu sebagai berikut: &lt;em&gt;"His photographs  are a model of reality, and vigorous. He was a real blessed artist and  professional". &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Breijer  telah merekam realitas kehidupan masa-masa transisi dekolonisasi   Indonesia dan penyerahan kedaulatan. Kini karya-karya Charles Breijer   tersimpan di museum foto Belanda &lt;em&gt;Het Nederlands Fotomuseum&lt;/em&gt; di Rotterdam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada  dua renungan penting hasil kegiatan Breijer semasa hidupnya. Pertama   demikian pentingnya pekerjaan fotografer. Foto-fotonya menjadi model   realitas suatu peristiwa di suatu masa. Kedua, tidak kurang penting   adalah penyimpanan foto itu sendiri, sehingga dapat dengan mudah   ditemukan dan dipergunakan untuk mengungkap kebenaran, realitas di masa   lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau museum &lt;em&gt;Het Netherland Fotomuseum &lt;/em&gt;menyimpan foto-foto Breijer  tentang Indonesia, bagaimana dengan perhatian museum kita atas foto-foto  karya bangsa sendiri?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah penulis Biografi, tinggal di Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aartikel ini dimuat di Harian Analisa Cetak 3 September 2011.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-3495272010997503054?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/3495272010997503054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=3495272010997503054&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/3495272010997503054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/3495272010997503054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/09/in-memoriam-charles-breijer-1915-2011.html' title='In Memoriam: Charles Breijer (1915-2011) Charles Breijer (1915-2011). Harian Analisa Cetak 3 September 2011'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-2684176509889649124</id><published>2011-08-25T01:48:00.000+07:00</published><updated>2011-08-25T01:48:35.203+07:00</updated><title type='text'>Menyambut e-Procurement 2012</title><content type='html'>&lt;div style="padding-top: 4px;"&gt;&lt;a class="linknews" href="" style="font-size: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 0pt 0pt 4px;"&gt;&lt;u&gt;Oleh : Jannerson Girsang&lt;/u&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 0pt 0pt 4px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 0pt 0pt 4px;"&gt;Hati kami tergelitik membaca beberapa media yang membahas soal  e-procurement, tender elektronik. Kok e-procurement itu katanya  menghemat, tapi kenapa pelaksanaannya lambat? Rakyat harus menyadari  bahwa e-procurement bukan hanya kemudahan pelaksanaan anggaran bagi  pemerintah, tetapi kesempatan bagi rakyat menikmati anggaran bagi  pembangunan di wilayahnya.&lt;/div&gt;E-procurement sangat  penting dan mendesak untuk diterapkan. "Pelaksanaan e-procurement  mendesak untuk segera dilakukan karena akan mendukung pelaksanaan APBN,"  demikian Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan Mulia P. Nasution saat  meresmikan Pusat Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di Jakarta  2009 lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat hendaknya tidak alpa mengawal penerapan e-procurement.  Penerapan e-procurement ternyata memberi sumbangan signifikan dalam  menghemat anggaran, dan pemerintah sudah menetapkan batas waktu 2012  melaksanakannya di seluruh kabupaten kota di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menjanjikan Bagi Rakyat dan Good Governance&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik menyimak pernyataan Ketua Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan  Jasa Pemerintah (LKPP) Agus Rahardjo di harian Analisa, 22 Juli 2011.  Menurut Agus, saat ini e-procurement sudah diperkenalkan, tetapi baru  diwajibkan penggunaannya pada tahun 2012. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Agus, hingga saat ini, proyek secara nasional yang sudah  ditenderkan melalui e-procurement baru Rp 24 triliun. Kabar gembiranya,  penerapan proses tender melalui e-procurement memberi sumbangan yang  sangat signifikan. Sebab, menurut Agus, proses tender melalui  e-procurement menghemat sekitar 17 persen anggaran belanja. Agus  menyatakan sebelumnya, kebanyakan 17 persen anggaran tersebut habis  dibagi-bagikan kepada pihak-pihak yang terkait tender. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pengalaman di Kalimantan Timur, penerapan e-procurement  menunjukkan angka penghematan yang lebih baik. Menurut Gubernur  Kalimantan Timur, HM Aswin, Implementasi Elektronik Procuremen atau  E-procurement (E-Proc) dapat menghemat anggaran hingga 25 persen,  sekaligus mewujudkan terciptanya pemerintahan yang baik atau good  governance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian di atas benar-benar memberi kesempatan besar bagi rakyat  menikmati anggaran yang selama ini bocor di tengah jalan. Selain itu,  dengan e-procurement memang akan memberi peluang penghematan anggaran,  serta membatasi keleluasaan makelar-makelar proyek seperti Nazaruddin  cs. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunggguh sebuah berita gembira bagi rakyat. Dalam bahasa rakyat,  penghematan ini bisa membantu dana pembangunan berbagai infrastruktur  yang kini banyak menunggu. Jalan-jalan di desa yang rusak, gedung-gedung  sekolah yang hampir ambruk, mengganti jembatan yang masih terbuat dari  pohon kelapa dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk beberapa desa tidak menunggu lama lagi menghirup abunya jalan  di musim panas, atau kubangan kerbau di musim hujan, karena aspalnya dan  batunya sudah lepas-lepas. Penduduk di desa Dolok Marawa, Negeri Dolok  akan menikmati jalan mulus. Rumah orang tua Bupati Nias Barat, di desa  yang kami kunjungi bulan lalu belum mendapat aliran listrik bisa dialiri  listrik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghematan anggaran dengan penerapan e-procurement tentu akan membantu  mewujudkan tekad pemerintah yang diungkapkan SBY baru-baru ini. "Yang  hendak kita tuju bukan sekedar growth (pertumbuhan). Tapi makin baiknya  atau meningkatnya standar kehidupan masyarakat, kesejahteraan  masyarakat, equality of human life. Itu harus kita capai," tegas SBY  saat membuka acara Indonesia International Focus on Indonesian Economy  di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (21/7) (Analisa, 22 Juli 2011. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumut Tertinggal dari Jawa Barat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, meski penerapan e-procurement dinilai sangat mengemat anggaran,  namun pelaksanaannya di daerah ini masih memerlukan pengawalan dari  masyarakat. Jangan sampai sistem yang dianggap menghemat ini, tidak  dilaksanakan secara serius. Masyarakat harus mengawal tekad pemerintah  menerapkan e-procurement pada 2012. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat performansi pelaksanaan e-procurement di daerah ini, masyarakat  Sumatera Utara belum saatnya berpuas hati. Sebagaimana diberitakan  beberapa media baru-baru ini, pelaksanaan e-procurement di daerah ini  dinilai sementara lambat. Sejak dilaunching pada 16 April 2009 yang  lalu, baru 17 Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di daerah ini yang  menggunakan e-procurement. Di tingkat kabupaten dari 33 kabupaten/kota  di Sumut, baru 9 yang telah memiliki SK Layanan Pengadaan Secara  Elektronik (LPSE). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan e-procurement di Sumut meski terus mengalami peningkatan  tetapi jumlah proyeknya masih sedikit. Perkembangannya, 29 paket tahun  2009, 42 paket (2010) dan 97 paket tahun 2011 sehingga total ada168  paket per tanggal 15 Juni 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu iri melihat Provinsi Jawa Barat. Sumut masih kalah jauh  dibanding provinsi itu yang sudah 100 persen persen kabupaten/kotanya  menerapkan e-procurement. Jawa Barat juga merajai jumlah proyek yang  ditender melalui e-procurement, mencapai 3.417 paket, bandingkan Sumut  yang masih ratusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masalah Teknis, Mindset dan Culturalset&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai keluhan penerapan e-procurement di daerah ini masih terdengar,  seperti belum maksimalnya pelayanan pengadaan atau tender secara  elektronik, ketika melakukan download dokumen penawaran, kerap tidak  dapat dilakukan menyusul sibuknya sistem informasi teknologi pengadaan  elektronik itu sendiri (Analisa 14 Juli 2011). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulia P. Nasution, Sekjen Departemen Keuangan pernah mengungkapkan  adanya persoalan mendasar dalam implementasi e-procurement di lingkungan  instansi pemerintah yakni mewujudkan persamaan persepsi dan filosofi  dalam rangka transformasi mindset dan cultural set di bidang pengadaan  barang/jasa di lingkungan instansi pemerintah untuk mewujudkan pengadaan  barang/jasa yang efektif, efisien, dan akuntabel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tugas berat tentunya. Tapi itu adalah janji dan tekad pemerintah  yang sudah diungkapkan ke publik. Masyarakat harus turut aktif mengawal  dan menyambut e-procurement 2012, agar harapan penghematan seperti yang  dijanjikan di atas tidak hanya sekedar isapan jempol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita kawal penerapannya sebagai sebuah upaya pencegahan dan  pemberantasan korupsi secara konsisten mulai dari pusat, provinsi maupun  kabupaten/kota. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penulis adalah Pegiat Sosial dan Kemasyarakatan, tinggal di Medan, juga penulis Biografi.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Artikel ini dimuat di Edisi Cetak Harian Analisa, 9 Agustus 2011. &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-2684176509889649124?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.analisadaily.com/news/read/2011/08/09/7795/menyambut_e-procurement_2012/' title='Menyambut e-Procurement 2012'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/2684176509889649124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=2684176509889649124&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/2684176509889649124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/2684176509889649124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/08/menyambut-e-procurement-2012.html' title='Menyambut e-Procurement 2012'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-160889718681290926</id><published>2011-08-25T01:43:00.003+07:00</published><updated>2011-08-25T01:45:09.435+07:00</updated><title type='text'>Di Era Internet: Say No, to Plagiat!</title><content type='html'>Oleh : Jannerson Girsang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkembangnya mesin pencari (search engine) akan mempersempit  persembunyian para plagiator khususnya mereka yang memasuki surat kabar  atau koran online. Sayangnya aksi ini tidak pernah padam. Perlu  kampanye: Say No more Plagiat di era internet!. Selain melanggar hukum,  pekerjaan itu sungguh-sungguh tidak merepotkan penulis asli dan media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Defenisi  plagiat bisa dilihat di Kamus Bahasa Umum Bahasa Indonesia susunan WJS  Purwadarminta (2006). Plagiat, adalah mengambil atau pengambilan  karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan disiarkan sebagai  karangan (pendapat sendiri). Pelakunya disebut plagiator. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kemajuan teknologi sekarang ini,&amp;nbsp; plagiator tidak perlu  menunggu lama akan ketahuan. Barangkali hanya usai seminggu menikmati  honor, kegiatannya sudah ketahuan!. Bahkan sebenarnya, sebelum naik  cetak, hal tersebut bisa terdeteksi, kalau pengelola medianya jeli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi  plagiat kini dengan mudah terdeteksi di internet, karena peralatan  makin canggih. Misalkan anda mengcopy paste tulisan saya Catatan Ringan  dari Bedah Buku Karya Penulis Sumatera Utara dari Jurnal Medan terbitan  29 Juli 2011, dan mempublikasikannya di media cetak yang memiliki media  online. Anda tidak menyebut sumbernya, seolah itu karya Anda, maka anda  tidak akan luput. Dunia ini menyebut anda plagiator. Para akademisi  menyebutnya, “kegiatan tercela”. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Mencerahkan/Menghibur versus Mengejar Uang/Popularitas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menciptakan  karya tulis, berupa artikel, buku dll, merupakan kegiatan yang  membutuhkan pengorbanan (keahlian, waktu, kesabaran, dan lain-lain).  Menghasilkan sebuah tulisan seberapapun tinggi atau rendah kualitasnya,  pasti melalui sebuah proses yang tidak sesingkat rasanya makan cabe,  yang ces plang. Langsung terasa pedasnya, langsung dihasilkan  tulisannya.. Butuh proses dan waktu!&lt;br /&gt;Seperti diungkapkan Gunawan  Muhammad, seorang penulis kawakan di negeri ini, para penulis mengawali  kegiatan tulis menulis dari sebuah rasa resah atas keadaan di  sekitarnya. Penulis terdorong menjembatani keresahannya itu. Jadi sebuah  tulisan merupakan buah renungan seseorang yang berkeinginan mulia untuk  menjelaskan, menawarkan solusi, atau hanya sekadar memperingatkan atas  sesuatu bagi pembacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penulis terdorong menulis  karena keinginan mencerahkan dan menghibur sehingga berubah ke arah yang  lebih baik. “Menulis tanpa berfikir hasil dalam arti sebuah hasil,  tetapi memikirkan menulis dalam bentuk penemuan (discovery)”, pengalaman  yang diungkapkan Gertrude Stein seorang penulis Amerika yang  mempelopori perkembangan seni modern dan sastra Modernis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  belum bisa membayangkan, kalau seorang penulis di daerah ini, menulis  sambil membayangkan duit dan popularitas. Pengalaman kami, menulis untuk  uang, belumlah rasional untuk kondisi saat ini sebagai pendorong orang  menulis, apalagi di media lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat keadaan itu, tentu  perasaan miris akan menghingapi setiap penulis yang dengan susah payah,  tapi seseorang sampai hati menjiplak karya, hanya dengan cara melakukan  copy paste. Di atas keringat orang lain, mereka memperoleh popularitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Filter Makin Berlapis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para  ahli yang menjunjung tinggi nilai sebuah karya, semakin giat  menciptakant alat yang bisa menangkal kegiatan para plagiator. Bahkan,  saking canggihnya, sesama perusahaan mesin pencari sudah saling  mengawasi. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana Google berhasil  mencatat bukti-bukti bahwa Bing menjiplak data pencarian Google.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya  sangat sederhana sekali. Dengan memasukkan kata-kata kunci yang  berhubungan dengan artikel di atas ke dalam mesin pencari Yahoo, Google,  Bing dll, artikel itu akan muncul. Di era intenet ini, menggunakan  mesin pencari (search engine)&amp;nbsp; Yahoo, Google atau search engine lainnya  bisa mendeteksi seluruh tulisan yang masuk di media online. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini,  para penanggungjawab media lokal seperti Analisa, Medan Bisnis,  Waspada, Berita Sore, Jurnal Medan, Sumut Pos, dan lain-lain bisa  melakukannya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penanggungjawab media yang jeli  dan mau meluangkan sedikit waktu memasukkan isi artikel atau kata-kata  penting ke kolom search di mesin pencari Google atau mesin pencari  lainnya, maka menunggu beberapa setik, dengan cepat mampu menemukan  apakah seseorang hanya mengutip, atau justru menjiplak secara utuh dari  artikel aslinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang editor akan dengan mudah mendeteksi  seorang penulis yang memasukkan tulisannya di media yang terbit di Banda  Aceh, Padang atau Palembang, sejauh artikel tersebut masuk di media  online. . &lt;br /&gt;Saringan deteksi aksi plagiat sudah semakin berlapis.  Kalaupun seorang penulis asli atau penanggungjawab media tidak  mendeteksinya, maka dengan akses yang luar biasa luasnya sekarang ini,  ada saja orang yang menemukannya dan melaporkan dengan kesadaran  sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, meski plagiator lolos dari pantauan pengelola  media, masyarakat melalui surat pembaca masih saja bisa menyeleksinya.  Masyarakat semakin aktif memantau sebuah artikel. Dari hasil pantauan  mereka, tidak jarang surat protes&amp;nbsp; meluncur baik dari pembaca atau  penulis aslinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sudah pula diciptakan alat  mendeteksi tulisan jiplakan di internet. Sebut saja beberapa contoh  seperti: http://www.plagiarismchecker.com,  http://www.articlechecker.com/, http://www.plagiarism.org/,  http://blogoscoped.com. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seseorang berlagak pintar dan  menjiplak artikel dari The New York Time, Yomiouri Shimbun, Hsin Hua  atau media utama dunia lainnya tanpa menyebut sumbernya dari media itu,  maka pasti bisa dilacak dengan cepat, sebelum tulisan itu naik cetak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak  hanya tulisan yang bersumber dari media, tulisan yang bersumber dari  bukupun sama. Kini buku-buku sudah banyak yang online atau dikenal  dengan e-book. Jadi seseorang yang menjiplak sebuah buku, bisa dilacak  dengan judul buku dan isinya. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Plagiator  Menikmati: Penulis Kecele, Media Meminta Maaf.Meskipun secara otomatis  seluruh artikel atau tulisan yang masuk dalam media online tersambung  dan dapat dibaca secara transparan di seluruh dunia, kegiatan plagiat  masih terus berlangsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, sebuah artikel saya  berupa hasil pengamatan pelaksanaan upacara adat dengan judul “Huda-Huda  dan Toping-toping” yang saya publikasi di blog saya sendiri,  http://www.harangan-sitora.blogspot.com, dijiplak habis oleh sebuah  lembaga kesenian terhormat di negeri ini tanpa menyebut sumbernya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  saya menyurati lembaga itu, mereka kemudian meminta maaf dan  mencantumkan sumbernya dari blog saya. Saya tidak menuntut, karena  lembaga itu melalui humasnya meminta maaf, dan saya tidak merasa  dirugikan karena artikel saya tersebar luas. Hanya itulah upah seorang  penulis—karyanya,pesannya bisa dibaca dan dinikmati orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  pengamatan kami di media-media internasional, nasional, regional  kegiatan plagiat masih banyak ditemukan. Tidak sedikit artikel  diterbitkan hanya dengan melakukan&amp;nbsp; copy paste dan memindahkan begitu  saja sebuah artikel yang dipersiapkan susah payah oleh seorang penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa  paling menggemparkan tahun lalu adalah ketika seorang guru besar  menjiplak karya seseorang dan memuatnya di harian The Jakarta Post,  harian berbahasa Inggeris terkemuka di negeri ini. Harian The Jakarta  Pos harus memasang pengumuman di Media itu yang terbit Kamis 4 Februari  2010. Menarik sebuah artikel yang ditulis seorang profesor dari  Universitas Parahyangan, Bandung yang dinilai menjiplak tulisan dari  sebuah jurnal ilmiah Australia. (The Jakarta Post, 4 Februari 2010). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The  Jakarta Post harus meminta maaf, dan si guru besarnya menikmati  popularitas dan honor. Walau hanya untuk sementara waktu, karena  akhirnya dirinya harus merasakan malu yang tak terhingga dan mendapat  hukuman dari universitas tempatnya bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media-media lokal  di daerah ini juga masih menghadapi masalah yang sama. Saya sering  bertemu dengan para editor di daerah ini yang masih mengeluhkan soal  artikel yang dijiplak asli dari media lain. Dari pengamatan saya sejauh  ini, kalau ketahuan, maka plagiator akan mendapat sanksi berupa  peringatan dan akhirnya bisa sampai hukuman black list—tidak lagi  dibenarkan menulis di media bersangkutan. Media sumber tulisan awalnya  juga melakukan hal yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, saya  membaca keberatan seorang penulis asli sebuah artikel di salah satu  media lokal. Bayangkan, media itu sendiri harus meminta maaf, padahal  yang melakukannya adalah seorang pemalas, seorang plagiator. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita  memang tidak perlu berkecil hati, karena hal seperti ini tidak hanya  terjadi di negara kita. Media-media asing juga acapkali masih  memberitakan soal yang satu ini. Tidak hanya negara-negara yang  terbelakang, tetapi juga terjadi di negara maju, bahkan orang-orang yang  tingkat pendidikannya di atas rata-rata.&amp;nbsp; Bukan bermaksud memberikan  pembenaran. Kita harus mengkampanyekan anti plagiat. Say no to Plagiat!.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur pada diri sendiri,  jujur pada kemampuan sendiri, itulah kunci utama menulis di era internet  sekarang ini. Tidak usah meniru-niru penulis yang hebat. Jadilah diri  sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi penulis yang sukses tidaklah mudah. Mereka  menjalani proses jangka panjang, untuk mendapatkan materi dan  popularitas. Lihat Andrea Hirata, para penulis hebat lainnya seperti  Arswendo Atmowiloto dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program-program yang mampu  meningkatkan kesadaran masyarakat akan mahalnya kreativitas dan  apresiasi kepada penulis asli, perlu terus digalakkan. Kompetisi menulis  buku, artikel, serta karya-karya kreatif yang selama ini terlupakan  mungkin solusi yang jitu.! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media, sebagai filter bagi para  plagiator hendaknya memanfaatkan kemajuan teknologi ini untuk menyaring  setiap tulisan yang masuk ke meja redaksi. Say No More Plagiat in  Internet Era!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini dimuat di edisi cetak Harian Jurnal Medan, 4 Agustus 2011 &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-160889718681290926?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://medan.jurnas.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=63086:di-era-internet-say-no-to-plagiat&amp;catid=57:opini&amp;Itemid=65' title='Di Era Internet: Say No, to Plagiat!'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/160889718681290926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=160889718681290926&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/160889718681290926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/160889718681290926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/08/di-era-internet-say-no-to-plagiat.html' title='Di Era Internet: Say No, to Plagiat!'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-1292348899686171364</id><published>2011-08-25T01:41:00.000+07:00</published><updated>2011-08-25T01:41:48.612+07:00</updated><title type='text'>Catatan Ringan dari Bedah Buku Karya Penulis Sumut</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&lt;/td&gt; 				 		 				&lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt; 		&lt;a href="http://medan.jurnas.com/index.php?option=com_mailto&amp;amp;tmpl=component&amp;amp;link=aHR0cDovL21lZGFuLmp1cm5hcy5jb20vaW5kZXgucGhwP29wdGlvbj1jb21fY29udGVudCZ2aWV3PWFydGljbGUmaWQ9NjI4MTY6Y2F0YXRhbi1yaW5nYW4tZGFyaS1iZWRhaC1idWt1LWthcnlhLXBlbnVsaXMtc3VtdXQmY2F0aWQ9NTc6b3BpbmkmSXRlbWlkPTY1" title="E-mail"&gt;&lt;img alt="E-mail" src="http://medan.jurnas.com/images/M_images/emailButton.png" /&gt;&lt;/a&gt;		&lt;/td&gt; 					&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top"&gt;&lt;span class="small"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="createdate" valign="top"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top"&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Jannerson Girsang&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski buku  merupakan pengusung peradaban, produksi buku kita masih cukup rendah.  Usaha-usaha mendorong produksi buku selayaknya mendapat apreasiasi.  Sebuah catatan ringan mengikuti Bedah Buku dan Peluncuran Hasil Karya  Pengarang Sumatera Utara, di Hotel Antares, Medan, 26 Juli 2011, kami  sajikan bagi anda, sebagai sebuah bentuk apreasiasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar  75 orang peserta bedah buku yang dibuka Kepala Baperasda,Pemprovsu  Nurdin Pane, SE, MAP, selama lebih kurang lima jam mendengar paparan,  pembahasan dan diskusi tentang lima buku baru. Kelima buku itu adalah  Ekstrak Sambiloto sebagai Anti Malaria (Dr Umar Zen), Mutiara Kota  Kerang Tanjung Balai Asahan (Watni Marpaung MA), Langkat Mendai Tuah  Berseri (Datuk OK Abdul Hamid), Adat dan Budata Masyarakat Pesisir  Tapanuli Tengah/Sibolga (Syawal Pasaribu), Ramadhan di Hatiku (Muhammad  Syukri Albani, MA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penulis mempresentasikan bukunya, para pembahas menyampaikan  saran dan kritiknya atas buku itu, lantas diskusi yang melibatkan para  peserta. Demikian dilakukan secara bergantian oleh lima penulis  tersebut. &lt;br /&gt;Menarik, karena para penulis seperti Ali Murthado dan  lain-lain yang juga dikenal sebagai penulis yang produktif di daerah  ini, dan pesertanya yang terdiri dari para dosen, mahasiswa, para tkoh  adat, agama dan masyarakat di daerah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki ruang  peradaban Sumatera Utara. Itulah perasaan saya berada di antara sekitar  70-an peserta, saat menghadiri acara Bedah Buku 5 Buku yang  diselenggarakan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Baperasda),  Pemprovsu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bedah buku berlangsung, saya kerap  mendengar kata-kata “Bongak” dari Tanjungbalai, “Bulek Kato” dari  Sibolga dan idiom-idiom daerah yang sungguh-sungguh lucu terdengar dan  disambut gelak tawa dan riang para pengunjung. Pantun-pantun Melayu nan  bermakna serta enak didengar membuat suasana segar. Rasanya beberapa jam  terlepas dari pembahasan hiruk pikuknya berita korupsi di negara ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku  yang ditampilkan cukup menarik. Meski tidak membahas seluruh budaya  yang ada di daerah ini (karena hanya lima buku), tetapi rasanya di sana  kita serasa berkaitan satu dengan yang lain. Ketika Watni Marpaung  mempresentasikan bukunya tentang Tanjungbalai, maka dia tidak terlepas  membahas penduduk Simalungun, Tapanuli, Karo, Mandailing dan berbagai  suku lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai suku di Sumatera Utara sudah kawin-mawin  dengan suku-suku di hampir seluruh wilayah ini. Hal ini mampu  membangkitkan perasaan saya sebagai warga Sumatera Utara. “Kami berasal  dari Tapanuli, tetapi sudah beberapa turunan tinggal di  Tanjungbalai,ujar Watni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedah buku seperti ini memberikan  pemahaman asal usul, budaya, agama, adat serta potensi daerahnya. Bahkan  peserta juga disuguhi dengan potensi obat-obat herbal yang banyak  tumbuh di daerah ini, yakni Sambiloto. Melalui bedah buku seperti ini,  peserta sedikitnya akan mendengar dan memahami secara umum budaya  suku-suku di luar sukunya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pembelajaran  berinteraksi dengan sesama warga Sumatera Utara—memahami perbedaan dan  merasakannya sebagai sebuah kekayaan. Saya berfikir lebih jauh,  andaikata bedah buku dan diskusi seperti ini bisa dikembangkan  melibatkan lebih banyak masyarakat dan meningkatkan frekuensinya,  alangkah indahnya provinsi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut menjadi catatan, bahwa  bedah lima buku berlangsung kurang dari&amp;nbsp; 5 jam. Waktu memang menjadi  pembatas untuk mendiskusikan beberapa hal yang memerlukan pembahasan  secara lebih mendalam. Bayangkan, sebuah buku dipresentasi oleh  penulisnya dalam waktu 15 menit, kemudian dibahas dua puluh menit dan  kemudian dilakukan diskusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari soal di atas, hal  menggembirakan adalah antusias para undangan yang terdiri dari para  penulis, peminat buku, peminat perpustakaan, tokoh agama, sejarawan dari  berbagai perguruan tinggi di Sumatera Utara itu. Ternyata minat peserta  atas pembahasan sejarah dan budayanya cukup tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya,  permintaan tambahan waktu dan dalam setiap sesi tak bisa dihindari.  Bahkan peserta tidak kebagian waktu bertanya. “Waktunya habis dan kita  masih membahas beberapa buku lagi,”demikian pembawa acara senantiasa  mengingatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kritik yang dilontarkan kepada para  penulis. Diantaranya soal desain, isi dan judul, editing yang belum  dilakukan secara benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal yang cukup lucu. Semua buku  didesain sendiri oleh penulisnya. Penulisnya merangkap disainer baik  sampul maupun isinya. Mungkin juga karena mahalnya biaya desain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal,  menurut Ali Murthado, sampul sangat menentukan sebuah buku agar  diminati pembaca. ”Meski isinya bagus, tetapi kalau desain sampulnya  tidak menarik, maka pembaca tidak akan tertarik,”ujarnya saat tampil  sebagai pembahas buku Ramadhan di Hatiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembahas dan  peserta banyak mengritik kaidah-kaidah penulisan buku. Mulai dari judul  yang belum mencerminkan isi buku. ”Buku ini bukan buku sejarah, karena  sejarahnya hanya satu halaman dari sekian halaman buku,”ujar salah  seorang dosen sejarah dari sebuah perguruan tinggi, saat mendiskusikan  buku Mutiara Kerang Tanjung Balai Asahan: Mengungkap Sejarah Asal Usul  Nama, Kesultanan, Adat Istiadat, Tradisi, Makanan Daerah, Kesenian,  Pendidikan dan Sosial Budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma banyak hal-hal yang masih  terlupa oleh penulis. Ada buku yang dikritik karena alpa menuliskan  sumber tulisan, padahal penggalan kisah yang ditulisnya besumber dari  tulisan orang lain. ”Kita bisa bingung nantinya, apakah kisah itu sudah  ditulis orang lain atau baru pertama kali ditulis,”ujar seorang ahli  sejarah dari sebuah perguruan tinggi di Medan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar  kritikan itu para penulispun tidak mau kalah. ”Saya memang belum penulis  profesional, tetapi kalau tidak sekarang dimulai, kapan lagi tulisan  saya bisa dinikmati pembaca,”ujar Datuk OK. Abdul Hamid, penulis buku  Langkat Mendai, Tuah berseri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulis, cetak, terbitkan dulu,  soal kekurangan bisa diperbaiki. Demikian kira-kira pendapat sebagian  besar penulis yang tampil kali ini. ”Kritik itu akan mendorong kami  untuk memperbaiki penerbitan selanjutnya,”ujar kelima penulis menghargai  semua kritikan para peserta dan pembahas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari  semua kekurangannya, penerbitan buku dan bedah buku yang disponsori oleh  Baperasda ini diharapkan memberi dorongan para penulis menerbitkan buku  dengan konten lokal yang ditulis penulis daerah ini. . “Kita memberi  insentif kepada penulis dan biaya cetaknya,”ujar Chandra Silalahi  menjelaskan bentuk dukungan yang dilakukan lembaganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syawal  Pasaribu, penulis buku Adat dan Budaya Masyarakat Pesisir Tapanuli  Tengah/Sibolga, dalam kesempatan itu, mengaku tidak mungkin menerbitkan  bukunya tanpa bantuan Baperasda. Bukunya sudah selesai dua tahun lalu,  tetapi dia kesulitan mencai penerbit dan biaya mencetak bukunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya  belum banyak pihak yang mau mendukung penerbitan buku-buku konten  lokal, apalagi budaya atau sejarah. Dia mengaku pergi kesana kemari  meminta bantuan untuk menerbitkan dan mencetak bukunya. “Padahal,  sebagai penulis, saya tidak memiliki cukup uang untuk biaya penerbitan  dan cetaknya,” ujar Syawal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima buku yang sudah dibedah itu  sudah berada di tangan para peserta. Kisah tentang buku dan diskusi  tersebut akan menyita sedikit waktu di tengah-tengah keluarga dan  masyarakat. Ribuan buku akan dipajang di rak-rak buku perpustakaan yang  terdapat di berbagai kota yang siap disantap para pengunjung  perpustakaan atau sebagian dibagikan kepada masyarakat umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedah  buku semacam ini akan memberikan dorongan kepada Pemda-pemda di seluruh  provinsi ini untuk memperhatikan karya-karya penduduk yang selama ini  terdokumentasi belum dalam bentuk buku. Usaha seperti ini akan  mendongkrak jumlah buku yang siap saji bagi masyarakat yang saat ini  masih sangat rendah. Memang, harus diakui bedah buku ini menambah jumlah  buku yang belum signifikan, mengingat produksi buku secara nasional&amp;nbsp;  yang cukup rendah. Meski jumlah penduduk kita 250 juta, setiap tahun  buku yang diterbitkan baru mencapai 10.000 judul. Sekadar untuk  perbandingan, Vietnam setiap tahun menerbitkan 15. 000 judul buku,  Jepang 60.000 judul, China 140.000 judul buku pertahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga  usaha-usaha seperti ini bisa terus dilanjutkan di tahun mendatang dan  mampu merangsang para penulis daerah ini menulis karya-karya dengan  konten lokal yang akan memperkaya warisan budaya yang terdokumentasi dan  memperkaya khasanah perbukuan di daerah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini dimuat di Edisi Cetak Harian Jurnal Medan, 30 Juli 2010. &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-1292348899686171364?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://medan.jurnas.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=62816:catatan-ringan-dari-bedah-buku-karya-penulis-sumut&amp;catid=57:opini&amp;Itemid=65' title='Catatan Ringan dari Bedah Buku Karya Penulis Sumut'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/1292348899686171364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=1292348899686171364&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/1292348899686171364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/1292348899686171364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/08/catatan-ringan-dari-bedah-buku-karya.html' title='Catatan Ringan dari Bedah Buku Karya Penulis Sumut'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-428751740351560693</id><published>2011-08-25T01:36:00.000+07:00</published><updated>2011-08-25T01:36:44.421+07:00</updated><title type='text'>Pemicu Ide Menulis</title><content type='html'>&lt;div style="padding-top: 4px;"&gt;&lt;a class="linknews" href="" style="font-size: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 0pt 0pt 4px;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh : Jannerson Girsang. &lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 0pt 0pt 4px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 0pt 0pt 4px;"&gt;Suatu ketika Anda pasti pernah kehilangan ide menulis artikel &lt;br /&gt;dan membutuhkan alat-alat pemicu, layaknya jantung yang lemah butuh alat pacu. &lt;/div&gt;Meski sudah menulis  selama bertahun-tahun, tetapi saya masih tetap menghadapi kebuntuan  memperoleh ide menulis, karena pemicu untuk menulis tidak kunjung muncul  ke permukaan. Meski ide muncul, masalahnya tidak sampai memenuhi  unsur-unsur yang layak dijadikan sebagai artikel—unsur kebaruan atau  sedang hangat dibicarakan, mampu mencerdaskan dan menghibur, atau  memberikan solusi memecahkan masalahnya sendiri serta lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus dilakukan?. Banyak trik yang disodorkan para ahli.  Berikut ini beberapa tips yang bisa memunculkan ide awal anda memulai  menulis. Langkah-langkah ini kami sajikan berdasarkan pengalaman menulis  selama delapan tahun terakhir. Semoga bisa memicu ide Anda menulis dan  bila anda punya pengalaman lain tentu bisa saling melengkapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Membaca Buku&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku How To Run Writing Business, karya Herman Holtz memberi  pengetahuan kepada saya tentang pengalaman seorang penulis terkenal.  Bagaimana penulisnya seorang berlatar belakang teknik mampu menjadi  penulis yang luar biasa. Saya terinspirasi idenya tentang peluang bisnis  jasa penulisan cukup besar, namun baru sedikit penulis yang meraih  sukses. Ada kontradiksi, dan pasti menarik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya belum sukses, maka bersama pembaca ingin belajar dari  penulis buku itu. Lantas saya mengembangkan ide di atas. Bagaimana  menulis dan memasarkan tulisan. Saya berhasil menulis artikel: "Berguru  dari Para Penulis Sukses (Harian Analisa, 11 Juni 2010)". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa membaca buku dengan topik lain. Bisa saja anda membaca buku  yang lain dengan topik yang lain. Masalah kesehatan misalnya. Kalau  dalam sebuah buku anda mendapatkan data tentang kandungan pestisida yang  berbahaya dalam kentang. Ide itu bisa dikembangkan menjadi "Awas,  ternyata di dalam kentang ada pestisida yang mengandung banyak bahan  kimia mematikan!". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Membaca Koran dan Majalah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran dan majalah merupakan ladang informasi. Anda bisa menemukan  hal-hal baru yang up to date di sini. Misalnya, di koran ditulis berita  terbaru mengenai Keong Racun. Dua orang mahasiswi yang mengunduh lypsinc  di YouTube. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dua orang itu menjadi sangat terkenal. Lalu muncul ide,  ternyata di dunia internet sekarang ini orang yang tidak dikenal  sebelumnya bisa dalam beberapa hari menjadi terkenal, tidak hanya di  Indonesia, tetapi di seluruh jagad raya ini. Sesuatu yang baru dan  menarik bagi pembaca. Kami akhirnya mengembangkannya menjadi sebuah  artikel: "Keong Racun" dan Maknanya bagi Kita Analisa, 10 Agustus, 2010.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jadilah sebuah artikel.&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengunjungi Website&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era gelombang baru (new wave era) ini, kita menemukan sumber  informasi yang tidak terbatas. Bagi Anda yang ingin mencari berita dan  penemuan-penemuan baru yang diterbitkan di suratkabar online, silakan  mengunjungi website ini: &lt;a href="http://www.onlinenewspapers.com/"&gt;http://www.onlinenewspapers.com/&lt;/a&gt;.  Anda bisa mengunjungi The Wall Street Journal, Time, Asia Wall Street  Journal, Bangkok Post, China Post dan puluhan ribu surat kabar online di  seluruh dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara rutin, saya mengakses website yang menyebut dirinya sebagai The  No 1 Newspaper Directory itu. Melalui website ini, saya bisa menjelajah  ribuan surat kabar di berbagai belahan dunia, Amerika Utara, Amerika  Selatan, Asia Pacifik, Asia Tenggara, Amerika Tengah, Afrika. Puluhan  surat kabar dalam negeri bisa anda temukan melalui website ini. Anda  bisa memperoleh informasi yang bisa menumbuhkan ide menulis di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengunjungi website ini saya terinspirasi menulis artikel tentang surat  kabar online, yang berjudul: Menyambut Hari Pers 9 Februari 2010: Media  Online Dunia (Analisa, 9 Febrari 2010). Topiknya sendiri adalah tentang  website itu. Bagaimana di era internet ini, kita bisa mengunjungi  puluhan ribu surat kabar melalui satu website. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak website lainnya yang bisa menggugah ide anda untuk menulis.  Demikian juga Facebook, Twitter dan jejaring sosial lainnya merupakan  sumber pemicu ide anda untuk menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menonton Televisi dan Mendengarkan Radio&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi dan radio merupakan sumber informasi yang melimpah, seperti  berita, gosip artis, korupsi dan lain sebagainya. Anda bisa merangkumnya  atau bahkan menggali informasi tersebut dari berbagai sumber lain di  internet, lengkap dengan fotonya, lalu dirangkum jadi sebuah artikel  yang wah…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan televisi menyiarkan Gunung Sinabung meletus tengah malam 29  Agustus 2010 membuat kami terhenyak sejenak. Apa ya?. Saat itu kami  sedang berkunjung ke tempat kos anak-anak kami di Depok, 1500 kilometer  dari tempat kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita itu begitu menarik.Pasalnya, Gunung Sinabung tak jauh dari desa  tempat saya dilahirkan. Muncul kekhawatiran. Bagaimana dengan orang tua  saya di kampung?. Rasa khawatir, bisa menimbulkan ide setelah menonton  sesuatu di televisi.Akhirnya, saya menulis artikel : Gunung Sinabung  "Babak Baru" dan" Bukan Peristiwa Biasa" (Harian Sinar Indonesia Baru 4  September 2010). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menonton televisi saya bisa mendapatkan ide menulis tentang  Pemilu dan Asian Idol dengan judul: Asian Idol dan Pemilu "Budaya  Mengakui Kekalahan" (Analisa, 6 April 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengamati Sekeliling Kita&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekeliling kita banyak sekali ide yang bisa dijadikan bahan tulisan.  Misalnya, saat saya berjalan-jalan ke museum Jayakarta di Jakarta. Saya  sangat terkesan dengan minat anak-anak di Jakarta yang lebih menyukai  berkunjung ke Plaza dari pada ke museum. Nah, kesan saya terhadap  anak-anak tersebut bisa menjadi ide untuk menulis. Saya akhirnya menulis  artikel: Bermain, Rekreasi dan Belajar Anak :Tidak Cukup Hanya ke Mall  (Analisa, 20 Juli 2011). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bertemu Orang-orang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika api semangat anda padam, maka pertemuan dengan orang-orang akan  menyalakan kembali api semangat Anda!". Tinggalkan rumah atau kantor  anda, bertemulah dengan orang-orang atau hadirilah pertemuan-pertemuan  penting berhubungan dengan topik yang anda tulis. Ide menulis bisa  dipicu oleh orang-orang yang kita temui, atau pertemuan yang kita  hadiri. Dengar apa yang dibicarakan di tempat anda bertemu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan saya dengan tiga orang penulis, Muhammad TWH dari Medan  memasuki usia 78 tahun, St Japiten Saragih dari Desa Pematangraya,  Simalungun, berusia 74 tahun dan Haji Arifin 69 tahun dari Kota Tanjung  Balai, menghasilkan ide menulis artikel tentang-orang-orang yang tidak  berhenti menulis.Pertemuan itu sendiri saya tulis dengan judul: Catatan  Ringan Pertemuan Penulis Pembaca Sumut: Menulis Sampai Uzur (Analisa,  Sabtu 6 Nopember 2010 Hal 13). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuka Kembali Artikel yang Pernah Ditulis dan Arsip/Kliping&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan membaca kembali artikel Anda bisa mengundang ide baru muncul.  Oleh sebab itu simpanlah artikel yang pernah ditulis di tempat yang  mudah ditemukan. Ketika saya hendak menulis artikel Menyambut Hari  Kartini 2009: "Kartini Baru dan Keterwakilan Perempuan" (Analisa 21  April 2009), saya harus membuka kembali beberapa data dari artikel saya  sebelumnya, Selamat Datang 2008: "Tahun Kebangkitan Politik Perempuan"  (Analisa 11 Januari 2008). Selain itu, arsip dan kliping koran sangat  berguna untuk memicu ide, sekaligus menyediakan data yang diperlukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah di atas menolong anda memicu ide sekaligus sebagai bahan  dasar menemukan perumusan masalah, bahan awal penulisan, membimbing  anda untuk langkah penulisan artikel selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buatlah komitmen untuk menulis satu artikel secara teratur (walau tidak  langsung dimuat, mungkin untuk sementara konsumsi sendiri). Lakukan  kombinasi alat pemicu di atas, niscaya tidak ada jalan buntu bagi Anda  menulis artikel secara reguler. Semoga!***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penulis adalah Penulis Biografi dan artikel di berbagai media.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Artikel ini dimuat di Harian Analisa Cetak, Jumat 29 Juli 2011.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-428751740351560693?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.analisadaily.com/news/read/2011/07/29/6072/pemicu_ide_menulis/' title='Pemicu Ide Menulis'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/428751740351560693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=428751740351560693&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/428751740351560693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/428751740351560693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/08/pemicu-ide-menulis.html' title='Pemicu Ide Menulis'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-8204241818892656764</id><published>2011-08-23T19:55:00.000+07:00</published><updated>2011-08-23T19:55:06.791+07:00</updated><title type='text'>Cara Adikku Mengatasi Single Parent</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;h2 class="uiHeaderTitle"&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clearfix"&gt;&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.facebook.com/jannerson.girsang"&gt;Jannerson Girsang.&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Menjadi &lt;em&gt;single parent&lt;/em&gt; ternyata tidak menyenangkan dan tidak mudah menghadapi masalahnya. Hampir empat tahun adikku Parker menjalani hidupnya dengan &lt;em&gt;single parent&lt;/em&gt;,  selama itu dia mempertimbangkan memiliki istri, tetapi bukannya  memperoleh pengganti istrinya yang sudah meninggal, malah menyusul  istrinya tinggal bersama di Taman Pekuburan Umum Perwira Bekasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar  April 2009, di rumahnya di Kompleks Perumahan Permata, Bekasi, saya  berbicara dengan almarhum adikku Parker Girsang yang ketika itu sudah  ditinggal istrinya sejak&amp;nbsp; Februari 2006. Tiga tahun sudah, dirinya  mengurus tiga putri kami yang masih kecil-kecil, Christin, Hilary  Valeria dan Trisha Melani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan kami begitu serius dan berlangsung lebih dari tiga jam. Topiknya adalah seputar masalah yang dihadapinya sebagai &lt;em&gt;single parent. &lt;/em&gt;Ketika  itu, keluarga berniat membujuk agar dirinya menikah kembali. Mengingat  tiga putri kami saat itu masih membutuhkan perhatian dari seorang ibu,  meskipun pengganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pembicaraan itu, saya sedikit memahami masalah yang dihadapi seorang laki-laki menjadi &lt;em&gt;single parent&lt;/em&gt;. "Semua harus diputuskan sendiri, tidak ada teman curhat dan diskusi. Susah mengusir kesepian" ujarnya ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia  sendiri merangkap sebagai tulang punggung ekonomi—saat itu dia memiliki  perusahaan ekspedisi yang mengirim barang ke berbagai tempat di Jawa.  Dia mengendalikan bisnisnya dari rumah dan hanya waktu-waktu tertentu  saja ke luar rumah. Sehingga dia masih bisa mengurus anak-anak berangkat  ke sekolah atau pulang sekolah. Mengantarnya ke less atau ke tempat  latihan menyanyi. Kebetulan ketiga putri kami itu punya bakat menyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha  ekspedisi itu tak selamanya berjalan lancar. Kadang berbulan-bulan  tidak memperoleh orderan. Ini yang membuatnya sering mengeluh.  Sebaliknya suatu ketika banyak orderan sehingga menguras tenaga untuk  memenuhinya. Kondisi seperti ini juga membuat tubuhnya capek dan lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah  yang paling pelik dihadapinya adalah kalau ada urusan di luar rumah  yang berhubungan dengan bisnisnya. Misalnya, godaan dari para gadis,  apalagi mengetahui dirinya sudah duda. Menurutnya, ada yang bersedia  menjadi istri, ada juga hanya sekedar sebagai teman curhat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  itu, dia juga menghadapi masalah kalau bertamu ke rumah orang  sendirian, apalagi yang di rumah hanya tinggal ibu rumah tangga. “Banyak  gossip bisa berseliweran,”ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara bisnisnya  memerlukannya melakukan lobby ke luar, di lain pihak anak-anaknya  membutuhkannya berada di rumah, di saat anak-anaknya pulang sekolah.  “Saya tidak bisa sebebas kalian yang memiliki istri,”katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya  juga punya keinginan untuk menikah, tetapi pertimbangannya banyak.  Tidak mudah mencari wanita yang saya dan anak-anak mencintainya,”ujarnya  ketika itu. Terus terang, katanya, ada beberapa orang yang mau menjadi  istrinya, bahkan rela membantu keuangan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya,  ternyata tidak semudah itu. Uang atau materi dalam perkawinan bukan hal  utama. Tetapi kasih sayang dan perhatian. “Saya takut menikah, karena  takut anak-anak tidak mendapat kasih sayang seperti yang sekarang saya  berikan,”ujarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu saya mencoba agar dirinya  tidak larut dalam kelemahan dan masalah yang dihadapinya. Tetapi lebih  berani menghadapi tantangan dan mengambil keputusan. Jawaban  terakhirnya: “Ya saya akan menikah, tetapi bukan sekarang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu  ketika dia memberitahukan kepada kami keluarga bahwa dirinya sudah  memiliki seorang pendamping, yang baik dan menurut anak-anaknya sudah  cocok. Mereka sudah sering pergi bersama-sama dan tampaknya hanya soal  waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, rencana manusia berbeda dengan  rencanaNya. Sekitar Maret 2010, adik saya dinyatakan dokter terserang  kanker nasofaring. Kata dokter penyakit itu merupakan tumor ganas berada  di daerah belakang hidung dan esofagus.  (http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2007/12/kanker-nasofaring-kenali-hindari-dan-obati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga  bulan berikutnya, setelah dirawat di Rumah Sakit Cikini, dia tidak bisa  bertahan dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya 17 Juni 2010,  beberapa bulan menjelang usianya genap 48 tahun. Dia lahir 16 Agustus  1962. Sedihnya luar biasa.&amp;nbsp; Gelap sekali rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah cara adikku mengatasi masalahnya sebagai seorang &lt;em&gt;single parent&lt;/em&gt;.  Kesulitannya berakhir dengan sendirinya. Masalahnya, tiga putri kami  yang cantik-cantik Christin (kini kuliah di Universitas Indonesia,  Hilari Valeria (SMA), Trischia Melani (SMP). Adikku menyerahkan Tuhan  mengatasi masalahnya. Anak-anaknya kini memiliki ayah dan ibu mereka  yang baru, dan lebih lengkap. Saya dan istri saya. Adik-adik saya dan  beberapa keluarga turut membantu mereka. Kini mereka tinggal bersama  namborunya Masdalinda Girsang di Bekasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga  mendapat dukungan finansial dari keluarga Juniverts Girsang, Junimart  Girsang SH dan Dr Waldensius Girsang. Keluarga yang penuh perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kisah ini menginspirasi rekan-rekan saya yang kini sedang memilih atau terpaksa menjadi&amp;nbsp; &lt;em&gt;single parent&lt;/em&gt;,  baik sebagai ibu dan ayah, berjuanglah untuk anak-anak. Anda&amp;nbsp; sangat  penting bagi mereka. Mereka tidak hanya membutuhkan materi, tetapi lebih  dari itu. Tidak ada yang bisa menggantikan kasih sayang anda bagi  mereka anak-anak anda!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya teman-teman tidak lupa  mendoakan kami, seluruh keluarga  berjuang bagi mereka. Kami yakin,  Tuhan tidak akan memberikan beban di  luar kemampuan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi  rekan-rekan yang masih memiliki pasangan yang utuh, sayangilah pasangan  anda segenap hati. "Hanya berfungsi sebagai patung sekalipun istri  anda, itu sangat berarti,"ujar adikku ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika  mereka tidak ada, maka anda akan mengalami kesulitan yang luar biasa.  Tidak mudah menggantikan&amp;nbsp; pasangan yang anda miliki sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada  anak-anakku Christin, Hilda Valeria, Trisha Melani, tetap semangat dan  belajar dengan tekun. Christin akan menjadi sekretaris, Hilda  bercita-cita jadi psikolog dan Trisha akan menjadi seorang dokter.  Pertemuan kita 16-17 Agustus lalu di Jakarta membuatku bertambah  semangat melihat kalian semua tegar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita sudah melewati masa-masa tersulit".&amp;nbsp; Mari terus saling menguatkan dan berkomunikasi dengan baik. &lt;em&gt;It will be great when the time comes!. &lt;/em&gt;Salam manis dari bapatua di Medan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-8204241818892656764?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/8204241818892656764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=8204241818892656764&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/8204241818892656764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/8204241818892656764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/08/cara-adikku-mengatasi-single-parent.html' title='Cara Adikku Mengatasi Single Parent'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-5436318937969223162</id><published>2011-08-02T22:18:00.004+07:00</published><updated>2011-08-03T10:07:24.806+07:00</updated><title type='text'>Pelangkah</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="padding: 0pt 0pt 4px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengantar dari Admin.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bagi masyarakat Batak, orang yang menikah mendahului kakak atau abangnya wajib membayar "uang pelangkah". Cerpen ini mengisahkan nasib seorang perempuan yang sudah tiga kali menerima "uang pelangkah". Artinya, sudah tiga kali adiknya menikah melangkahinya, sementara dirinya yang sudah berusia 33 tahun belum mau menikah. Dia tidak peduli dengan kondisi yang tidak membanggakan orang tuanya itu. Dengan sedikit imaginasi penulisnya, cerpen ini begitu menyentuh, ketika dirinya harus berbuat nekat. Kisahnya sangat menarik. Penulisnya Lucya Chriz berhasil meangkhiri cerita klimaksnya dengan imaginasi yang menyentuh. Silakan menikmatinya!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Oleh : Lucya Chriz&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sudah berapa menit waktu yang dibuang Martha hanya untuk mengamati  ponsel di tangannya. Benda pintar itu telah terdiam sejak tadi, namun  ucapan Mamaknya terasa masih berhamburan di sekelilingnya. Mamak  memintanya untuk pulang lebih cepat hari ini. Hari ini saja.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sudah tiga tahun  belakangan Martha memang selalu pulang larut malam. Dokter berpostur  tubuh mungil itu, lebih memilih untuk menunggui tempat praktek daripada  harus menceburkan diri di tengah keluarganya. Tempat prakteknya hanya  melayani pasien hingga pukul 21.00WIB, tapi Martha selalu punya alasan  untuk pulang ke rumah ketika jarum jam telah beranjak dari angka  tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telinga Martha sudah terlalu tebal untuk mendengarkan teriakan Mamaknya  yang menohok, pun saat tetangga-tetangga mulai melihatnya dengan sorot  mata penuh tuduhan. Mereka terang-terangan menyiratkan tanya "Dokter apa  yang buka praktek hingga subuh?" Martha tak pernah perduli dengan  penilaian orang lain. Dia lebih mengerti dengan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan Martha yang selalu pulang larut malam sesungguhnya bukan tanpa  alasan. Tidak ada yang gratis di muka bumi ini dan dia pun  menyadarinya. Mau tidak mau dia harus berkorban. Membayar mahal demi  sekelumit kebahagiaan, sekalipun kebahagiaan yang diperolehnya itu semu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, Mamak memintanya untuk pulang lebih awal. Menghindar selama  tiga tahun, ternyata tak ada gunanya. Sekarang, dia harus berhadapan  dengan kenyataan yang seolah menyongsongnya pulang untuk segera dipasung  dan dikungkung dalam sebuah penjara bernama: adat-istiadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martha melangkah gontai memasuki rumah. Seperti sudah diduganya sejak  tadi, di ruang keluarga telah didapatinya Mamak, Ros adik perempuannya  yang duduk berdempetan bersama suaminya, serta ito-nya, adik  laki-lakinya yang bernama Ranto. Tanpa berucap sepatah kata pun Martha  menghempaskan tubuh ringkihnya di atas sofa tepat di samping Mamak.  Samar, diliriknya keempat wajah yang tengah mengamatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Martha, si Ranto mau kawin," tanpa basa-basi Mamak membuka pembicaraan.  "Rencananya bulan depan," Martha tak menjawab. "Bagaimana denganmu?"  tanya Mamak lagi karena Martha tak kunjung bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa hubungannya denganku? Yang mau kawin itu, kan Ranto," suara Martha acuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa hubungannya denganmu? Martha, si Ranto itu mau kawin bulan depan.  Kau mau dilangkahi untuk kedua kalinya?" suara Mamak meninggi, marah.  Tiga tahun yang lalu kejadian seperti ini telah pernah berlangsung. Ros  menikah lebih dulu, melangkahi Martha kakaknya yang usianya lebih tua  dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enggak ada salahnya. Kalau Ranto memang mau kawin, ya kawin saja. Aku enggak ada masalah kok," Marta bersikukuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, kau enggak ada masalah. Tapi pernah kau pikirkan perasaan Mamakmu  ini? Kau itu boru panggoaran, anak Mamak yang sulung. Apa kata orang  melihat kau enggak kawin-kawin sampai umur 33 tahun, sampai-sampai  dilangkahi dua orang adikmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mamak jangan dengar semua apa kata inang-inang itu. Paling mengerti  tentang diriku itu aku, bukan orang lain," Martha terus membantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau itu boru panggoaran, Martha. Kau jangan egois cuma mikirin  perasaanmu aja. Sesekali kau pikirkan jugalah rasa malu yang Mamak  derita. Kalau bisa jangan sampai si Ranto melangkahimu. Kawinlah kau  secepatnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mamak pikir kawin itu gampang? Ini menyangkut prinsip, Mak. Lagipula aku belum punya pacar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi maksudmu harus berapa tahun lagi Mamak tunggu biar kau kawin?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau mau, besok pun aku bisa kawin sama laki-laki yang pertama kutemui  di jalan raya sana. Apa Mamak bisa kasih garansi kalau suamiku itu  laki-laki yang baik? Banyak yang harus dipertimbangkan, Mak. Bukan cuma  sekedar beranak-pinak saja," Suara Martha ikut meninggi. Dirasakannya  darah mulai bermuara ke ubun-ubunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku enggak mau salah pilih suami kayak Mamak," Mendengar kalimat  terakhir Martha, airmata mulai menetes dari pelupuk Mamak. Sebelum  anak-anaknya sadar, wanita berusia 60 tahun itu berlari ke dalam kamar  tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa-apaan kakak membuat Mamak menangis?" Ros mulai berang. "Kalau  memang kakak enggak mau kawin, terserah. Jangan sakiti Mamak dengan  mengungkit-ungkit perkawinannya." Ros beranjak dan menyelinap ke dalam  kamar tidur Mamak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Martha ito-ku, lama-lama aku jadi curiga jangan-jangan ito enggak suka  laki-laki ya?" kali ini Ranto bersuara. Martha terkesiap. Ditusuknya  bola mata adik bungsunya itu dengan pandangan dingin. Tanpa berucap  apa-apa lagi, Martha menghela langkah menuju kamar tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum jam menunjukkan pukul lima pagi, Martha belum bisa memicingkan  mata sedetikpun. Kejadian malam tadi masih berputar jelas di benaknya,  layaknya video disc yang tak memiliki tombol off.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis manis berkulit putih bersih itu bolak-balik gelisah di atas  kasurnya. Mungkin Ros memang benar, dia terlalu kasar pada Mamak dan tak  sepantasnya mengungkit tentang perkawinan wanita itu. Mamak sudah cukup  sakit dan terluka dengan sikap Bapak yang mudah meninggalkan Mamak dan  ketiga anak-anaknya yang masih kecil-kecil, untuk pindah ke dalam  kehidupan seorang janda kaya raya. Sejak itu Mamak harus banting tulang  untuk bisa menghidupi anak-anaknya dan menyekolahkan mereka bertiga  hingga ke jenjang yang paling tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martha sebenarnya sama sekali tak berniat untuk membuat Mamak menangis.  Sikapnya kemarin, wujud dari kekesalannya. Rasa marah yang telah  membukit sejak tiga tahun, tepatnya ketika Ros memutuskan untuk menikah  dan melangkahinya. Sebuah prosesi pelangkah diselenggarakan sebelum  acara pemberkatan pernikahan. Martha diulosi sebelum kemudian sebuah  cincin seberat 5 gram disematkan Ros di jarinya sebagai tanda  melangkahi, permisi karena dirinya lebih dulu menikah dari sang kakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut adat Batak, pelangkah itu merupakan usaha untuk manyonggoti  tondi, yaitu membuang hangalan. Dimaksudkan dengan mangulosi seseorang  yang dilangkahi, dirinya akan terbuang dari segala hangalan dan  rintangan, sehingga ke depannya akan ringan dalam mendapatkan jodoh.  Berhubung Martha perempuan, pada saat prosesi pelangkah, harus dihadiri  dan disaksikan langsung oleh Tulang-saudara laki-laki Ibunya,  Namboru-saudara perempuan Ayahnya, juga pariban-yaitu anak laki-laki  dari Namboru. Kehadiran pariban ini bertujuan, apabila mereka saling  suka, mereka bisa segera dinikahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Martha, ini merupakan bara menyulut rasa malu. Bagaimana tidak?  Ketika prosesi itu, Martha bisa merasakan dan mendengar kasak-kusuk  tetangga dan kerabat yang berpendapat semaunya saja. Mulai dari orang  memandangnya dengan penuh rasa iba karena mengganggapnya perawan tua tak  laku-laku, hingga tatapan penuh tuduhan yang dilapisi dengan tawa  cemooh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati Martha menghujat habis-habisan adat-istiadat. Kenapa harus  ada prosesi pemberian pelangkah dalam etnik Batak? Tidak ada tujuan di  baliknya selain untuk mempermalukan orang yang dilangkahi. Setelah  mencoba menyembuhkan luka hati selama tiga tahun, bulan depan dirinya  harus siap dipermalukan untuk kedua kalinya. Ini pasti akan jauh lebih  menyakitkan dan memuakkan, karena Martha berusia 33 tahun. Hujatan  orang-orang pasti lebih tak berperikemanusiaan. Ranto, ito-nya sendiri  pun mencap dia sebagai seseorang yang tidak menyukai laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martha mengusap wajahnya yang kusut masai. Siapa yang harus disalahkan  dalam situasi ini? Apakah sikap Bapaknya yang tak terpuji, menumbuhkan  rasa sakit dan memberinya gambaran sosok tidak ideal dari seorang suami?  Ataukah Martha harus menyalahkan Parlin, kekasih yang didampinginya  merajut hari-hari indah selama tujuh tahun, tanpa aba-aba mengangsurkan  ke depan hidung Martha sehelai kartu undangan pernikahannya dengan  mantan kekasihnya yang tiba-tiba muncul? Dua lelaki yang sangat dicintai  sekaligus sangat dibencinya itu, menabur benih kemarahan di dalam  hatinya, membiarkan akar pahit tumbuh, hingga kemudian tersemai  buah-buah traumatik yang ranum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa kecewa berhasil membekukan hati Martha yang lembut. Memaksa wanita  itu harus pura-pura kuat dan bisa berdiri sendiri tanpa membutuhkan  uluran lengan dan bahu kokoh untuk tempatnya menyandarkan lelah. Sosok  baru Martha menjelma menjadi wanita berhati baja, ternyata hanya menjadi  bumerang bagi dirinya sendiri. Dia tak pernah lagi merasakan jatuh  cinta. Pintu hatinya terkunci rapat dan anak kuncinya ditelan dan  dibiarkan berkarat di dalam perutnya. Sudah terkikis segala angannya  untuk memiliki pendamping hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa belum cukup, Martha harus membayar lebih mahal lagi. Demi  menghindari tanya Mamak yang tak kunjung ada habisnya mengenai status  lajangnya, Martha rela menghabiskan hari-harinya di tempat praktek. Acap  kali Martha merasa sedih dan kesepian karena tak lagi mendengar canda  tawa maupun gosip-gosip terhangat tentang tetangga yang mengalir dari  bibir tipis Mamak. Martha menguatkan hati, demi memperoleh sekelumit  ketenangan bathin. Dia tak ingin membiarkan daun telinganya semakin  menebal mendengar tanya orang-orang kapan dirinya akan menikah. Kalau  saja dirinya tidak dilahirkan dalam keluarga Batak yang menjunjung  tinggi nilai-nilai adat, mungkin semua akan jauh lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau mau dikasih pelangkah apa?" suara Mamak lirih, bertanya pada Martha tanpa memandang wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terserah," jawab Martha cepat. "Kalau enggak dikasih, justru lebih bagus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enggak mungkinlah enggak dikasih. Nanti apa kata natua-tua ni huta?"  sela Mamak. Martha menghela nafas. Lagi-lagi harus memikirkan apa kata  natua-tua ni huta, para tetua adat. Apa urusannya masalah ini dengan  mereka? Mereka hanya sekumpulan orang yang bersekongkol untuk  menertawakannya yang berat jodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau kasih cincin sajalah, Ranto. Sama seperti Ros dulu," kata Mamak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, harga emas lagi mahal, Mak. Aku kasih tiga gram saja ya?" Ranto  memandang Mamak, meminta pendapat. Martha pura-pura sibuk dengan  ponselnya. Ekor matanya sempat menangkap Mamak yang melotot pada Ranto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lima gram," Mamak bertitah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengeluaran untuk pesta perkawinan banyak, Mak. Nanti uangnya enggak  cukup. Tiga gram saja ya? Atau gimana kalau bukan cincin? Hmm, mungkin  sesuatu yang lebih murah?" Ranto menatap Martha, mencoba melakukan  penawaran. Melihat Martha yang terus diam, Ranto tiba-tiba menghela  nafas. "Coba kalau ito sudah kawin, enggak perlu aku mengeluarkan uang  untuk beli pelangkah lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang butuh pelangkah darimu? Kalau mau kawin, kawin saja sana,"  Martha meradang mendengar ucapan Ranto. Dengan penuh kemarahan Martha  beranjak ke dalam kamar tidur dan membanting pintu hingga bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebaris senyum samar tergantung di bibir Martha yang ranum. Senyuman  entah ditujukannya buat siapa. Pastinya, dia tengah merasakan  kebahagiaan dan kelegaan. Bertahun-tahun tak pernah lagi hinggap di  hatinya. Seusai prosesi hari ini, dirinya akan aman dari teror  ‘pelangkah.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaunnya yang hitam berkibar tertiup angin sepoi yang berhembus dari  jendela. Dengan langkah anggun dan tenang, dihampirinya Ranto. Ito-nya  yang terlihat tampan dalam balutan jas berwarna hitam, lengkap dengan  dasi beraksen garis. Martha mengamati tiap inchi wajah Ranto. Tampak  bersih, terlihat matang dan dewasa dengan segaris kumis tipis yang baru  tumbuh dan semakin tampan dengan sebuah senyum yang tak lupa  dihadiahkannya. Di sampingnya, Mamak dan Ros menitikkan airmata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martha terjaga dari lamunan ketika telinganya diterpa suara pendeta yang  lembut dan berwibawa. Setelah dengan khusuk menyanyikan sebuah lagu  yang dipimpin seorang penatua, Martha melihat beberapa pemuda berjalan  ke arah Ranto membawa sesuatu yang sejak tadi disandarkan di dinding.  Sekali lagi, Martha menyentuh bibir Ranto yang dingin sebelum dia  beringsut dan memberikan ruang kepada sekelompok pemuda itu untuk  menutup peti jenazah Ranto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martha memeluk Mamak dan Ros yang masih menangis histeris. Peti tempat  peristirahatan Ranto aman di bawah tanah. Martha masih berdiri di ujung  pusara Ranto ketika Mamak dan Ros dituntun para kerabat menuju mobil.  Perlahan, Martha merogoh tas tangannya dan jemarinya mengelus lembut  sebuah botol kecil yang telah kosong. Botol itu dibawanya dari tempat  prakteknya beberapa hari lalu. Semua cairan arsenik di dalamnya telah  habis dituangkan Martha ke dalam mangkuk soto yang dilahap Ranto hingga  tandas kemarin sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat beristirahat, ito-ku. Mulai sekarang kau tak perlu pusing lagi  memikirkan pelangkah untukku," Martha tersenyum, sembari melangkah  ringan menyusul Mamak dan Ros yang berada di dalam mobil. Tak lupa,  Martha melemparkan botol kosong itu ke dalam sebuah tong sampah yang  menganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Medan, 03 Mei 2011&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber: Harian Analisa, 31 Juli 2011 &lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8886436507105873588-5436318937969223162?l=harangan-sitora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/feeds/5436318937969223162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8886436507105873588&amp;postID=5436318937969223162&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/5436318937969223162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8886436507105873588/posts/default/5436318937969223162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://harangan-sitora.blogspot.com/2011/08/pelangkah.html' title='Pelangkah'/><author><name>Biografi: Menulis Fakta Memberi Makna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08445536286833357495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_cRRjyKFlmjs/TOwTHEqQ0CI/AAAAAAAAAJg/AWWRxXHleVI/S220/IMG_7185.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8886436507105873588.post-5976227549162663385</id><published>2011-07-18T12:39:00.002+07:00</published><updated>2011-07-18T12:41:30.521+07:00</updated><title type='text'>PM Perempuan Pertama di Thailand Yingluck Shinawatra</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;h2 class="uiHeaderTitle"&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clearfix"&gt;&lt;div class="mbs uiHeaderSubTitle lfloat fsm fwn fcg"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Oleh : Jannerson Girsang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak   memenangkan pemilu 3 Juli 2011 lalu, sosok Yingluck   Shinawatra—perempuan Thailand berusia 44 tahun itu sontak menjadi pusat   perhatian dunia. Kemenangannya dalam pemilu tersebut menghantarnya   menjadi perdana menteri perempuan pertama di negeri Gajah Putih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yingluck  Shinawatra sebelumnya hanya dikenal dalam dunia bisnis. Kini  dia  berhasil menambah panjang daftar perempuan ASEAN menjabat kepala   negara, dan mengisi kekosongan setelah masa jabatan presiden Arroyo,   presiden pilipina berakhir 2010 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dari Bisnis ke Politik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga   awal tahun ini, nama Yingluck Shinawatra tidak begitu dikenal bahkan  di  dunia politik Thailand sendiri. Namanya merebak ketika Partai Pheu   Thailand (Pheu Thai Party) mencalonkannya menjadi Perdana Menteri Mei   2011 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan berwajah menarik ini memperoleh  pendidikan  di bidang Administrasi Publik yang diperolehnya di dua  univeritas: gelar  sarjana muda dari Chiang Mai University pada 1988 dan  master dari  Kentucky State University, Amerika Serikat pada 1991. Dia  mengawali  kariernya sebagai seorang sales dan marketing di Shinawatra  Directories  Co., Ltd., sebuah perusahaan direktori telepon yang  didirikan AT&amp;amp;T  International. Catatan lengkap kariernya bisnisnya  bisa dilihat di http://investing.businessweek.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada   1994, Yingluck menjabat general manager Rainbow Media, anak perusahaan   International Broadcasting Corporation (yang di kemudian hari menjadi   TrueVisions).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangungjawab Yingluck lebih besar lagi dalam   perusahaan keluarga setelah abangnya Thaksin terjun ke politik,  setelah  terpilih menjadi anggota parlemen pada 1994. Pada 2001, Thaksin  terpilih  menjadi perdana menteri Thailand. Yingluck meninggalkan  jabatannya  sebagai Deputy CEO IBC pada 2002, dan menjabat CEO Advanced  Info Service  (AIS), operator telepon genggam terbesar di Thailand.  Sesudah penjualan  Shin Corporation (induk perusahaan AIS) ke Temasek  Holdings, Yingluck  mengundurkan diri dari AIS, tetapi masih menjabat  Managing Director SC  Asset Co Ltd, perusahaan pengembangan property  keluarga Shinawatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  2006, krisis politik melanda  negaranya. Abangnya Taksin Shinawatra  diadili secara in absentia dengan  tuduhan korupsi. Thaksin melarikan  diri ke luar negeri (Kini berdiam  di Abu Dhabi). Partai Kekuatan Rakyat  (People Power Party)—partai  pendukung Taksin, dibubarkan dan dewan  eksekutif dilarang dari kegiatan  politik oleh Mahkamah Konstitusi, pada 2  Desember 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas,  mantan mayoritas anggota parlemen dari  Partai Kekuatan Rakyat  bergabung dengan Pheu Thai Party yang didirikan  pada 20 September 2008,  beberapa bulan sebelum pelarangan itu  dikeluarkan pemerintah yang  berkuasa.&lt;br /&gt;Sebelumnya, Yingluck tidak  berminat terjun di politik,  terutama karena kasus abangnya Thaksin. Tak  heran, ketika Pheu Thai  Party memintanya memimpin partai dia menolak,  menyatakan bahwa ia tidak  ingin menjadi Perdana Menteri dan ingin fokus  pada bisnis Akhirnya  Yongyuth Wichaidit, mantan anggota parlemen  Thailand, memimpin partai  baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut situs http://www.cbc.ca/new,  pada 2009,  Yingluck sudah disebut-sebut sebagai pewaris politik Thaksin  abangnya  kandungnya itu. Namun, situs itu mencatat: "Dia menunggu  sampai Mei  tahun ini untuk membuat lompatan ke dalam politik, dengan  sasaran  jabatan perdana menteri". Gayung bersambut!. Pada bulan Mei  2011, Pheu  Thai Party, partai yang dekat dengan Thaksin, mencalonkan  Yingluck  sebagai calon Perdana Menteri dalam pemilu 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yingluck   maju bertarung dalam Pemilu negeri itu pada 3 Juli 2011 dan memenangkan   265 kursi dari 500 kursi parlemen. Sementara, Partai Demokrat yang   berkuasa hanya mampu merebut 160 suara. Dengan tingkat partisipasi   65,99% (hampir 31 juta pemilih), partainya memenangkan lebih dari   setengah. kursi di parlemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi seperti ini adalah  kejadian  kedua, setelah pada tahun 2005 kemenangan lebih dari separuh  kursi di  parlemen oleh Partai Thaksin Thai Rak Thai. Berbagai komentar  muncul ke  permukaan.Mulai dari kedekatannya dengan abangnya Thaksin dan  juga  kemampuan dirinya. "There is no doubt that Yingluck Shinawatra  won this  election because she is Thaksin’s sister," kata Andrew Walker,  pengamat  politik Thailand dari Australian National University Canberra  kepada ABC  News.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor kedekatannya dengan abang  kandungnya tanpa didukung  kemampuannya sendiri kemenangan mustahil  diperoleh. Yingluck menawark
